Oleh: Bayu Puja Anugrah
HIMPUN.ID – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Kehadiran berbagai aplikasi berbasis AI seperti ChatGPT, Gemini, Copilot, dan platform pembelajaran adaptif memungkinkan pengguna memperoleh informasi dengan cepat, membuat rangkuman materi, hingga menyelesaikan berbagai tugas akademik dalam hitungan detik. Di tengah perkembangan tersebut, muncul pertanyaan yang sering diperbincangkan apakah peran guru akan tergantikan oleh kecerdasan buatan?
Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan ketika teknologi AI mulai digunakan oleh peserta didik dari berbagai jenjang pendidikan termasuk siswa sekolah dasar. Namun jika ditelaah lebih mendalam AI justru menunjukkan bahwa peran guru tidak semakin berkurang, melainkan semakin penting. Teknologi dapat membantu proses pembelajaran tetapi tidak dapat menggantikan fungsi utama guru sebagai pendidik, pembimbing, dan pembentuk karakter peserta didik.
Sekolah dasar merupakan jenjang pendidikan yang sangat menentukan perkembangan anak. Pada tahap ini siswa tidak hanya belajar membaca, menulis, dan berhitung. tetapi juga belajar bersosialisasi, memahami nilai-nilai moral, mengembangkan empati, serta membentuk kebiasaan yang akan memengaruhi kehidupannya di masa depan. Proses tersebut membutuhkan interaksi manusia yang hangat dan bermakna, sesuatu yang tidak dapat sepenuhnya diberikan oleh teknologi.
AI memang mampu menyajikan informasi secara cepat dan akurat. Akan tetapi, AI tidak mampu memahami kondisi emosional siswa secara mendalam. Guru dapat mengenali ketika seorang siswa kehilangan motivasi belajar, mengalami kesulitan memahami materi, atau menghadapi masalah dalam lingkungan keluarga. Melalui perhatian dan pendekatan personal, guru mampu memberikan dukungan yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Kemampuan ini merupakan aspek penting dalam pendidikan yang tidak dapat digantikan oleh mesin.
Selain sebagai pembimbing, guru juga memiliki peran strategis dalam membentuk karakter siswa. Di era digital saat ini, anak-anak memiliki akses yang sangat luas terhadap informasi. Sayangnya tidak semua informasi yang tersedia di internet memiliki nilai edukatif dan sesuai dengan perkembangan anak. Oleh karena itu guru berperan sebagai fasilitator yang membantu siswa memilah informasi, berpikir kritis, serta menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
Kemajuan AI juga menghadirkan tantangan baru berupa potensi ketergantungan siswa terhadap teknologi. Banyak siswa mulai terbiasa memperoleh jawaban secara instan tanpa melalui proses berpikir yang mendalam. Jika kondisi ini tidak diantisipasi, kemampuan bernalar, memecahkan masalah, dan kreativitas siswa dapat mengalami penurunan.
Dalam situasi tersebut, guru memiliki tugas penting untuk merancang pembelajaran yang mendorong siswa aktif berpikir, berdiskusi, bereksplorasi, dan menemukan solusi secara mandiri.
Di sisi lain, AI sebenarnya dapat menjadi mitra yang sangat membantu bagi guru. Berbagai aplikasi berbasis kecerdasan buatan dapat digunakan untuk menyusun perangkat pembelajaran, membuat soal evaluasi, merancang media pembelajaran interaktif, hingga menganalisis hasil belajar siswa. Pemanfaatan teknologi ini dapat mengurangi beban administratif guru sehingga mereka memiliki lebih banyak waktu untuk fokus pada kegiatan pembelajaran dan pendampingan siswa.
Penggunaan AI dalam pendidikan harus dilakukan secara bijaksana. Guru perlu memiliki literasi digital yang memadai agar mampu memanfaatkan teknologi secara efektif dan kritis. Penguasaan teknologi bukan lagi menjadi pilihan, melainkan kebutuhan. Guru yang mampu mengintegrasikan AI ke dalam pembelajaran akan lebih mudah menciptakan pengalaman belajar yang menarik, relevan, dan sesuai dengan kebutuhan generasi saat ini.
Menurut data UNESCO, transformasi digital dalam pendidikan menjadi salah satu agenda penting untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di berbagai negara. Meski demikian, UNESCO juga menegaskan bahwa teknologi harus berfungsi sebagai alat pendukung, bukan pengganti guru. Pendidikan yang berkualitas tetap memerlukan kehadiran guru yang kompeten, profesional, dan mampu membangun hubungan interpersonal dengan peserta didik.
Dalam konteks Indonesia, tantangan pemanfaatan AI di sekolah dasar masih cukup beragam. Tidak semua sekolah memiliki akses teknologi yang memadai, terutama di daerah terpencil. Selain itu, masih terdapat kesenjangan kompetensi digital di kalangan pendidik. Oleh karena itu, diperlukan dukungan pemerintah melalui pelatihan, pendampingan, serta penyediaan infrastruktur yang memadai agar seluruh guru dapat memanfaatkan teknologi secara optimal.
Di Indonesia, pemanfaatan AI oleh guru mulai menunjukkan tren yang meningkat. Hasil survei nasional terhadap 349 guru dari berbagai jenjang pendidikan yang dipublikasikan pada tahun 2026 menunjukkan bahwa guru memanfaatkan AI terutama untuk menyusun perangkat pembelajaran, membuat asesmen, mengembangkan materi ajar, dan menyiapkan media pembelajaran. Survei tersebut juga menemukan bahwa guru sekolah dasar termasuk kelompok yang relatif konsisten memanfaatkan AI untuk mendukung proses pembelajaran. Meski demikian, keterbatasan infrastruktur, kualitas hasil yang terkadang masih umum, serta kebutuhan penyesuaian dengan konteks lokal menjadi tantangan yang masih perlu diatasi.
Guru sekolah dasar perlu mengembangkan berbagai kompetensi baru untuk menghadapi era kecerdasan buatan. Selain menguasai materi pelajaran dan strategi pembelajaran, guru juga perlu memiliki kemampuan literasi digital, berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan teknologi. Kompetensi-kompetensi tersebut akan membantu guru menjalankan perannya secara efektif di tengah perkembangan zaman yang berlangsung sangat cepat.
Kemajuan AI tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman bagi profesi guru. Sebaliknya, teknologi dapat menjadi peluang untuk meningkatkan kualitas pembelajaran apabila dimanfaatkan secara tepat. Guru dan AI bukanlah dua pihak yang saling menggantikan, melainkan dapat saling melengkapi. AI mampu menyediakan informasi dan membantu pekerjaan teknis, sedangkan guru memberikan sentuhan kemanusiaan yang menjadi inti dari proses pendidikan.
Tantangan lain yang perlu diperhatikan adalah kesiapan guru dalam menggunakan AI secara efektif. Sebuah laporan Gallup dan Walton Family Foundation yang dipublikasikan pada tahun 2026 menunjukkan bahwa sekitar 80% guru K-12 mengaku belum menerima panduan formal terkait penggunaan AI dalam pembelajaran. Temuan ini menunjukkan bahwa pelatihan dan pendampingan bagi guru menjadi faktor penting agar teknologi dapat dimanfaatkan secara optimal tanpa mengurangi kualitas interaksi antara guru dan siswa.
Pendidikan bukan sekadar proses transfer pengetahuan, melainkan proses membentuk manusia yang berkarakter, berempati, dan mampu hidup berdampingan dalam masyarakat. Selama tujuan tersebut masih menjadi esensi pendidikan, peran guru akan tetap menjadi pusat pembelajaran. Di era kecerdasan buatan, guru bukan hanya pengajar, tetapi juga navigator yang membimbing siswa agar mampu memanfaatkan teknologi secara bijaksana untuk menghadapi masa depan yang semakin kompleks dan dinamis.
Bionarasi Penulis

Bayu Puja Anugrah lahir di Bandung pada tanggal 16 November. Saat ini penulis bekerja sebagai operator di salah satu sekolah swasta yang berada di Kota Bandung. Di samping aktivitas pekerjaannya, penulis juga sedang menempuh pendidikan di IKIP Siliwangi Cimahi sebagai bagian dari upayanya untuk terus mengembangkan kompetensi dan wawasan di bidang pendidikan. Bersama keluarga kecilnya, Bayu Puja Anugrah menetap di Kabupaten Bandung dan berkomitmen untuk terus berkontribusi dalam dunia pendidikan melalui peran dan pengalaman yang dijalaninya.














