Saya sering menyapa Kang Zulmus ketika berbincang khusus dengannya. Bahkan, saat idola kami berdua terpilih sebagai Bupati Kabupaten Gorontalo Utara (Gorut), saya sering memanggil dia Pak Bupati, meski dia lebih suka disapa dengan nama Zulmus.
Orang ini memang sudah cukup lama akrab dengan saya, dan nama sebenarnya adalah Zulkarnain Musada. Seorang pemuda asli Bumi Gerbang Emas (Gorontalo Utara), yang terlahir dari rahim seorang Ibu yang kini tengah belajar membiasakan hidup tanpa kehadirannya lagi.
Awal mengenal Zulmus, dari lewat tulisan-tulisannya yang membuat saya tertarik. Pertama membaca tulisan-tulisannya, saya menjadi teringat penulis idola kami berdua Thariq Modanggu, yang begitu hebat dalam menyajikan tulisan sehingga gurih untuk dinikmati dan mencerahkan.
Kemampuan menulis Zulmus memang sangat hebat, jauh di atas rata-rata. Mulai dari penyusunan kerangka tulisan, pemilihan diksi yang tepat hingga penggunaan frasa, semua terkemas dengan rapi dan terarah dan sekaligus mencerminkan kekayaan intelektual pemuda yang baru-baru ini, telah menutup usianya di umur 36 tahun itu.
Hubungan saya dengan Zulmus, mulai akrab ketika dia sering menitip tulisan-tulisannya. Dengan senang hati dan bangga, saya juga selalu menayangkan tulisan-tulisannya lewat media saya saat ini, “Brow, ana titip tulisan ini wa, siapa tahu ente mau kasih tayang,” ucapnya selalu, saat menitip tulisannya untuk ditayangkan.
Sejak mulai intens menayangkan tulisan-tulisannya, kita pun kemudian mulai sering berkomunikasi, berdiskusi dan bertukar pikiran mengenai materi yang ingin kita tulis, hingga kemudian waktu dan ketetapan Tuhan membuat kita bersama-sama berjuang, untuk salah satu dari bagian sejarah peradaban Gorontalo Utara.
Kami menjadi orang yang selalu menyuguhkan tulisan-tulisan terhadap tokoh pemekaran Kabupaten Gorut, bahkan ketika tak ada satu pandangan politik yang menyatakan Thariq Modanggu dapat berselencar di atas gelombang Pilkada.
“Alam akan selalu merespons setiap sugesti yang keluar dari pikiran manusia”. Begitu salah satu teori yang pernah salah satu senior kami Gandi Tapu ajarkan. Dengan teori ini saya menjadi menyadari, bahwa hal ini bisa saja menjadi spirit nilai yang terkadung dalam Yakin Usaha Sampai.
Sugesti yang kami berdua sering tularkan lewat tulisan-tulisan kami, direspons oleh alam yang kemudian menjadi spirit tersendiri bagi perjuangan untuk peradaban Gorontalo Utara.
Kini, sang petarung dan pejuang sejati itu telah tiada, dan harus pergi meninggalkan apa yang telah diperjuangkannya. Tepat di tanggal 8 Juni 2025, sosok yang akrab saya sapa Kang Zulmus itu menutup usia setelah berjuang melawan sakit yang dideritanya.
Almarhum Zulkarnain Musada di mata saya tak hanya sekadar pejuang kaleng-kaleng. Namun, petarung yang berani menyatakan sikap, disaat tak ada yang berani menyatakan secara terbuka atas apa yang diyakininya.
Satu prinsip Almarhum Zulkarnain Musada yang hari ini masih membekas dalam ingatan saya, bahwa yang berjuang dari hati tidak akan menghianati. Semoga Allah menjadikan perjuangannya untuk peradaban Gorontalo Utara, sebagai nilai untuk Almarhum sampai pada tujuan.
Penulis : Mohamad Yusrianto Panu














