Example floating
Example floating
Resensi

Bertumbuh Tanpa Perlu Terburu-Buru

0
×

Bertumbuh Tanpa Perlu Terburu-Buru

Sebarkan artikel ini
(Foto: Ilustrasi).

Oleh: Desta Alfina Khusniyah
Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang Program Studi S1 Farmasi

Judul Buku: Slow Living: Hidup Bukanlah Pelarian, tapi Perjalanan
Penulis: Sabrina Ara
Penerbit: Syalmahat Publishing
Tahun Terbit: 2023
Tebal Halaman: 116 halaman
Genre: Pengembangan Diri dan Motivasi

HIMPUN.ID – Kehidupan di zaman sekarang sering kali memaksa individu untuk berlari sekuat tenaga demi meraih keberhasilan. Banyak orang berusaha sekuat tenaga untuk meraih prestasi tertinggi, menyelesaikan pendidikan pada waktu yang tepat, mendapatkan pekerjaan idaman, dan memenuhi tolok ukur sukses yang ditentukan oleh orang-orang di sekitar mereka. Hal ini menyebabkan individu kerap kehilangan waktu yang berharga, merasa lelah, bahkan melupakan bagaimana menikmati hidup yang sedang dijalani. Isu ini menjadi gagasan sentral dalam buku Slow Living: Hidup Bukanlah Pelarian, tapi Perjalanan yang ditulis oleh Sabrina Ara. Dalam karya ini, penulis mengajak para pembaca untuk memahami bahwa hidup dengan cepat tidak selalu sesuai bagi semua orang, dan melambat bukan berarti berhenti atau menyerah, melainkan belajar menjalani hidup sesuai dengan kemampuan dan tempo masing-masing. Dengan demikian, buku ini sangat relevan bagi mahasiswa dan masyarakat pada umumnya agar tidak terus menerus membandingkan pencapaian pribadi dengan orang lain, tetapi dapat menghargai setiap proses dan menikmati perjalanan hidup dengan lebih tenang.

Buku Slow Living: Hidup Bukanlah Pelarian, tapi Perjalanan menekankan pentingnya menjalani kehidupan dengan lebih tenang di tengah masyarakat yang terjebak dalam kecepatan. Penulis mendorong pembaca untuk mempertanyakan anggapan bahwa kesibukan identik dengan produktivitas. Sebenarnya, terlalu banyak aktivitas tanpa memberi kuota waktu untuk diri sendiri bisa menyebabkan ketidakseimbangan hidup. Melalui pemikiran slow living, pembaca diharapkan mampu mengatur ritme hidup dengan lebih bijak, bukan hanya memperlambat segala hal, tetapi juga menetapkan apa yang benar-benar penting.

Isi buku ini terbagi dalam beberapa bab yang saling terhubung. Di bagian awal, penulis menekankan perilaku manusia yang merasa harus menyelesaikan banyak hal dalam waktu singkat. Kehidupan yang penuh tekanan dan gangguan sering menghampiri, sehingga sulit untuk fokus dan menikmati setiap momen. Selanjutnya, pembaca akan dikenalkan pada ide tentang gaya hidup melambat sebagai sarana untuk menciptakan hubungan yang lebih baik dengan diri sendiri dan lingkungan.
Satu topik yang menonjol adalah pentingnya menerima takdir dan situasi. Penulis mengajak pembaca untuk berhenti saling menyalahkan, baik pada diri sendiri, orang lain, ataupun situasi ketika keadaan tak sesuai harapan. Setiap individu memiliki perjalanan uniknya sendiri, jadi pencapaian orang lain seharusnya tidak menjadi tolok ukur untuk menilai kesuksesan diri. Pemikiran ini sangat relevan bagi mahasiswa yang kadang merasa tertinggal saat melihat teman-temannya meraih prestasi atau tujuan lebih cepat.

Buku ini mengeksplorasi berbagai kondisi yang sering dilihat sebagai keterlambatan dalam hidup, seperti belum lulus tepat waktu, belum mendapatkan pekerjaan impian, atau tidak berhasil dengan ukuran kesuksesan orang lain, serta belum dapat bangkit dari patah hati. Pembaca diingatkan bahwa keterlambatan dalam meraih sebuah tujuan bukanlah tanda kegagalan dalam hidup. Setiap individu memerlukan waktu berbeda untuk belajar, tumbuh, dan memperbaiki kondisi dirinya.

Keunggulan dari buku ini terletak pada temanya yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Bahasa yang digunakan dan penyampaian gagasannya cukup jelas sehingga pesan tentang menghargai proses bisa dipahami oleh berbagai kalangan. Susunan babnya juga memudahkan pembaca mengikuti pemikiran dari masalah kehidupan yang terlalu cepat, pentingnya menerima kenyataan, sampai pada bagaimana menikmati setiap fase kehidupan. Saya percaya, kekuatan utama buku ini adalah pengingat bahwa berhenti sejenak tidak berarti menyerah. Waktu jeda dapat dijadikan peluang untuk mengembalikan energi dan kembali menghadapi tanggung jawab dengan penuh fokus.

Beberapa aspek dalam buku ini yang bisa dipertimbangkan lebih lanjut. Tema tentang menerima proses, melambat, dan menikmati hidup sangat berkaitan satu sama lain, sehingga beberapa poin mungkin terasa repetitif bagi segelintir pembaca. Selain itu, bagi mereka yang menginginkan pedoman praktis yang lebih mendetail, mungkin akan mengharapkan lebih banyak contoh kegiatan atau langkah konkret untuk mengaplikasikan slow living dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun demikian, hal tersebut tidak mengurangi esensi penting dari buku ini sebagai bahan refleksi. Pemahaman tentang melambat juga harus jelas, bahwa konsep ini bukan untuk menghindari tanggung jawab, tetapi untuk menjalani tanggung jawab dengan lebih sadar dan seimbang.

Secara keseluruhan, karya Sabrina Ara yang berjudul Slow Living: Hidup Bukanlah Pelarian, tapi Perjalanan adalah sebuah buku self-help yang sangat direkomendasikan untuk dibaca. Inti yang saya ambil dari buku ini adalah bahwa sukses tidak hanya diukur dari cepatnya seseorang mencapai tujuan, tetapi juga bagaimana cara dia menikmati proses tersebut. Buku ini cocok untuk kalangan remaja, terutama mahasiswa, serta orang dewasa yang sering merasakan tekanan akibat tuntutan hidup, membandingkan pencapaian diri dengan orang lain, atau merasa ketinggalan dalam mencapai target. Alasan utama adalah buku ini mendorong pembaca untuk menerima kenyataan, menghargai setiap langkah yang diambil, dan menyadari bahwa masing-masing individu memiliki waktu dan perjalanan yang berbeda.
Saya percaya bahwa buku ini memberikan pengingat penting bahwa beristirahat sejenak tidak berarti kita menyerah, tetapi merupakan kesempatan untuk menyegarkan diri dan melanjutkan usaha dengan lebih efektif. Oleh karena itu, buku ini sangat layak untuk dibaca oleh siapa saja yang ingin hidup dengan cara yang lebih tenang, seimbang, dan bermakna tanpa kehilangan keinginan untuk berkembang.keinginan untuk berkembang.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *