Oleh: Alya Fadilah
Pada era digital ini, terdapat perubahan yang cukup signifikan dalam cara generasi muda mengonsumsi informasi. Melalui media sosial seperti, TikTok, YouTube, dan Instagram yang kini mendominasi screen time jutaan pelajar di Indonesia. Sehingga, kegiatan menggulir konten video singkat menjadi salah satu kebiasaan yang menarik banyak perhatian pelajar Indonesia saat ini dibandingkan dengan buku. Hal ini menjadi salah satu bukti alasan mengapa pada hasil survei PISA yang di rilis OECD pada tahun 2019 mengatakan bahwa Indonesia merupakan negara yang menempati peringkat 8 dari bawah dalam kemampuan literasinya. Fenomena ini menjelaskan bahwa telah terjadinya pergeseran kebiasaan masyarakat Indonesia dalam mengonsumsi informasi saat ini.
Mengingat, zaman sebelumnya masyarakat mendapatkan informasi melalui media cetak yang mangharuskan masyarakat untuk membaca dengan menghabiskan waktu minimal setengah jam, sehari, seminggu, sebulan, bahkan setahun untuk menyelesaikan bacaan. Berbeda dengan saat ini, informasi dikemas melalui media berbentuk video singkat yang berisi gambar bergerak, video faktual, grafis, dan bersifat to the point. Menggulir konten video singkat di media sosial, seperti TikTok, Instagram, maupun YouTube yang berhasil menarik banyak perhatian menghabiskan waktu berjam-jam setiap harinya sesuai dengan data dari We Are Social (2024) yang menyatakan bahwa masyarakat Indonesia menghabiskan waktu mengakses internet lebih dari 7 jam per hari dengan porsi signifikan digunakan untuk mengonsumsi konten video berdurasi singkat.
Hal ini berlaku bagi semua kalangan termasuk siswa Sekolah Dasar, yang mengonsumsi berjam-jam konten video singkat yang berdampak bagi perilaku belajar siswa. Apa yang sesungguhnya terjadi pada perilkau belajar siswa ketika otak mereka terus menerus terpapar konten video singkat?
Mengurangi Konsentrasi Siswa
Kegiatan menggulir sosial media untuk mengonsumsi konten video singkat memberikan dampak nyata di kelas dengan berubahnya perilaku belajar siswa, salah satunya mengurangnya konsentrasi belajar. Di mana paparan konten digital yang cepat dan terus menerus diterima dapat mempersingkat rentang perhatian siswa, dengan terbiasa menonton/mengonsumsi konten video berdurasi 15-60 detik siswa akan mengalami kesulitan ketika harus mempertahankan fokus pada materi pelajaran yang membutuhkan konsentrasi berdurasi 30-60 menit. Hal ini diperkuat oleh Carr di dalam bukunya yang berjudul The Shallows: What The Inetrnet Is Doing to Our Brains, yang menyatakan bahwasannya otak manusia itu bersifat plastis, di mana otak akan beradaptasi sesuai dengan stimulus yang paling cepat diterimannya. Ketika stimulus banyak didapatkan dari konten video singkat, otak akan memproses dengan cepat namun tidak memproses secara mendalam (deep processing) yang mana deep processing ini dibutuhkan dalam belajar akademis.
Terjadinya pergeseran Ekspektasi terhadap Metode Pembelajaran
Pada fenomena ini terjadinya transformasi perilaku belajar tidak hanya penurunan konsentrasi saja, namun terjadinya perubahan ekspektasi siswa terhadap metode pembelajaran yang akan mereka terima dari pendidik dalam proses belajar. Bagi siswa yang terbiasa menonton konten yang singkat, visual, menghibur, dan to the point cenderung akan merasa kesulitan dengan metode konvensional yang bersifat tekstual. Karena generasi sekarang cenderung belajar lebih efektif melalui visual dan narasi singkat. Hal ini sebenarnya bukan sebuah kabar buruk, berdasarkan prinsip dual-coding yang dikembangkan oleh Paivio (1986) menyatakan bahwa memori dan pemahaman secara bersamaan terbentuk ketika otak memproses informasi secara verbal dan visual.
Oleh karena itu, konten video singkat yang dirancang dengan baik dan mengandung unsur edukatif dapat menjadi media pembelajaran yang poweful. Namun, yang dikhawatirkan ketika yang dikonsumsi siswa adalah konten video singkat yang tidak memiliki nilai edukatifnya.
Respon Pedagogis: Mengubah Tantangan Menjadi Peluang
Terjadinya transformasi perilaku belajar siswa tidak bisa dilihat hanya sebagai ancaman, melainkan perlu dipahami bahwa karakteristik belajar siswa telah mengalami perubahan. Hal ini dapat direspons dengan cara merancang strategi pembelajaran yang melibatkan media digital. Guru perlu memanfaatkan karakteristik media digital sebagai pintu masuk pembelajaran seperti menggunakan video singkat dalam apersepsi untuk membangkitkan rasa ingin tahu siswa, peran media digital ini menjadi jembatan menuju pemahaman yang lebih mendalam. Selain itu, pembelajaran juga perlu dirancang lebih interaktif yang berpusat pada siswa (student-Centered). Model pembelajaran yang beragam, seperti PBL (Problem Based Learning) berupa pemecahan masalah, PJBL (Project Based Learning) melalui proyek, Inquiry Learning berupa penyelidikan, Discovery Learning berupa penemuan konsep, dan Cooperative Learning berupa kerja sama.
Tantangan yang muncul pada era konten video singkat bukan dengan cara menjauhkan siswa pada teknologi, namun dengan cara membimbing siswa agar mampu memanfaatkan teknologi secara bijak, kritis, seimbang, dan bertanggung jawab. Di mana media digital dapat dipadukan dengan budaya membaca, berpikir kritis, dan refleksi yang mendalam.














