HIMPUN.ID – Pemerintah Kabupaten Gorontalo Utara (Gorut) terus melangkah maju dalam mewujudkan target sebagai daerah produsen buah pada tahun 2030. Langkah tersebut diakselerasi melalui penjajakan sinergi dan kolaborasi lintas sektor bersama Kementerian Kehutanan Republik Indonesia (Kemenhut RI).
Upaya strategis ini ditandai dengan audiensi yang diwakili oleh Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Gorontalo Utara, Asrin U. Menu, bersama jajaran pejabat Kemenhut RI di Jakarta, Senin 31 Agustus 2026.
Audiensi tersebut berfokus pada penguatan program Penanaman Satu Juta Pohon Buah Menuju Gorontalo Utara Produsen Buah 2030 (G-30 PB) yang merupakan bagian dari implementasi Gerakan Agro Mopomulo (GAM). Program ini dirancang bukan sekadar untuk meningkatkan ketersediaan komoditas lokal, melainkan sebagai fondasi transformasi ekonomi hijau daerah.

Melalui sinergi ini, Pemkab Gorut mendorong peluang kerja sama dengan Kemenhut RI, khususnya pada penyediaan bibit buah berkualitas, rehabilitasi hutan dan lahan, penghijauan kawasan kritis, serta penguatan program Perhutanan Sosial untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Salah satu yang menjadi spirit yang digagas Pemkab Gorut, “Program G-30 PB bukan sekadar gerakan menanam pohon, tetapi bagaimana pohon yang ditanam hari ini dapat menjadi investasi lingkungan sekaligus investasi ekonomi masyarakat Gorontalo Utara di masa depan,”.
Delegasi Kemenhut RI yang hadir dalam pertemuan tersebut di antaranya Sekretaris Ditjen Pengelolaan DAS dan Rehabilitasi Hutan Dr. Muhammad Zainal Arifin, Direktur Penghijauan dan Perbenihan Tanaman Hutan Bagus Novianto, Kasubdit Evaluasi Pengelolaan DAS Ari Prayitno, Kasubdit Perbenihan Tanaman Hutan Junediyono, Kabag Program, Evaluasi, Hukum dan Kerja Sama Teknik Nur Azis, serta Kasubdit Kelembagaan Usaha Perhutanan Sosial Wahyu Trimurti.
Melalui kolaborasi multipihak ini, Pemkab Gorut optimistis Gerakan Agro Mopomulo dan G-30 PB mampu menjaga kelestarian lingkungan, memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan produktivitas lahan, sekaligus menciptakan sumber pendapatan baru bagi masyarakat menuju Gorut yang berdaya saing di tahun 2030.
Editor: Fadli Sukriani Melu















