HIMPUN.ID – Koordinator Presidium Majelis Wilayah (MW) Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Gorontalo yang juga Bupati Gorontalo Utara, Thariq Modanggu, mendorong kembalinya tradisi kajian intelektual di kalangan kader HMI melalui pembahasan isu-isu keislaman dan keindonesiaan.
Gagasan tersebut diwujudkan melalui program Diskusi Bulanan Seri 01 MW KAHMI Gorontalo yang menghadirkan Direktur Pengkajian Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Prof. Dr. Mohd. Sabri AR, M.A., sebagai narasumber utama.
Dalam arahannya, Thariq Modanggu mengutip kembali pesan prinsip kepemimpinan yang menekankan pembentukan reputasi positif serta kontribusi bermakna bagi seorang pemimpin.
“Saya mengingat pesan dari Kanda Sabri ketika itu. Kalau ingin menjadi pemimpin, ciptakan citra diri positif dan ciptakan ketergantungan,” ungkap Thariq Modanggu dalam kegiatan di GRAHA KAHMI, Rabu 21 Oktober 2026.
Thariq Modanggu kemudian menambahkan, peningkatan kapasitas pribadi serta pembangunan karakter yang kuat merupakan fondasi utama dalam dunia kepemimpinan.
“Harus membangun jati diri yang baik dan mengembangkan kemampuan,” menjadi modal penting dalam mengarungi perjalanan seorang pemimpin,” tambah Thariq Modanggu.

Tokoh Alumni HmI yang dikenal dengan gagasan akademik itu juga mengapresiasi kehadiran Direktur Pengkajian BPIP tersebut dan menilai gagasan ilmiah dari Prof. Mohd. Sabri AR sangat dibutuhkan untuk mencerahkan iklim akademis serta memisahkan diskusi kebangsaan dari kepentingan politik praktis.
Sementara itu, dalam pemaparannya Prof. Dr. Mohd. Sabri AR, M.A., menekankan dua pilar utama bagi umat manusia dalam meraih kemuliaan di hadapan Sang Pencipta.
“Hanya ada dua cara mengharap kemuliaan Allah ketakwaan dan membaca,” tutur Sabri.
Sabri juga menjelaskan, pentingnya mentransformasikan Pancasila dari sekadar pandangan hidup menjadi sebuah kerangka berpikir ilmiah yang berbobot.
“Ketika Pancasila menjadi ideologi, harus didorong jadi epistemologi. Harus memberikan bobot nilai. Makannya harus dicetuskan bahwa Pancasila sebagai paradigma ilmu,” tambah Sabri.
Mengenai hubungan antara agama dan negara, Sabri menegaskan, ajaran Islam sejak awal telah menjadi fondasi utama yang menopang dan menguatkan rasa nasionalisme di Indonesia.
“Islam adalah proto-nasionalisme yang mendorong gagasan keindonesiaan. Jadi, Islam itu tidak anti kebangsaan,” ujar Sabri.
Lebih lanjut, Sabri mengusulkan adanya pembaruan serta rekonstruksi terhadap dokumen Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI agar mampu merespons tantangan zaman seperti isu kesetaraan, spiritualitas, dan hubungan antarumat beragama yang diinisiasi dari Gorontalo.
“Spiritualitas, Lintas Iman, Gender Mainstream, Relasi Lintas Iman. Gagasan ini harus dimasukan dalam NDP yang disampaikan dalam kongres. Maka kajiannya, kita mulai dari Gorontalo,” ungkap Sabri.
Sebagai penutup, Sabri menggarisbawahi pentingnya menyelaraskan nilai-nilai keagamaan dengan kearifan budaya lokal da membangun narasi kebangsaan.
“Hikmah dan kebijaksanaan merupakan pesan yang menggambarkan narasi agama dan narasi kearifan lokal,” tutup Sabri.
Kegiatan diskusi bulanan tersebut berlangsung dinamis dengan antusiasme para alumni dan kader HMI yang turut memberikan berbagai pandangan serta pertanyaan. Momentum kajian yang penuh hikmah, diakhiri dengan foto bersama.
Editor: Fadli Sukriani MeluÂ














