Peran Ilmu Sosial di Telatah Ilmu-Ilmu

Peran Ilmu Sosial di Telatah Ilmu-Ilmu, Pramono Pido (Foto: Dok Pribadi)

Oleh : Pramono Pido

Penulis Merupakan Pengajar Ilmu Pengetahuan Sosial di SMPN 4 Tilamuta

HIMPUN.ID, OPINI – Kita dapat melihat perkembangan dunia keilmuan yang begitu pesat mengakibatkan spesialisasi yang makin rumit dan spesifik.

Dinamika ini belakangan turut mengubah cara memandang posisi ilmu sosial di antara begitu banyak rumpun keillmuan yang berkembang, berubah, dan mengambil tempat baru di tengah-tengah masyarakat maupun komunitas akademik.

Pada bagian awal saya ingin menggunakan permisalan yang pernah dipakai oleh Freeman Dyson dalam artikel “Birds and Frogs” untuk menggambarkan kiprah seorang Matematikawan.

Freeman menggunakan seekor katak dan elang, yang saya pikir juga relevan untuk menilai kiprah ilmu sosial dan petualangannya mengarungi telatah keilmuan yang makin kompleks dan luas.

Advertisement

Elang yang terbang tinggi melihat keseluruhan fenomena dari atas horison langit, menyatukan konsep berpikir dari masalah-masalah yang terlihat di bawah bentangan daratan.

Baca juga:Klarifikasi Ketua DPP PPP Terkait Video ‘Amplop Kiai’ Suharso Monoarfa

Sementara katak yang hidup di bawah terbatas melihat bunga-bunga, memerinci detail dari objek-objek yang partikular dan menyesalesaikan masalah yang timbul sewaktu-waktu, atau bisa saja ilmu sosial menjadi kombinasi keduanya, elang memberikan visi yang luas, katak menyumbang ketelitian detail.

Pada tahun 2016 dunia sempat diguncang sebuah skandal yang menjadi topik hangat pada berbagai acara Tv dan media, melibatkan sebuah lembaga dan orang yang kemudian menjadi nomor satu di Amerika.

Donald Trump menggunakan jasa Cambridge Analytica dan Facebook pada perhelatan pemilu, hasil analisis yang memantau surplus dari kecenderungan perilaku pengguna facebook sejumlah 5000-an itu kemudian dipakai oleh perusahaan analis data yang berbasis di Inggris tersebut merancang skema untuk konten-konten kampanye dan diedarkan melalui media sosial demi kemenangan Donald Trump.

Sebuah kenyataan perkawinan antara fenomena sosial secara keseluruhan terdiri atas individu yang menjadi fokus ilmu sosial dan ketepatan algoritmis ditopang oleh matematika dan statistika serta rumpun keilmuan eksakta lainnya.

Pertanyaan yang mengemuka apakah meledaknya puncak revolusi teknologi dan sains (dalam hal ini yang dimaksud adalah ilmu-ilmu eksakta) pada puncak abad 20, yang berhasil membongkar dan mengubah pola masyarakat dunia seperti dalam skandal di atas.

Di mana posisi ilmu sosial? Apakah sebatas sebagai Elang atau Katak, atau keduanya atau malah alih-alih memberi kontribusi ikut membentuk zaman baru seperti yang dilakukan oleh teknologi dan sains seperti dalam konteks skandal di atas, mandeg sebagai penonton realitas

Teknologi digital ditopang sepaket perangkat algoritma dan kecanggihan bahasa formal matematis yang embrionya lahir dari karya kalkulus milik Newton.

Riwayat penemuan Newton sendiri memiliki kisah yang unik dan melankoli, Ia selama 13 tahun merahasikan temuan-temuannya dan hanya membagikannya kepada sahabat baik yang sudah dianggapnya seperti saudara Edmond Halley.

Orang pertama yang berhasil mengkalkulasi orbit komet Halley menggunakan matematika modern, Halley adalah orang yang mati-matian menolong karya Newton agar bisa diterbitkan oleh penerbit ilmiah kala itu :The Society, namun karena penerbit tersebut bangkrut.

Halley menginisiasi penerbitan karya Newton menggunakan dana pribadinya, belakangan hari karya Newton tidak hanya menjadi begitu berpengaruh dan sempat menuai kontroversi akibat perselisihan dengan Leibniz, bahkan ikut membentuk dan mempercepat revolusi industri di Inggris dan memulai gaya hidup baru saat itu.

Dalam masyarakat yang sangat terdigitalisasi seperti ini dan sempat dihantam berbagai kekacauan dalam konteks sosial seperti yang terjadi saat pandemi Covid 19.

Heru Nugroho seorang guru besar sosiologi UGM menawarkan 3 peluang rekognisi yang dikenal dalam ilmu sosial, salah satunya adalah rekognisi mutual, yakni menghormati nilai dan partikular dari seseorang elemen paling mendasar dari rekognisi itu adalah solidaritas, pada konteks yang lebih luas rekognisi ini dapat menjadi pilar penting dan tugas ilmu sosial untuk menjadi lokus awal dari bangunan besar rekognisi mutual pada zaman masyarakat digital.

Pencapaian itu akan membawa ilmu sosial sebagai elang dan sekaligus katak seperti pada artikulasi Freeman Dyson dan ikut memberi corak baru pada keadaan yang serba individualis, serta terjadi pemaknaan baru bagi peran Edmund Halley, yang tidak lagi dilihat hanya sebagai “pembantu” Newton namun ikut memberi warna baru bagi keberlansungan kehidupan yang lebih luas.**

Catatan : Tulisan ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis

(Info: himpun.id menerima kontribusi tulisan dengan berbagai tema. Rubrik tulisan yang dapat di kirim yakni Opini, Resensi, Cerpen, Puisi, Tips, Edukasi, Khazanah, dan lain sebagainya, selagi bermanfaat)

Advertisement

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini