Pemimpin Harus Jujur

Apris Nawu
Apris Nawu

Oleh: Apris Mohamad Nawu
Bendahara Umum Ikatan Pelajar Nahdatul Ulama (IPNU) Cabang Bone Bolango

HIMPUN.ID, OPINI – Kejujuran adalah salah satu syarat mutlak seorang pemimpin.

Rasulullah SAW bersabda, “Tiada seorang yang diamanati oleh Allah memimpin rakyat kemudian ketika ia mati ia masih menipu atau membohongi rakyatnya, melainkan pasti Allah mengharamkan baginya surga” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Dalam hadis lain ditegaskan, kejujuran itu akan membawa pelakunya menuju surga.

Sebaliknya, kebohongan membawa pelakunya menuju ke neraka.

Nabi SAW bersabda, “Hendaklah kamu selalu jujur. Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebajikan dan kebajikan membawa ke surga. Selama seorang benar dan selalu memilih kejujuran dia tercatat di sisi Allah seorang yang jujur. Hati-hatilah terhadap dusta. Sesungguhnya dusta membawa kepada keburukan dan keburukan membawa kepada neraka. Selama seorang dusta dan selalu memilih dusta, dia tercatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta (pembohong)” (HR al-Bukhari).

Advertisement

Baca juga:Ingin Menjadi Bijaksana? Pelajari Kebiasaan Cerdas Ini!

Pemimpin yang jujur tidak hanya membawa dirinya sendiri kepada kebaikan, tetapi juga membawa rakyat yang kelak akan dipimpinnya pada kebaikan juga.

Tidak hanya itu, selama memimpin nanti ia akan mencintai rakyatnya, dan rakyatnya pun akan mencintainya. Hal itu terjadi karena rakyat percaya kepadanya sebagai pemimpin yang jujur, Allah pun mencatatnya sebagai orang yang jujur.

Sebaliknya, jika calon pemimpin tidak jujur, rakyat tidak akan mempercayainya, dan Allah pun mencatatnya sebagai orang yang tidak jujur.

Nabi SAW bersabda, “Pemimpin-pemimpin pilihan di antara kalian ialah orang-orang yang kalian mencintai mereka dan mereka pun mencintaimu kalian, juga yang kalian mendoakan kebaikan untuk mereka dan mereka pun mendoakan kebaikan untuk kalian. Adapun pemimpin-pemimpin yang jahat di antara kalian ialah orang-orang yang kalian tidak menyukai mereka dan mereka pun tidak menyukai kalian, juga yang kalian mencela mereka dan mereka pun mencela kalian” (HR Muslim).

Baca juga:Ingin Otak Anda Tetap Tajam? Ini Caranya!

Tokoh Ulama ada Buya Hamka yang bersikap jujur dan adil dalam masalah Natal bersama.

Demi kejujuran dan sikap adil dan berdasarkan ilmunya dia berani melepas jabatannya sebagai ketua MUI. Dia tidak mencari muka pada penguasa dan menjual agama untuk memenangkan ambisinya. Dia jujur.

Dari tokoh nasional Mohammad Hatta yang mengembalikan kelebihan uang kesehatan kepada negara yang menjadi haknya karena negara sedang tidak ada dana, meski ia berada dalam keadaan kekurangan.

Sikap amanah dan adil Kasman Singodimedjo juga dapat dipahami dari penyataannya bahwa “Hidup itu berjuang, jika hidup kehilangan makna, maka hidup itu sia-sia”.

Kepada masyarakat, khususnya umat Islam, saya pesankan agar bersikap jujur dalam segala sesuatu.

Dalam al-Qur’an diingatkan bahwa berkata benar dan jujur tentang kebaikan akan mengakibatkan kemudahan (faammā man a’ṭhā wattaqqā wa ṣaddaqa bil husnā fasanuyassiruhū lil yusrā).

Baca juga:Menkes BGS Himbau Masyarakat Tetap Waspada Varian Baru Covid-19

Dalam pepatah Arab disebutkan al-Ṣarāḥah rāhah yang berarti kejujuran dalam perkataan adalah kelapangan hati, artinya jika Anda berkata jujur maka hal itu dapat membebaskan diri dari tekanan mental.**

Catatan : Tulisan ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis

(Info: himpun.id menerima kontribusi tulisan dengan berbagai tema. Rubrik tulisan yang dapat di kirim yakni Opini, Resensi, Cerpen, dan Puisi)

 

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini