Heri Isnaini
HIMPUN.ID – Pembelajaran bahasa dan sastra kerap ditempatkan dalam dua ruang yang berbeda, yaitu bahasa sebagai keterampilan yang harus dikuasai dan sastra sebagai karya yang perlu diapresiasi. Yang satu dikejar ketepatannya, yang lain dinikmati keindahannya. Namun, pemisahan semacam ini sering kali melahirkan paradoks. Siswa mampu berbahasa dengan benar, tetapi miskin rasa atau sebaliknya, mampu menikmati sastra, tetapi kesulitan mengungkapkan pemahamannya secara terstruktur.
Di sinilah pentingnya menyusun pembelajaran bahasa dan sastra secara integratif, sebuah pendekatan yang tidak hanya mempertemukan keduanya, tetapi juga menyadari bahwa bahasa dan sastra pada dasarnya tumbuh dari akar yang sama, yakni pengalaman manusia. Dalam perspektif Lev Vygotsky (1896–1934), bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan instrumen utama pembentukan pikiran (language as a tool of thought). Artinya, ketika siswa belajar bahasa, sesungguhnya ia sedang membangun cara berpikirnya sendiri. Sementara itu, sastra menjadi ruang tempat pikiran itu diuji, dipertanyakan, dan diperdalam melalui pengalaman imajinatif.
Ketika bahasa diajarkan tanpa sastra, ia berisiko menjadi kering dan mekanis. Siswa belajar tentang struktur kalimat, kaidah kebahasaan, dan ketepatan diksi, tetapi tidak selalu memahami bagaimana bahasa itu bekerja dalam kehidupan nyata yang penuh nuansa. Dalam kerangka Michael Halliday (1925–2018), bahasa sejatinya adalah social semiotic, sistem makna yang hidup dalam konteks sosial. Tanpa konteks, tanpa pengalaman, bahasa kehilangan daya hidupnya.
Sebaliknya, ketika sastra diajarkan tanpa fondasi bahasa yang memadai, ia dapat terasa jauh dan sulit dijangkau. Siswa mungkin merasakan keindahan sebuah puisi atau kedalaman sebuah cerpen, tetapi kesulitan mengartikulasikan pengalaman tersebut. Di titik ini, gagasan Roman Jakobson (1896–1982) menjadi relevan, bahwa fungsi puitik bahasa bekerja melalui penyimpangan, pengulangan, dan permainan bentuk. Tanpa pemahaman terhadap mekanisme bahasa, keindahan itu hanya terasa, tetapi tidak sepenuhnya dipahami.
Pendekatan integratif menawarkan jalan lain. Dalam pembelajaran semacam ini, bahasa dan sastra saling menghidupi. Ketika siswa membaca cerpen, ia tidak hanya memahami alur dan tokoh, tetapi juga menyerap bagaimana kalimat membangun nuansa, bagaimana pilihan kata menciptakan suasana, dan bagaimana struktur bahasa membentuk makna. Sebaliknya, ketika siswa belajar menulis, pengalaman membaca sastra memperkaya ekspresinya sehingga membuat tulisannya lebih hangat, lebih peka, dan lebih manusiawi.
Puisi-puisi Sapardi Djoko Damono (1940–2020) dapat menjadi contoh yang sederhana sekaligus mendalam. Dalam kesederhanaan bahasanya, tersembunyi kompleksitas makna yang mengajak pembaca untuk tidak sekadar memahami, tetapi juga merasakannya. Di sini kita bisa mengingat pemikiran Louise Rosenblatt (1904–2005) tentang transactional theory, yakni membaca adalah peristiwa pertemuan antara teks dan pembaca. Makna tidak semata-mata berada dalam teks, tetapi lahir dari interaksi yang hidup antara keduanya.
Lebih jauh lagi, pembelajaran integratif ini membentuk kesadaran reflektif. Siswa tidak hanya dilatih untuk berbicara dengan benar, tetapi juga dengan makna. Ia tidak hanya menulis untuk memenuhi tugas, tetapi untuk menyatakan pengalaman. Dalam istilah Paulo Freire  (1921–1997), pendidikan semacam ini bersifat dialogis yang membebaskan, bukan mengekang, tetapi membuka kemungkinan sehingga bukan menutupnya dengan jawaban tunggal.
Dalam konteks ini, peran guru menjadi sangat krusial. Guru tidak lagi sekadar penyampai materi, melainkan perancang pengalaman belajar. Ia menghadirkan teks sebagai ruang dialog, bukan objek hafalan. Ia memberi kesempatan bagi siswa untuk menafsir, meragukan, dan menemukan makna secara personal. Pembelajaran tidak lagi berjalan satu arah, tetapi menjadi proses yang hidup dan dinamis.
Pada akhirnya, menyusun pembelajaran bahasa dan sastra secara integratif adalah upaya untuk mengembalikan keduanya kepada hakikatnya yang hakiki. Bahasa memberi bentuk, sastra memberi jiwa. Dan ketika keduanya dipertemukan dalam pembelajaran yang utuh, yang lahir bukan hanya kemampuan berbahasa, melainkan juga kedalaman berpikir dan kepekaan rasa.
Sebab pada titik tertentu, kita tidak lagi sekadar belajar bagaimana menggunakan bahasa, tetapi mulai memahami bagaimana bahasa itu membentuk cara kita menjadi manusia. Dan mungkin, seperti yang diam-diam diajarkan oleh sastra, menjadi manusia bukanlah soal seberapa banyak kita tahu, melainkan seberapa dalam kita mampu memberi makna pada peristiwa yang kita alami.
Bandung, 3 April 2026
Bionarasi Penulis
Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Ia lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak.














