Oleh: Heri Isnaini
HIMPUN.ID – Setiap zaman memiliki perangkat yang mengubah cara manusia belajar. Mesin cetak pernah dianggap akan mengurangi daya ingat manusia sebab pengetahuan tidak lagi harus dihafalkan. Radio dan televisi pernah dipandang sebagai ancaman bagi tradisi membaca. Internet juga pernah dituduh membuat manusia kehilangan kesabaran untuk berpikir panjang. Kini, giliran kecerdasan buatan menjadi pusat perdebatan. Di ruang-ruang kuliah, dosen mulai bertanya apakah tugas mahasiswa masih benar-benar ditulis oleh mereka sendiri. Mahasiswa pun diam-diam bertanya balik, apakah mereka masih perlu mempelajari sesuatu yang dapat dijawab mesin hanya dalam hitungan detik.
Pertanyaan-pertanyaan itu sesungguhnya bukan semata tentang teknologi. Yang sedang dipertaruhkan ialah cara manusia memaknai pengetahuan. Kampus bukan sekadar tempat mengumpulkan informasi, melainkan ruang tempat informasi mengalami pengolahan menjadi pemahaman, pemahaman berkembang menjadi kebijaksanaan, dan kebijaksanaan menjelma tindakan. Kecerdasan buatan dapat mempercepat proses memperoleh informasi, tetapi ia tidak otomatis melahirkan kebijaksanaan. Di titik inilah humaniora menemukan relevansinya.
Selama bertahun-tahun, pendidikan tinggi sering terjebak dalam anggapan bahwa keberhasilan belajar diukur dari banyaknya materi yang mampu diingat. Mahasiswa dibebani definisi, teori, dan klasifikasi yang harus dihafalkan menjelang ujian. Pengetahuan kemudian berubah menjadi daftar istilah yang mudah terlupakan setelah nilai diumumkan. Kehadiran kecerdasan buatan justru memperlihatkan kelemahan paradigma tersebut. Jika tujuan pembelajaran hanya mengingat informasi, mesin akan selalu lebih cepat dan lebih akurat daripada manusia.
Humaniora sejak awal tidak dibangun untuk memenangkan perlombaan menghafal. Sastra, filsafat, sejarah, linguistik, dan seni hadir agar manusia mampu memahami dirinya sendiri sekaligus memahami orang lain. Ketika seorang mahasiswa membaca novel, ia sesungguhnya sedang belajar memasuki pengalaman hidup yang tidak pernah ia alami. Ketika ia membaca puisi, ia sedang melatih kepekaan terhadap makna yang tidak selalu dapat dijelaskan secara denotatif. Ketika ia mengkaji bahasa, ia sedang menyadari bahwa setiap pilihan kata membawa sudut pandang tertentu terhadap dunia.
Di sinilah kelindan antara kecerdasan buatan dan humaniora menjadi menarik. Mesin dapat menyusun kalimat yang runtut, merangkum ratusan halaman buku, bahkan menghasilkan esai yang tampak meyakinkan. Akan tetapi, mesin tidak mengalami kehilangan, kerinduan, kegelisahan, atau harapan. Ia mengenali pola, bukan pengalaman. Ia mengolah probabilitas, bukan kesadaran. Sebab itu, tugas kampus tidak berhenti pada kemampuan menghasilkan teks, melainkan membimbing mahasiswa memahami mengapa sebuah teks lahir, kepada siapa ia berbicara, dan nilai apa yang sedang diperjuangkannya.
Pemikiran Michael Halliday menjadi semakin penting dalam konteks ini. Bahasa bukan sekadar kumpulan aturan gramatikal, melainkan sumber daya untuk membangun makna. Setiap ujaran selalu lahir dari konteks sosial tertentu. Ketika mahasiswa menggunakan kecerdasan buatan untuk menulis, pertanyaan yang lebih penting bukanlah siapa yang mengetik kalimat itu, melainkan apakah mahasiswa memahami makna yang sedang dibangun oleh kalimat tersebut. Tanpa kesadaran itu, tulisan hanya menjadi susunan kata yang kehilangan jiwa.
Hal serupa tampak dalam kritik sastra. Kecerdasan buatan dapat menjelaskan alur, tema, tokoh, bahkan gaya bahasa dengan sangat cepat. Namun, kritik sastra tidak pernah berhenti pada inventarisasi unsur intrinsik. Kritik adalah perjumpaan antara pembaca dan teks. Di sana terdapat pengalaman estetik, latar budaya, horizon harapan, hingga posisi ideologis yang saling berkelindan. Dua pembaca dapat menghasilkan tafsir berbeda terhadap novel yang sama sebab keduanya datang dengan pengalaman hidup yang berbeda. Keragaman tafsir inilah yang membuat sastra tetap hidup.
Fenomena tersebut mengingatkan pada gagasan Mikhail Bakhtin bahwa makna tidak pernah lahir secara tunggal. Setiap teks merupakan ruang dialog yang mempertemukan banyak suara. Kecerdasan buatan mungkin mampu menyajikan tafsir dominan berdasarkan jutaan data yang dipelajarinya, tetapi dialog yang sesungguhnya baru terjadi ketika manusia menghubungkan teks dengan pengalaman, sejarah, dan nilai yang diyakininya. Makna selalu bergerak, tidak pernah benar-benar selesai.
Kampus sebab itu perlu mengubah orientasi pembelajaran. Mahasiswa tidak cukup diminta membuat makalah atau rangkuman. Mereka perlu diajak mengajukan pertanyaan yang tidak memiliki satu jawaban benar. Mengapa legenda tetap bertahan di tengah masyarakat digital? Mengapa bahasa media sosial berbeda dengan bahasa akademik? Mengapa sebuah puisi mampu mengubah cara seseorang memandang kehidupan? Pertanyaan semacam ini tidak selesai hanya dengan meminta jawaban dari mesin. Ia menuntut pembacaan, dialog, refleksi, dan keberanian mengambil posisi.
Perubahan itu juga menyentuh peran dosen. Selama ini dosen sering diposisikan sebagai sumber utama pengetahuan. Kini, hampir semua informasi tersedia dalam hitungan detik. Yang semakin dibutuhkan mahasiswa justru sosok yang mampu menjadi penuntun intelektual. Dosen membantu memilah informasi, menghubungkan konsep, menguji argumen, dan memperlihatkan bahwa pengetahuan selalu lahir melalui proses berpikir yang jujur. Kehadiran kecerdasan buatan tidak menghapus peran dosen, melainkan menggesernya dari penyampai informasi menjadi pendamping dalam membangun nalar.
Perubahan serupa perlu terjadi dalam sistem penilaian. Esai yang hanya mengulang teori akan semakin mudah diproduksi oleh mesin. Sebaliknya, tulisan yang lahir dari observasi lapangan, pengalaman membaca, refleksi pribadi, dan dialog dengan masyarakat jauh lebih sulit digantikan. Mahasiswa sastra dapat diminta membaca kehidupan di pasar tradisional, mencatat percakapan warga, mengamati bahasa iklan, atau mendokumentasikan cerita lisan yang mulai menghilang. Dari sana lahir tulisan yang bertumpu pada pengalaman empiris, bukan sekadar reproduksi informasi.
Pendekatan semacam itu sekaligus mengembalikan kampus kepada fungsi sosialnya. Pengetahuan tidak berhenti di ruang kelas, tetapi menjelma ikhtiar memahami masyarakat. Humaniora menemukan ejawantahnya ketika teori bertemu kenyataan. Sastra berbicara kepada kehidupan, linguistik membaca perubahan bahasa masyarakat, sementara pendidikan menjembatani pengetahuan dengan tindakan.
Ada kekhawatiran bahwa kecerdasan buatan akan membuat mahasiswa malas berpikir. Kekhawatiran itu tidak sepenuhnya keliru, tetapi juga tidak sepenuhnya benar. Teknologi tidak pernah menentukan watak penggunanya. Buku dapat melahirkan pemikir besar, tetapi juga dapat sekadar menjadi pajangan. Internet dapat membuka cakrawala, tetapi juga dapat mempersempit pandangan. Demikian pula kecerdasan buatan. Ia dapat menjadi jalan pintas menuju kemalasan atau justru menjadi mitra intelektual yang memperluas horizon berpikir. Yang membedakan bukan teknologinya, melainkan budaya akademik yang dibangun kampus.
Budaya akademik yang sehat selalu menghargai rasa ingin tahu. Mahasiswa didorong untuk mempertanyakan, bukan sekadar menerima. Mereka diajak meragukan jawaban yang terlalu sederhana dan memeriksa kembali asumsi yang tampak mapan. Dalam tradisi seperti itu, kecerdasan buatan bukan ancaman, melainkan salah satu instrumen yang memperkaya proses berpikir. Mesin menyajikan kemungkinan, manusia menentukan makna.
Masa depan kampus tidak akan ditentukan oleh seberapa canggih perangkat digital yang dimilikinya. Masa depan itu bergantung pada kemampuannya merawat tradisi berpikir kritis, kepekaan etis, dan imajinasi kemanusiaan. Humaniora tidak sedang bersaing dengan kecerdasan buatan. Ia justru menyediakan ruang yang tidak dapat digantikan oleh algoritma: ruang tempat manusia belajar memahami sesamanya, menafsirkan pengalaman, mengolah bahasa, dan menyusun harapan.
Barangkali itulah alasan mengapa kampus masih perlu mempertahankan sastra, filsafat, sejarah, dan bahasa di tengah gelombang otomatisasi. Bukan sebab disiplin-disiplin itu menolak teknologi, melainkan sebab ia mengingatkan bahwa kecerdasan tanpa kebijaksanaan mudah berubah menjadi kesombongan, sementara teknologi tanpa nurani hanya akan mempercepat langkah manusia menuju tujuan yang belum tentu benar. Humaniora menjaga agar kemajuan tidak kehilangan arah, dan kampus tetap menjadi ruang tempat pengetahuan bertumbuh bersama kemanusiaan.
Bionarasi Penulis
Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Cimahi, Jawa Barat. Ia pernah mengajar Bahasa Indonesia di sejumlah sekolah di Kota Bandung pada 2007–2020. Lahir di Subang pada 17 Juni, Heri aktif menulis artikel, esai, dan karya sastra yang telah dipublikasikan di berbagai media massa cetak maupun daring. Saat ini, ia juga menjadi kontributor RNSI dan Literatura Nusantara.














