Example floating
Example floating
OPINI

Pemanfaatan Film Horor Indonesia sebagai Media Pembelajaran Sastra dan Literasi Budaya

0
×

Pemanfaatan Film Horor Indonesia sebagai Media Pembelajaran Sastra dan Literasi Budaya

Sebarkan artikel ini
(Foto: Ilustrasi)

Oleh: Heri Isnaini

HIMPUN.ID Ketika kata horor disebutkan dalam ruang kelas, sebagian orang mungkin akan mengernyitkan dahi. Horor sering kali dipandang sebagai sesuatu yang jauh dari dunia pendidikan. Ia dianggap sekadar hiburan yang menawarkan ketakutan, kejutan, dan sosok-sosok menyeramkan. Padahal, jika dicermati lebih dalam, horor sesungguhnya merupakan salah satu bentuk narasi budaya yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia.

Dalam beberapa tahun terakhir, film horor Indonesia mengalami perkembangan yang sangat pesat. Judul-judul seperti KKN di Desa Penari, Siksa Kubur, Pabrik Gula, Petaka Gunung Gede, hingga berbagai film horor yang menghiasi layar bioskop sepanjang 2026 menunjukkan bahwa genre ini memiliki daya tarik yang luar biasa. Jutaan penonton datang ke bioskop untuk menyaksikan cerita-cerita yang menghadirkan misteri, ketakutan, dan berbagai fenomena yang berada di luar batas pengalaman sehari-hari.

Fenomena tersebut menarik untuk dibaca dari perspektif pendidikan. Jika jutaan orang, terutama generasi muda, begitu antusias mengonsumsi film horor, mungkinkah film-film tersebut dimanfaatkan sebagai media pembelajaran? Dapatkah horor menjadi jembatan untuk memperkenalkan sastra, budaya, dan literasi kepada peserta didik?

Pertanyaan ini menjadi semakin relevan dalam konteks Kurikulum Merdeka yang menempatkan peserta didik sebagai subjek pembelajaran. Kurikulum Merdeka tidak lagi memandang pembelajaran sebagai proses transfer pengetahuan yang berlangsung satu arah. Sebaliknya, pembelajaran didorong untuk berangkat dari pengalaman, minat, dan konteks yang dekat dengan kehidupan peserta didik. Dalam kerangka inilah film horor Indonesia dapat memperoleh tempat yang menarik.

Pada dasarnya, film horor adalah teks. Ia merupakan bentuk narasi yang memiliki tokoh, alur, konflik, latar, tema, dan pesan. Dengan kata lain, film horor dapat dibaca sebagaimana kita membaca cerpen atau novel. Ketika siswa menyaksikan sebuah film horor, sesungguhnya mereka sedang berinteraksi dengan sebuah karya sastra yang disajikan melalui medium audiovisual.

Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, film horor dapat dimanfaatkan untuk mengajarkan unsur-unsur intrinsik cerita. Guru dapat mengajak siswa mengidentifikasi konflik yang membangun cerita, memahami karakter tokoh, menelaah latar yang menciptakan suasana mencekam, serta menganalisis bagaimana alur dibangun untuk menciptakan ketegangan. Melalui cara ini, pembelajaran sastra menjadi lebih dekat dengan pengalaman peserta didik. Namun, nilai pendidikan film horor tidak berhenti pada aspek naratif semata. Film horor Indonesia juga menyimpan kekayaan budaya yang sangat besar. Banyak film horor Indonesia lahir dari mitos, legenda, dan cerita rakyat yang telah hidup selama berabad-abad dalam masyarakat. Sosok kuntilanak, genderuwo, wewe gombel, leak, atau berbagai makhluk gaib lainnya bukan sekadar karakter fiksi. Mereka merupakan bagian dari ingatan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Di sinilah film horor dapat berfungsi sebagai media literasi budaya. Sering kali peserta didik mengenal berbagai mitos lokal melalui film sebelum mereka mengenalnya melalui buku atau penelitian budaya. Fenomena ini menunjukkan bahwa budaya populer memiliki kemampuan yang kuat dalam menjembatani generasi muda dengan warisan budaya yang mereka miliki. Tugas pendidikan bukan menolak fenomena tersebut, melainkan mengelolanya secara kritis.

Misalnya, ketika siswa menonton film yang mengangkat legenda lokal, guru dapat mengajak mereka menelusuri asal-usul cerita tersebut. Dari mana legenda itu berasal? Nilai budaya apa yang terkandung di dalamnya? Bagaimana cerita tersebut berubah ketika dipindahkan dari tradisi lisan ke medium film?

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini dapat mendorong peserta didik untuk memahami bahwa budaya bukan sesuatu yang statis, melainkan terus mengalami transformasi.

