Ditengah Penonaktifan Dirinya, Ridwan Yasin Sabet Gelar Doktor

Sekretaris Daerah Non Aktif Kabupaten Gorontalo Utara, Dr. Ridwan Yasin, SH., MH., saat mengikuti Ujian Tertutup Disertasi, di Gedung Pascasarjana, Jumat (30/07/2021).

HIMPUN.ID – Suasana haru meliputi ruang tempat digelarnya Ujian Tertutup Disertasi Program Doktor Administrasi Publik Pascasarjana Universitas Negeri Gorontalo (UNG), yang diikuti oleh Sekretaris Daerah Non Aktif Kabupaten Gorontalo Utara, Ridwan Yasin, Jumat (30/07/2021).

Betapa tidak, Sekretaris Daerah yang dinonaktifkan sementara pada akhir bulan Juni 2021 itu, dengan mengenakan setelan jas warna hitamnya, ia nampak gagah dan penuh semangat saat menyampaikan orasi ilmiah, di hadapan sejumlah Civitas dan Penguji Program Study Administrasi Kebijakan Publik Pascasarjana UNG.

Hadir dalam ujian tertutup disertasi Ridwan Yasin ini, Ketua Program Studi (Kaprodi) Dr. Yanti Aneta, M.Si., Promotor Prof. Dr. Asna Aneta, M.Si., Co-Promotor I Dr. Eduart Wolok, ST. MT., Co-Promotor II Dr. Osman Ilato, M.Pd., Wakil Direktur I Pascasarjana UNG Dr. Ir. Hasyim, M.Si. Penguji Eksternal Prof. Dr. Agus Sukristyanto, MS., Penguji Internal I Prof. Dr. Arifin Tahir, M.Si., dan Penguji Internal II Prof. Dr. Rauf A. Hatu, M.Si., serta undangan lainnya.

Disertasi Ridwan Yasin Sempat Diterbitkan Jurnal Internasional

Saat mengikuti ujian tertutup disertasi yang merupakan syarat untuk meraih gelar Doktor itu, Ridwan Yasin nampak seperti tak memiliki beban psikologi sama sekali, walau saat ini ia pun di sisi lain masih tengah menjalani ujian kehidupan dengan penonaktifan sementara dirinya, sebagai Sekretaris Daerah Kabupaten Gorontalo Utara.

Ridwan Yasin, usai menyampaikan orasi ilmiahnya, menjawab dengan mantab saat penguji eksternal Prof. Dr. Agus Sukristyanto, MS., menanyakan tentang keaslian dari materi disertasinya, yang berjudul “Pengaruh Penerapan Reformasi Birokrasi, Kompetensi Aparatur, dan Komitmen Organisasi Terhadap Kualitas Pelayanan Publik di Kabupaten Gorontalo Utara” itu.

Dari penyampaian jawabannya atas pertanyaan itu, diiketahui disertasi Ridwan Yasin tersebut, bahkan pernah diterbitkan oleh Jurnal Pendidikan Komputer dan Matematika Turki Universitas Teknik Karadeniz E-ISSN 1309-4653, pada tanggal 29 Mei 2021, dan berhasil menembus Scopus (Pangkalan data pustaka yang mengandung abstrak dan sitiran artikel jurnal akademik).

Disertasi itu pula, telah sempat ia sampaikan sebagai gagasannya pada acara Silaturahmi Nasional ke III yang digelar oleh Presidium Nasional (Presnas) belum lama ini, ketika ia terpilih dalam acara tersebut, menjadi salah satu dari 100 tokoh Gorontalo yang telah berkiprah dan berpengaruh di perantauan dan di Gorontalo.

Prinsip Ridwan Yasin dalam hal Menimba Ilmu

Soal prinsip dalam hal menimba ilmu, Panglima Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kabupaten Gorontalo Utara itu meyakini, bahwa ilmu merupakan kekayaan intelektual yang sangat berharga dan penting pada proses manusia menjadi manusia. Ilmu menurutnya juga, akan terbawa hingga ke dalam liang lahat. Sementara harta dan jabatan, hanya merupakan titipan sementara.

“Pentingnya ilmu itu, hingga Rasulullah menegaskan, ‘Jika seorang manusia mati, maka terputuslah darinya semua amalnya kecuali tiga hal; dari sedekah jariyah, atau ilmu yang diambil manfaatnya, atau anak shalih yang mendoakannya’. Itu hadist dari Abu Hurairah, yang diriwayatkan dalam riwayat muslim no. 1631. Jadi salah satu yang akan bisa dibawa mati itu ilmu, bukan harta apalagi jabatan,” ujarnya saat bincang-bincang dengan tim Himpun.id. (MYP/HP)

Advertisement