HIMPUN.ID – Program pengadaan bibit sapi yang dilakukan Pemerintah Provinsi Gorontalo setiap tahun kembali menjadi sasaran kritik pedas. Gustam Ismail, mantan pelaku usaha sekaligus pedagang sapi lintas pulau, menyoroti bahwa program bernilai miliaran rupiah ini berjalan tanpa didukung oleh regulasi yang jelas, mengakibatkan kegagalan dalam mencapai swasembada populasi lokal.
Menurut Gustam, ketiadaan aturan spesifik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota yang mengatur proses pengadaan, penyaluran, dan pengawasan bibit sapi merupakan lubang besar yang harus segera ditutup.
“Setiap tahun ada pengadaan, tetapi sampai sekarang belum ada inisiatif membuat regulasi khusus. Ini sangat penting agar program ini berkelanjutan dan tidak hanya habis di proyek musiman,” ujar Gustam Ismail.
Kritik utama Gustam terletak pada kontradiksi antara tujuan program dan realitas di lapangan. Meskipun pemerintah mencanangkan pengadaan sapi untuk menambah populasi dan memperkuat sektor peternakan, faktanya, Gorontalo masih sangat bergantung pada pasokan sapi yang didatangkan dari luar daerah.
“Kalau tujuannya menambah populasi, harusnya kita sudah kuat secara produksi dalam daerah. Namun kenyataannya masih banyak sapi dari luar daerah masuk. Ini menandakan populasi kita belum cukup,” terangnya.
Kondisi ini tidak hanya menunjukkan program belum efektif, tetapi juga membuat perputaran uang dan potensi ekonomi daerah keluar. Padahal, stabilitas populasi adalah kunci untuk menjaga harga dan ketersediaan komoditas daging di pasaran.
Sebagai pedagang yang memiliki pengalaman mengirim sapi ke Kalimantan, Gustam juga menyoroti tantangan operasional dan kerugian akibat kualitas dan kesehatan sapi yang didatangkan dari luar daerah.
“Kami sering menerima sapi yang kondisinya stres bahkan ada yang mati setelah perjalanan jauh. Ini nilai kerugiannya cukup besar,” jelasnya, menekankan pentingnya pengawasan kesehatan yang ketat.
Gustam berharap pemerintah daerah segera mengubah fokus. Alih-alih hanya berorientasi pada pengadaan, pemerintah harus fokus memperkuat produksi dan kualitas sapi lokal melalui pembinaan peternak dan jaminan kesehatan hewan ternak sebelum didistribusikan.
“Kalau produksi lokal kuat, kita tidak lagi bergantung pada sapi luar. Peternak kita juga lebih sejahtera, dan ekonomi daerah ikut tumbuh,” tutup Gustam, mendesak penyusunan regulasi yang modern untuk memastikan industri peternakan sapi di Gorontalo berkembang signifikan dan berkelanjutan.*















