HIMPUN.ID – Hingga penghujung November 2025, mesin pendapatan Pemerintah Kota Gorontalo menunjukkan performa yang stabil. Meski secara akumulatif realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) telah menyentuh angka 84,92 persen, fokus kini tertuju pada sektor-sektor yang menjadi lokomotif pertumbuhan, di antaranya hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan.
Sektor tersebut mencatatkan kinerja paling mentereng dengan capaian 91,42 persen, menempatkannya sebagai kontributor paling efisien dalam mendekati target 100 persen di akhir tahun anggaran.
Dominasi Pajak dan Tantangan Retribusi
Data Badan Keuangan per 19 November 2025 menunjukkan bahwa Pajak Daerah tetap menjadi penyumbang nominal terbesar dengan realisasi melampaui Rp100 miliar.
Namun, sorotan tajam tertuju pada konsistensi penerimaan mingguan sektor pajak yang mampu menyentuh angka Rp2,54 miliar.
Di sisi lain, sektor Retribusi Daerah dan “Lain-lain PAD yang Sah” masih memiliki gap yang cukup menantang untuk ditutup dalam sisa waktu kurang dari 30 hari. Khusus untuk Lain-lain PAD yang Sah, realisasi yang masih berada di angka 66,31 persen memerlukan langkah akselerasi ekstra agar tidak menjadi beban bagi capaian total di akhir tahun.
Strategi “Sprint” Akhir Tahun
Kepala Badan Keuangan Kota Gorontalo, Nuryanto, memberikan sinyal bahwa pemerintah tidak akan bermain aman di sisa waktu ini. Fokus utama bukan lagi sekadar menunggu setoran, melainkan validasi data dan percepatan penagihan lapangan.
“Kami sedang mengoptimalkan instrumen monitoring lapangan. Sinergi antar perangkat daerah diperkuat untuk memastikan tidak ada potensi pendapatan yang tercecer di menit-menit terakhir,” ungkap Nuryanto saat memaparkan data capaian tersebut, Senin 1 Desember 2025.
Urgensi Kemandirian Fiskal
Keberhasilan mencapai target PAD tahun ini bukan hanya soal prestasi angka di atas kertas. Bagi Kota Gorontalo, capaian ini adalah indikator kemandirian fiskal. Semakin tinggi realisasi PAD, semakin besar ruang gerak pemerintah untuk membiayai program-program pembangunan tanpa harus bergantung penuh pada dana transfer pusat.
Dengan realisasi saat ini yang mencapai Rp319,49 miliar, publik kini menanti apakah “sprint” akhir tahun yang dilakukan Badan Keuangan mampu menembus target perubahan sebesar Rp376,22 miliar sebelum kalender 2025 berganti. (Adv)














