Example floating
Example floating
OPINI

Kartini dan Narasi Sufistik Modern

0
×

Kartini dan Narasi Sufistik Modern

Sebarkan artikel ini
(Foto: Ilustrasi AI)

Oleh: Heri Isnaini

HIMPUN.ID Dalam pembacaan yang lebih hening, Kartini tidak hanya bergerak dalam ranah sosial, tetapi juga dalam lintasan batin yang sunyi. “Gelap” dan “terang” yang ia ucapkan tidak berhenti pada metafora pendidikan atau kemajuan, melainkan menyentuh wilayah yang lebih dalam, yakni pencarian makna. Dalam diri R.A. Kartini, terang bukan sekadar kondisi luar, tetapi peristiwa batin, yaitu sebuah kesadaran yang perlahan membuka diri terhadap hakikat hidup yang sebelumnya tertutup.

Di sini, Kartini dapat dibaca sebagai narasi sufistik modern. Bukan karena ia berbicara dalam bahasa tasawuf formal, tetapi karena ia menjalani struktur pengalaman yang serupa: kegelisahan, pencarian, keterbatasan, dan keinginan untuk mencapai kejernihan makna. “Gelap” adalah keterasingan dari diri sendiri, dari dunia, dari kemungkinan menjadi utuh. Sementara “terang” adalah momen ketika kesadaran mulai menemukan dirinya, meski tidak sepenuhnya membebaskan.

Namun, jika Kartini hidup dalam kekurangan akses, perempuan modern justru hidup dalam kelimpahan yang paradoksal. Mereka memiliki pilihan yang luas, ruang ekspresi yang terbuka, dan kesempatan untuk menjadi apa saja. Tetapi justru di tengah kelimpahan itu, muncul krisis yang lebih halus, yaitu krisis makna. Hidup tidak lagi dibatasi oleh larangan, tetapi dibingungkan oleh kemungkinan yang terlalu banyak.

Perempuan hari ini dapat menjadi apa saja, tetapi sering kali kehilangan jawaban atas pertanyaan, “Untuk apa menjadi…?” Dalam dunia yang serba cepat dan penuh representasi, identitas menjadi sesuatu yang bisa dibentuk, dipamerkan, dan diubah. Namun di balik itu, ada kekosongan yang tidak selalu terlihat, yaitu sebuah jarak antara “menjadi” dan “terlihat menjadi”.

Dalam lanskap digital, keberadaan perempuan sering kali diukur melalui visibilitas. Mereka hadir, dilihat, bahkan dirayakan. Tetapi visibilitas tidak selalu berbanding lurus dengan kedalaman. Seseorang bisa sangat terlihat, tetapi tidak benar-benar hadir sebagai dirinya sendiri. Di sinilah “terang” menjadi problematis. Ia tidak lagi membebaskan, tetapi justru bisa menyilaukan, menutupi kemungkinan untuk melihat ke dalam.

Sastra kembali menjadi ruang yang paling jujur untuk membaca kegelisahan ini. Dalam karya-karya kontemporer, kita menemukan perempuan yang tidak lagi hanya berjuang melawan struktur, tetapi juga melawan kekosongan makna dalam dirinya sendiri. Tokoh-tokoh dalam karya Ayu Utami, misalnya, bergerak dalam pencarian yang tidak selesai: antara tubuh, spiritualitas, dan kebebasan yang ambigu. Mereka tidak lagi bertanya apakah mereka bebas, tetapi apakah kebebasan itu memiliki arti.

Demikian pula dalam karya Leila S. Chudori, kita menemukan dimensi batin yang dalam. Tokoh-tokohnya tidak hanya menghadapi sejarah, tetapi juga menghadapi diri mereka sendiri dalam sejarah itu. Ada luka, ada kehilangan, tetapi juga ada pencarian makna yang tidak selalu menemukan jawaban. Sementara Ratih Kumala menghadirkan perempuan dalam pusaran sejarah dan budaya, yang tetap menyimpan ruang batin yang sunyi, tempat makna tidak selalu bisa dijelaskan, hanya dirasakan.

Dalam perspektif ini, Kartini menjadi sangat kontemporer, bahkan lebih dari yang kita bayangkan. Ia bukan hanya berbicara tentang keluar dari gelap, tetapi tentang bagaimana menghadapi terang. Ia mengingatkan bahwa terang bukan akhir, melainkan tahap lain dalam perjalanan batin yang justru bisa lebih membingungkan daripada gelap itu sendiri.

Dan mungkin, di titik ini, kita mulai memahami bahwa krisis perempuan modern bukan lagi soal kebebasan, tetapi soal kejernihan. Mereka tidak lagi bertanya bagaimana keluar dari batas, tetapi bagaimana menemukan makna di tengah batas yang telah hilang bentuknya.

Dalam nada yang paling sunyi, Kartini mengajarkan bahwa pencarian makna tidak selalu berujung pada jawaban. Kadang ia hanya membawa kita pada kesadaran bahwa hidup tidak harus sepenuhnya dipahami untuk bisa dijalani. Bahwa terang tidak selalu berarti jelas, dan bahwa dalam kebingungan yang jujur, manusia justru paling dekat dengan dirinya sendiri.

Bandung, 21 April 2026

Bionarasi Penulis

Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Heri merupakan kontributor media RNSI dan Literatura Nusantara

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *