Penulis : Kakankemenag Kota Gorontalo, Dr. Misnawaty S. Nuna, M.H.
HIMPUN.ID – Hari ini, jutaan manusia dari seluruh penjuru bumi berkumpul di tempat yang sama: Padang Arofah.
Di bawah terik matahari yang sama, mereka berdiri, bersujud, dan menangis tanpa memedulikan asal-usul negara, warna kulit, maupun isi dompet mereka.
Momentum Wukuf hari ini bukan sekadar ritual ibadah, tetapi lebih dari itu, adalah sebuah proklamasi kemanusiaan terbesar yang menegaskan bahwa di hadapan Allah, semua manusia setara.
Dunia hari ini sedang dicabik-cabik oleh polarisasi. Sekat-sekat kelas ekonomi memisahkan yang kaya dan yang miskin, sementara isu rasisme serta geopolitik terus menciptakan dinding tebal antar-bangsa.
Manusia modern sering kali dinilai dari merek pakaian yang mereka kenakan, jabatan di kartu nama, atau paspor yang mereka miliki.
Namun, tepat pada hari ini, pemandangan kontras yang luar biasa terjadi di Padang Arofah.
Jutaan umat Muslim dari berbagai belahan dunia berkumpul untuk melaksanakan puncak ibadah haji, yaitu Wukuf.
Di tempat ini, seluruh atribut duniawi ditanggalkan. Tidak ada setelan jas mewah, tidak ada tanda pangkat, dan tidak ada sekat pemisah. Arofah menjelma menjadi sebuah miniatur dunia ideal sebuah ruang waktu di mana ego manusia dilebur dan kesetaraan mutlak ditegakkan.
Pakaian Ihram: Simbol Runtuhnya Kasta Sosial
Keindahan terbesar dari Wukuf di Arofah dimulai dari keseragaman pakaian mereka. Semua jemaah laki-laki mengenakan dua lembar kain putih tanpa jahitan yang disebut kain ihram.
Seorang raja, presiden, miliarder, petani, buruh, hingga tunaaksara, semuanya mengenakan pakaian yang persis sama.
Di Arofah, kelas sosial runtuh seketika. Tidak ada fasilitas “VIP” dalam pandangan Allah yang membuat doa seorang penguasa lebih didengar daripada doa seorang fakir miskin.
Praktik ini secara langsung merefleksikan firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 13:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu.”
Ayat ini menjadi dasar teologis bahwa perbedaan ras, suku, dan bangsa diciptakan bukan untuk saling merendahkan atau menjajah, melainkan untuk saling membangun harmoni dan mengenal satu sama lain.
Khutbah Wukuf: Manifesto Hak Asasi Manusia Pertama
Sentimen rasial dan kesukuan yang hari ini masih menjadi pemicu konflik global, sebenarnya telah dihapuskan secara tegas oleh Nabi Muhammad SAW di tempat yang sama.
Pada momen Haji Wada’ (haji perpisahan) di Padang Arofah, Rasulullah SAW menyampaikan khutbah bersejarah yang menjadi manifesto Hak Asasi Manusia (HAM) pertama di dunia.
Dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Rasulullah SAW bersabda:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أَلَا إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ، وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ، أَلَا لَا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى أَعْجَمِيٍّ، وَلَا لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ، وَلَا لِأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ، وَلَا أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ إِلَّا بِالتَّقْوَى
“Wahai manusia, ketahuilah bahwa Tuhan kalian adalah Satu, dan bapak kalian adalah satu (Adam). Ingatlah, tidak ada kelebihan bagi orang Arab atas orang non-Arab (‘Ajam), tidak pula orang non-Arab atas orang Arab. Tidak ada kelebihan bagi orang berkulit merah (putih) atas orang berkulit hitam, dan tidak pula orang berkulit hitam atas orang berkulit merah, kecuali karena ketakwaannya.” (HR. Ahmad).
Pesan yang dikumandangkan di Arofah berabad-abad lalu ini sangat kontekstual dengan krisis kemanusiaan hari ini.
Arofah mengajarkan bahwa diskriminasi berbasis warna kulit (rasisme) dan asal-usul kebangsaan adalah sebuah kemunduran berpikir yang melanggar esensi penciptaan manusia.
Membawa Semangat Arofah ke Kehidupan Nyata
Hari Arofah adalah hari pengampunan doa dan pembebasan dari api neraka. Lebih dari itu, hari ini adalah momentum refleksi diri bagi kita yang tidak sedang berada di sana.
Arofah memberikan pelajaran kosmik bahwa kelak di Padang Mahsyar, kita akan dikumpulkan dengan cara yang sama: telanjang kaki, tanpa membawa harta, pangkat, atau privilese duniawi.
Semangat Arofah harus dibawa pulang ke dalam kehidupan sehari-hari setelah musim haji usai.
Menghapus sekat sosial berarti kita harus mulai memperlakukan asisten rumah tangga, pekerja kasar, dan sesama manusia dengan rasa hormat yang sama seperti kita menghormati para pejabat.
Menghapus sekat rasial berarti menghentikan segala bentuk stereotip negatif terhadap suku atau bangsa lain.
Pada akhirnya, Arofah adalah pengingat visual yang nyata: kita semua sama-sama hamba yang kecil, yang sedang mengemis rahmat di hadapan Tuhan Yang Maha Besar.
Wallahu a’lam bishowaab.