Dalam perspektif literasi, film horor juga dapat menjadi sarana untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Peserta didik tidak hanya diajak menikmati cerita, tetapi juga membaca makna yang tersembunyi di balik cerita tersebut. Mereka dapat menganalisis simbol-simbol yang muncul, memahami representasi budaya yang ditampilkan, serta menghubungkan cerita dengan realitas sosial yang mereka hadapi.

Hal ini penting karena banyak film horor Indonesia sesungguhnya tidak sedang berbicara tentang hantu semata. Di balik sosok-sosok yang menyeramkan itu sering kali tersembunyi berbagai persoalan sosial yang nyata. Ada cerita tentang keluarga yang menyimpan rahasia. Ada kisah mengenai trauma yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ada pula narasi tentang ketimpangan sosial, keserakahan, dan krisis moral. Dengan demikian, horor dapat menjadi pintu masuk untuk membahas berbagai persoalan kemanusiaan yang lebih luas.

Di sinilah pemikiran Noël Carroll menjadi menarik untuk dipertimbangkan. Menurut Carroll, horor bukan hanya soal rasa takut. Horor menarik karena manusia memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap misteri dan hal-hal yang tidak diketahui. Ketakutan dan rasa ingin tahu berjalan beriringan. Kita takut terhadap sesuatu, tetapi pada saat yang sama kita juga terdorong untuk mendekatinya.

Fenomena tersebut sangat dekat dengan dunia pendidikan. Bukankah belajar juga berangkat dari rasa ingin tahu? Bukankah proses pendidikan pada dasarnya merupakan usaha manusia untuk memahami sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui?

Jika demikian, maka film horor sesungguhnya memiliki potensi pedagogis yang menarik. Ia dapat memancing rasa ingin tahu peserta didik, membuka ruang diskusi, dan mendorong mereka untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis. Mengapa masyarakat menciptakan mitos tertentu? Mengapa suatu tempat dianggap angker? Mengapa cerita-cerita horor terus bertahan di tengah kemajuan teknologi?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan sekadar pertanyaan tentang hantu. Ia adalah pertanyaan tentang budaya, sejarah, identitas, dan cara manusia memahami dunia. Dalam Kurikulum Merdeka, pemanfaatan film horor juga dapat diintegrasikan ke dalam Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), khususnya tema kearifan lokal. Peserta didik dapat melakukan eksplorasi terhadap cerita-cerita horor yang hidup di daerah mereka, mewawancarai tokoh masyarakat, mendokumentasikan cerita lisan, lalu membandingkannya dengan representasi yang muncul dalam film-film kontemporer. Kegiatan semacam ini tidak hanya mengembangkan kemampuan literasi, tetapi juga memperkuat kesadaran budaya peserta didik.

Tentu saja, pemanfaatan film horor dalam pembelajaran memerlukan pendampingan yang bijaksana. Tidak semua film sesuai untuk digunakan di ruang kelas. Guru perlu melakukan seleksi berdasarkan usia peserta didik, tujuan pembelajaran, serta nilai-nilai yang ingin dikembangkan. Fokus pembelajaran harus diarahkan pada aspek sastra, budaya, dan literasi, bukan pada upaya memperkuat kepercayaan terhadap hal-hal yang tidak rasional.

Pada akhirnya, pendidikan tidak selalu harus berangkat dari sesuatu yang dianggap ideal atau steril dari kehidupan sehari-hari. Justru pembelajaran yang bermakna sering kali lahir dari fenomena yang dekat dengan pengalaman peserta didik. Film horor Indonesia merupakan salah satu fenomena tersebut.

Di balik adegan-adegan yang menegangkan, sesungguhnya tersimpan cerita tentang manusia, budaya, dan cara masyarakat memaknai kehidupan. Di balik sosok-sosok yang menakutkan, terdapat jejak sejarah, mitos, dan identitas yang membentuk kebudayaan kita. Oleh karena itu, ketika dimanfaatkan secara kritis dan kontekstual, film horor Indonesia bukan hanya dapat menjadi media hiburan, tetapi juga dapat menjadi jendela pembelajaran yang mempertemukan sastra, budaya, dan literasi dalam semangat Kurikulum Merdeka.

Barangkali di situlah letak paradoks yang paling menarik. Sesuatu yang selama ini dianggap hanya menghadirkan ketakutan ternyata juga mampu membuka jalan menuju pengetahuan. Dan seperti halnya pendidikan, horor pada akhirnya mengajarkan satu hal yang sama: manusia tidak pernah berhenti mencari makna di balik misteri yang mengelilinginya.

Bionarasi Penulis

Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Heri merupakan kontributor media RNSI dan Literatura Nusantara.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *