Heri Isnaini
HIMPUN.ID – Ada buku-buku yang dipajang di ruang tamu. Ada pula buku-buku yang disembunyikan di bawah kasur. Yang pertama dibaca dengan bangga. Yang kedua dibaca dengan jantung berdebar. Yang pertama boleh dipinjamkan kepada siapa saja. Yang kedua hanya berpindah tangan kepada orang-orang tertentu yang dianggap dapat menjaga rahasia.
Dalam sejarah membaca masyarakat Indonesia, Enny Arrow tampaknya termasuk kelompok kedua. Nama itu hidup dalam bisik-bisik. Ia jarang disebut di ruang kelas. Ia hampir tidak pernah dibicarakan dalam seminar sastra. Ia tidak masuk daftar bacaan wajib sekolah. Namun anehnya, banyak orang mengenalnya. Bahkan setelah puluhan tahun berlalu, nama itu masih muncul dalam percakapan generasi yang tumbuh pada dekade 1980-an dan 1990-an.
Mungkin di situlah letak keunikannya. Kita sering mengira bahwa sejarah sastra dibangun oleh karya-karya besar yang disimpan rapi di perpustakaan. Padahal sejarah membaca masyarakat sering kali justru dibangun oleh buku-buku yang tidak pernah memperoleh tempat terhormat dalam sejarah sastra resmi. Enny Arrow adalah salah satunya.
Ketika membaca berbagai perbincangan tentang Enny Arrow, saya teringat kepada Sigmund Freud. Bukan karen Freud adalah pembaca stensilan erotis. Tentu bukan itu persoalannya. Yang menarik adalah bagaimana Freud membantu kita memahami hubungan antara hasrat, larangan, dan rasa ingin tahu manusia.
Freud pernah menunjukkan bahwa manusia bukanlah makhluk yang sepenuhnya dikendalikan oleh kesadaran. Di bawah kesadaran terdapat wilayah lain yang jauh lebih luas, yaitu alam bawah sadar. Di sanalah berbagai keinginan, ketakutan, fantasi, dan dorongan yang ditekan oleh norma sosial berdiam.
Mungkin Sebab itulah manusia sering kali menyembunyikan sesuatu bukan karena tidak menginginkannya, melainkan justru karena terlalu menginginkannya. Di sinilah Enny Arrow menjadi menarik.
Pada masa ketika informasi seksual tidak mudah diperoleh seperti sekarang, ketika internet belum hadir di genggaman, ketika pembicaraan tentang seks masih dianggap tabu di banyak ruang sosial, stensilan-stensilan Enny Arrow beredar dari tangan ke tangan seperti sebuah rahasia kolektif.
Ia dicari, tetapi tidak diakui. Ia dibaca, tetapi tidak dibicarakan. Ia dikenal, tetapi identitas pengarangnya sendiri tetap menjadi misteri. Bagi Freud, situasi semacam ini bukanlah sesuatu yang aneh. Larangan dan hasrat memiliki hubungan yang sangat dekat. Bahkan kadang-kadang, larangan justru melahirkan daya tarik yang lebih besar daripada objek yang dilarang itu sendiri.
Sebuah pintu yang tertutup selalu lebih mengundang rasa penasaran daripada pintu yang terbuka.
Sebuah buku yang disembunyikan sering kali lebih menggoda daripada buku yang dipajang di etalase. Freud menjelaskan bahwa kehidupan psikis manusia bekerja melalui tiga unsur utama, yaitu id, ego, dan superego.
Id adalah wilayah naluriah dalam diri manusia. Ia merupakan rumah bagi berbagai dorongan dasar, termasuk hasrat seksual. Id hanya mengenal satu prinsip, yakni kenikmatan. Ia tidak mengenal aturan, tidak mengenal norma, dan tidak mengenal rasa malu. Ia hanya bertanya, “Apa yang aku inginkan?”
Sebaliknya, superego adalah suara kebudayaan yang hidup dalam diri manusia. Ia terbentuk dari ajaran agama, nilai keluarga, adat, sekolah, dan berbagai norma sosial yang diwariskan oleh masyarakat. Superego selalu bertanya, “Apakah ini baik? Apakah ini pantas? Apakah ini sesuai dengan aturan?”
Di antara keduanya berdiri ego. Ego adalah penengah yang berusaha menjaga keseimbangan antara hasrat dan norma. Ia sadar bahwa manusia hidup di tengah masyarakat. Sebab itu, ego selalu mencari jalan kompromi.
Ketika seseorang tertarik membaca Enny Arrow karena rasa ingin tahu terhadap seksualitas, dorongan itu dapat dibaca sebagai kerja id. Ada keinginan untuk mengetahui sesuatu yang tersembunyi. Ada hasrat untuk memasuki wilayah yang selama ini ditutup oleh berbagai larangan sosial.
Namun, pada saat yang sama muncul suara lain yang mengingatkan bahwa bacaan semacam itu tidak pantas. Buku itu harus disembunyikan. Jangan sampai diketahui orang tua. Jangan sampai terlihat guru. Jangan sampai menjadi bahan gunjingan.
Suara itu adalah superego. Lalu apa yang dilakukan ego? Ego menemukan jalan tengah. Buku itu tetap dibaca, tetapi diam-diam. Ia tetap dicari, tetapi tidak dipamerkan. Ia tetap dinikmati, tetapi tidak diakui secara terbuka.
Dengan demikian, praktik membaca Enny Arrow sesungguhnya memperlihatkan negosiasi yang menarik antara naluri, norma, dan strategi sosial. Pembaca tidak sepenuhnya tunduk pada id, tetapi juga tidak sepenuhnya menyerah kepada superego.
Mereka menciptakan ruang rahasia tempat keduanya dapat hidup berdampingan. Di sinilah Enny Arrow menjadi lebih dari sekadar stensilan erotis. Ia berubah menjadi panggung kecil tempat id, ego, dan superego memainkan perannya masing-masing. Yang menarik, pengalaman membaca Enny Arrow tidak hanya berkaitan dengan isi teksnya. Banyak orang justru mengingat pengalaman psikologis saat membacanya, yaitu ada rasa penasaran, ketegangan, ketakutan diketahui orang lain, sekaligus kenikmatan karena berhasil memasuki wilayah yang dianggap terlarang.
Maka pertanyaan yang menarik bukanlah apakah Enny Arrow merupakan sastra yang baik atau sastra yang buruk. Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Mengapa begitu banyak orang membacanya?”
Pertanyaan ini membawa kita pada wilayah yang lebih luas, yakni hubungan antara sastra dan kebudayaan. Sebuah teks yang dibaca oleh ribuan bahkan jutaan orang tentu menyimpan sesuatu yang melampaui dirinya sendiri. Ia menjadi cermin bagi masyarakat yang melahirkannya.
Enny Arrow memperlihatkan bahwa ada wilayah-wilayah kehidupan yang tidak memperoleh ruang percakapan yang memadai dalam masyarakat. Ketika ruang percakapan menyempit, fantasi mencari jalannya sendiri. Ketika sebuah tema dianggap tabu, ia tidak serta-merta menghilang. Ia hanya berpindah tempat. Kadang ke dalam mimpi. Kadang ke dalam cerita. Kadang ke dalam buku-buku yang dibaca diam-diam.
Sebab itu, dari perspektif psikoanalisis, Enny Arrow dapat dibaca sebagai arsip hasrat. Ia adalah dokumentasi tentang apa yang ingin diketahui masyarakat, tetapi sulit mereka bicarakan secara terbuka. Ia adalah jejak-jejak rasa ingin tahu yang hidup di bawah permukaan kehidupan sosial.
Barangkali sebab itulah nama Enny Arrow tetap bertahan dalam ingatan kolektif. Bukan karena kualitas estetikanya yang luar biasa. Bukan pula karena keindahan bahasanya, melainkan karena ia pernah menempati ruang tertentu dalam psikologi sebuah generasi. Ia menjadi bagian dari masa ketika rasa ingin tahu harus berjalan sembunyi-sembunyi.
Hari ini, ketika berbagai informasi dapat diakses hanya dengan sentuhan jari, dunia yang melahirkan Enny Arrow mungkin terasa jauh. Namun, justru Sebab itulah ia menarik untuk dibaca kembali. Bukan untuk merayakan erotisme. Bukan pula untuk mengutuknya, melainkan untuk memahami manusia.
Sebab pada akhirnya, setiap masyarakat memiliki rahasianya sendiri. Dan kadang-kadang, rahasia itu tersimpan bukan di dalam arsip negara, bukan di dalam dokumen sejarah, melainkan di dalam buku-buku tipis yang pernah disembunyikan di bawah kasur oleh para pembacanya.
Di sanalah kita menemukan satu kenyataan yang sederhana sekaligus rumit, yaitu manusia sering kali lebih jujur kepada cerita daripada kepada dirinya sendiri.
Bionarasi Penulis
Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Heri merupakan kontributor media RNSI dan Literatura Nusantara.














