Oleh: Heri Isnaini
HIMPUN.ID – Ada ruang kebudayaan yang tidak selalu mudah diberi batas. Jawa dan Islam, misalnya, bukan dua dunia yang selalu berdiri berhadapan. Dalam perjalanan sejarahnya, keduanya mengalami perjumpaan, negosiasi, penafsiran, dan akulturasi yang panjang. Dari perjumpaan tersebut lahir berbagai bentuk ekspresi kebudayaan yang memperlihatkan bagaimana ajaran Islam dapat dibaca melalui pengalaman kultural Jawa, dan sebaliknya tradisi Jawa dapat menemukan bentuk baru setelah berinteraksi dengan Islam.
Salah satu ruang untuk melihat perjumpaan itu adalah puisi. Dalam Mantra Orang Jawa, Sapardi Djoko Damono menghadirkan berbagai tanda yang memperlihatkan kelindan antara tradisi Jawa, mistisisme, dan unsur Islam. Penelitian mengenai kumpulan puisi tersebut menggunakan semiotika Charles Sanders Peirce dan intertekstualitas untuk membaca bagaimana tanda-tanda tersebut membangun gagasan tentang Islam-Jawa.
Salah satu contoh yang menarik terdapat dalam “Kidung Air”, ketika Batara Wisnu hadir sebagai tokoh yang berkaitan dengan penguasaan air di berbagai penjuru. Tokoh tersebut tidak hadir sendirian. Ia membawa ingatan tentang kosmologi Jawa dan silsilah mitologis yang menghubungkan raja-raja Jawa dengan Nabi Adam melalui rangkaian tokoh mitologis seperti Sis, Nurcahya, Nurasa, Sanghyang Tunggal, Batara Guru, hingga Batara Wisnu.
Bagi pembaca yang terbiasa memisahkan agama dan mitologi secara tegas, perjumpaan semacam itu mungkin terasa ganjil. Namun, justru keganjilan itulah yang menarik. Kebudayaan tidak selalu tumbuh melalui garis lurus. Ia berkembang melalui perjumpaan. Sebuah masyarakat dapat menerima agama baru tanpa serta-merta menghapus seluruh simbol lama yang telah hidup dalam ingatan kolektifnya.
Sebab itu, tanda-tanda dalam Mantra Orang Jawa perlu dibaca sebagai bagian dari kelindan kebudayaan. Ada “Bismillah”, ada Kyai Pamong dan Nyai Pamong, ada Kyai Kliwon dan Nyai Kliwon, ada Baginda Adam dan Baginda Hawa, tetapi pada saat yang sama terdapat kosmologi Jawa, arah mata angin, mantra, Batara Wisnu, dan berbagai simbol tradisi mistik.
Semua itu memperlihatkan bahwa identitas kebudayaan tidak selalu bersifat tunggal. Seseorang dapat hidup dalam tradisi Islam, tetapi tetap memahami dunia melalui simbol-simbol Jawa. Ia dapat mengenal Tuhan melalui bahasa agama sekaligus menggunakan konsep-konsep kebatinan untuk memahami hubungan manusia dengan Sang Pencipta.
Di sinilah istilah Islam-Jawa menjadi menarik. Ia bukan sekadar penjumlahan antara Islam dan Jawa, melainkan sebuah ruang tafsir yang lahir dari perjumpaan keduanya. Penelitian tersebut mengaitkannya dengan gagasan Woodward mengenai praktik mistisisme dan hubungan antara syariat dengan doktrin mistik. Dalam konteks ini, Islam-Jawa menunjukkan bagaimana religiositas mengalami proses penafsiran dalam ruang kebudayaan tertentu.
Sapardi kemudian memasukkan kompleksitas tersebut ke dalam puisi. Yang menarik, ia tidak menjelaskannya seperti seorang ahli sejarah agama. Ia menyembunyikannya dalam tanda. Pembaca menemukan nama, simbol, arah, tokoh, dan ungkapan yang tampak sederhana, tetapi ketika dirangkaikan dengan teks-teks budaya lain, tanda tersebut membuka lapisan makna yang lebih luas.
Inilah yang membuat semiotika menjadi penting. Sebuah tanda tidak berhenti pada apa yang tampak. Ia menunjuk kepada sesuatu yang lain. Kata “Adam”, misalnya, bukan sekadar nama tokoh. Ia membawa jaringan makna tentang asal-usul manusia, penciptaan, hubungan manusia dengan Tuhan, dan dalam konteks puisi Sapardi dapat berkelindan dengan tradisi Jawa tentang asal-usul manusia.
Demikian pula dikotomi lahir dan batin. Dalam tradisi mistik Jawa, kedua istilah tersebut bukan sekadar oposisi, tetapi dapat menjadi jalan menuju pemahaman tentang kesatuan manusia dengan Tuhan. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa pola dikotomi menjadi bagian penting dalam pembacaan ideologi Islam-Jawa, termasuk hubungan antara lahir dan batin serta gagasan tentang penyatuan dengan Sang Pencipta.
Pada akhirnya, yang menarik dari Mantra Orang Jawa bukan hanya persoalan apakah Sapardi sedang menulis puisi tentang Islam atau tentang Jawa. Pertanyaan yang lebih produktif adalah bagaimana sebuah puisi memperlihatkan proses perjumpaan dua tradisi kebudayaan tersebut.
Puisi menjadi ruang tempat tanda-tanda lama memperoleh tafsir baru. Tradisi tidak selalu hadir dalam bentuk yang utuh dan tidak berubah. Ia dapat mengalami transformasi ketika masuk ke dalam kesadaran penyair. Sapardi mengambil mantra, simbol Jawa, nama-nama dalam tradisi Islam, dan berbagai tanda kebudayaan, kemudian mengolahnya menjadi puisi.
Sebab itu, Mantra Orang Jawa dapat dibaca sebagai semacam peta kecil tentang keberagamaan dan kebudayaan yang tidak selalu hitam-putih. Ada mistik, ada agama, ada tradisi, ada sastra, dan semuanya bertemu dalam bahasa.
Mungkin di situlah puisi bekerja dengan cara yang paling menarik: ia tidak memberikan jawaban tunggal tentang bagaimana Islam dan Jawa harus dipahami, tetapi memperlihatkan bahwa sejarah kebudayaan manusia selalu berlangsung melalui perjumpaan, penyesuaian, dan tafsir.
Dan dalam puisi, perjumpaan itu tidak selalu hadir sebagai perdebatan. Kadang ia hanya berupa satu kata, satu nama, satu simbol, atau satu mantra yang tiba-tiba membuat kita sadar bahwa di dalam sebuah kebudayaan selalu terdapat jejak kebudayaan lain yang pernah datang, singgah, lalu menjadi bagian dari ingatan.
Bandung, 26 September 2026
Penulis:
Heri Isnaini, dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Email: heriisnaini.heriisnaini@gmail.com














