Example floating
Example floating
OPINI

Sastra sebagai Jalan Mindful, Meaningful, dan Joyful Learning

0
×

Sastra sebagai Jalan Mindful, Meaningful, dan Joyful Learning

Sebarkan artikel ini
(Foto: Ilustrasi AI).

Heri Isnaini

HIMPUN.ID Di ruang-ruang kelas hari ini, kita menyaksikan sesuatu yang ganjil. Mahasiswa mampu menjawab dengan cepat, tetapi terdiam ketika ditanya mengapa jawaban itu penting bagi hidup mereka. Mereka membaca sambil berpindah layar, mendengarkan tanpa benar-benar menyimak. Yang bergerak hanya tubuhnya, sementara pikirannya melayang entah ke mana. Kita menyebutnya distraksi, seolah ia sekadar gangguan. Padahal, ini adalah gejala yang lebih sunyi dan lebih dalam, yakni krisis kesadaran.

Di tengah situasi ini, pendidikan menawarkan konsep deep learning sebagai jalan keluar. Sebuah pendekatan yang tidak lagi menekankan hafalan, tetapi pemahaman yang mendalam, reflektif, dan kontekstual. Ia berbicara tentang belajar yang mindful, meaningful, dan joyful. Namun, diam-diam kita perlu bertanya, “Apakah kedalaman bisa dicapai hanya dengan metode, tanpa menyentuh rasa?”

Sastra, dalam diamnya, telah lama menjawab pertanyaan itu. Puisi, misalnya, mengajarkan kita untuk hadir. Sesuatu yang tampak sederhana, tetapi justru semakin sulit di tengah dunia yang tergesa. Ia tidak bisa dibaca dengan tergesa-gesa. Setiap larik mengajak kita berhenti sejenak, menarik napas, dan memberi ruang bagi makna untuk tumbuh perlahan. Di tengah dunia yang bergerak cepat, puisi menjadi bentuk perlawanan yang sunyi. Ia menolak kecepatan dan justru karena itu, ia menghidupkan kesadaran.

Membaca puisi bukan sekadar aktivitas estetis, tetapi latihan perhatian. Ia melatih kita untuk tidak hanya melihat, tetapi mengamati, tidak hanya mendengar, tetapi menyimak. Dalam konteks mindful learning, pengalaman ini menjadi sangat penting. Ketika mahasiswa membaca puisi dan tiba-tiba terdiam, sesungguhnya ia sedang mengalami momen kehadiran yang utuh, yakni sebuah jeda dari dunia yang terus menuntut kecepatan.

Namun, kehadiran saja tidak cukup. Belajar juga harus bermakna. Di sinilah cerita menemukan perannya. Cerita pendek, dengan segala kesederhanaannya, memungkinkan kita mengalami sesuatu yang tidak kita alami sendiri. Kita bisa memahami kehilangan tanpa benar-benar kehilangan, merasakan ketakutan tanpa berada dalam bahaya, atau mengenal rindu tanpa harus berpisah. Dalam beberapa halaman, kita memasuki kehidupan orang lain dan keluar dengan kesadaran yang baru.

Cerpen bekerja bukan dengan menjelaskan, tetapi dengan menghadirkan. Ia tidak memberikan makna secara langsung, melainkan mengundang pembaca untuk membangunnya sendiri. Ketika mahasiswa terhubung dengan sebuah cerita, mereka tidak hanya memahami konsep, tetapi juga merasakan kompleksitasnya. Mereka belajar bahwa hidup tidak selalu hitam-putih, bahwa keputusan sering kali lahir dari wilayah yang tidak pasti.

Inilah inti dari meaningful learning, yaitu pengetahuan yang berakar pada pengalaman, bukan sekadar informasi. Namun, sayangnya, dalam banyak ruang kelas, cerita justru diperlakukan sebagai bahan ujian. Pertanyaan yang diajukan bukan “Apa yang kamu rasakan?”, tetapi “Apa tema cerita ini?”. Makna direduksi menjadi jawaban, padahal ia seharusnya menjadi perjalanan.

Jika puisi mengajarkan kehadiran dan cerita menghadirkan makna, membaca, dalam pengertian yang lebih luas, membuka jalan menuju kegembiraan. Akan tetapi, kegembiraan yang dimaksud di sini bukanlah keriuhan. Ia bukan tawa yang meledak, melainkan ketenangan yang diam-diam menghidupkan. Ada rasa lega ketika seseorang menemukan kalimat yang terasa “mengerti dirinya”. Ada keharuan ketika sebuah teks mampu mengungkapkan sesuatu yang selama ini tidak mampu ia katakan.

Membaca, dalam pengertian ini, adalah perjumpaan. Perjumpaan antara diri dan teks, antara pengalaman pribadi dan pengalaman orang lain, antara yang diketahui dan yang dirasakan. Dalam perjumpaan itu, belajar tidak lagi menjadi kewajiban, tetapi kebutuhan. Ia tidak lagi terasa berat, karena dijalani dengan keterlibatan yang utuh.

Namun, sekali lagi, pendidikan sering kali kehilangan dimensi ini. Membaca direduksi menjadi aktivitas mekanis. Buku menjadi alat untuk menjawab soal, bukan ruang untuk mengalami. Akibatnya, kegembiraan yang seharusnya lahir justru menghilang.

Jika kita ingin menghadirkan joyful learning, kita perlu mengembalikan makna membaca itu sendiri. Membaca bukan sekadar mencari informasi, tetapi membuka diri terhadap pengalaman. Ia tidak hanya aktivitas kognitif, tetapi juga emosional, bahkan spiritual.

Maka, mengaitkan sastra dengan deep learning bukanlah upaya untuk memperindah pembelajaran, melainkan untuk mengembalikan kedalamannya. Puisi mengajarkan kita untuk hadir. Cerita membantu kita membangun makna. Membaca membuka jalan menuju kegembiraan. Ketiganya bukan pelengkap, tetapi inti dari proses belajar yang utuh.

Di ruang kelas yang memberi tempat bagi sastra, mahasiswa tidak hanya belajar untuk mengetahui, tetapi juga untuk memahami dirinya sendiri. Mereka tidak hanya diajak untuk berpikir, tetapi juga untuk merasakan. Dan mungkin, di situlah pendidikan menemukan kembali hakikatnya bukan sekadar membentuk individu yang cerdas, tetapi manusia yang utuh.

Pada akhirnya, di tengah dunia yang semakin terburu-buru, sastra mengajarkan kita satu hal yang sederhana tetapi mendasar bahwa belajar tidak selalu tentang bergerak cepat, tetapi tentang berani berhenti, yakni untuk hadir, untuk memahami, dan untuk merasakan.

Bandung, 26 Maret 2026

Bionarasi Penulis

Heri Isnaini, Dosen Sastra IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Lahir di Subang, Jawa Barat, pada tanggal 17 Juni. Heri sangat menyukai sastra dan kajian atasnya. Tulisan-tulisannya sudah dimuat dalam berbagai media massa daring maupun cetak.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *