Oleh: Heri Isnaini
HIMPUN.ID – Perjalanan seorang salik menuju Khalik bukan semata-mata persoalan mendekatkan diri kepada Tuhan, melainkan juga ikhtiar memahami kedudukan manusia di hadapan-Nya. Dalam tradisi tasawuf, perjalanan tersebut menuntut kesungguhan lahiriah dan kejernihan batiniah. Keinginan untuk mengenal Tuhan tidak cukup berhenti sebagai hasrat, sebab jalan spiritual memerlukan latihan, pengendalian diri, dan kesediaan meninjau kembali segala sesuatu yang selama ini dianggap benar tentang diri sendiri. Di dalam kelindan proses itu, manusia berhadapan dengan hawa nafsu, keterikatan duniawi, keraguan, dan kerinduan terhadap sesuatu yang melampaui kehidupan material.
Sastra sufi memberikan bentuk yang khas bagi pengalaman tersebut. Perjalanan rohani tidak selalu dijelaskan melalui konsep atau uraian teologis, tetapi dihadirkan melalui perahu yang mengarungi lautan, burung-burung yang menempuh perjalanan panjang, atau seorang pencinta yang kehilangan batas antara kerinduan dan dirinya sendiri. Simbol-simbol itu tidak sekadar memperindah bahasa. Ia menjadi jalan untuk menafsirkan pengalaman spiritual yang tidak seluruhnya dapat diterangkan melalui bahasa konseptual. Melalui sastra, perjalanan menuju Tuhan memperoleh bentuk naratif dan puitik yang memungkinkan pembaca memasuki pergulatan manusia ketika berhadapan dengan keterbatasan dirinya.
Dalam khazanah sastra sufistik Nusantara, Syair Perahu karya Hamzah Fansuri menjadi salah satu karya penting untuk membaca hubungan antara manusia, kehidupan, dan perjalanan spiritual. Hamzah Fansuri, penyair sekaligus pemikir tasawuf yang hidup sekitar abad ke-16 hingga ke-17, mengolah pemikiran sufistik melalui bentuk syair Melayu. Karya-karyanya memperlihatkan bagaimana gagasan tasawuf dapat disampaikan melalui simbol, irama, dan bahasa puitik yang berakar pada tradisi sastra Melayu.
Dalam Syair Perahu, perahu menjadi lambang penting bagi perjalanan manusia menjalani kehidupan. Manusia tidak digambarkan sebagai makhluk yang tinggal diam di suatu tempat, melainkan sebagai penumpang yang harus mengarungi perjalanan dengan segala kemungkinan dan risikonya. Lautan, perahu, dan pelayaran menghadirkan gambaran tentang kehidupan yang tidak selalu tenang. Perjalanan membutuhkan kesiapan, pengetahuan, dan pegangan agar manusia tidak kehilangan arah. Simbol tersebut mengingatkan bahwa kehidupan bukan hanya perkara menjalani waktu, tetapi juga tentang bagaimana seseorang mempersiapkan dirinya menghadapi perjalanan yang lebih luas daripada kepentingan duniawi. Pembacaan terhadap simbol perahu sebagai gambaran manusia dan perjalanan hidup juga menjadi perhatian dalam kajian sastra sufi Hamzah Fansuri.
Jika dibaca melalui konsep salik dan suluk, perahu dapat ditafsirkan sebagai ruang ikhtiar manusia. Perahu tidak akan bergerak hanya karena penumpangnya memiliki keinginan untuk mencapai tujuan. Ia membutuhkan pengemudi, arah, dan kemampuan menghadapi keadaan yang berubah. Demikian pula seorang salik yang menempuh jalan spiritual: kehendak untuk mendekat kepada Allah perlu disertai latihan diri, ibadah, pengendalian hawa nafsu, dan kesungguhan menjalani kehidupan sesuai tuntunan agama. Simbol perahu mempertemukan perjalanan fisik dengan perjalanan batin, sekaligus mengingatkan bahwa tujuan spiritual tidak dapat dilepaskan dari cara manusia menjalani prosesnya.
Hubungan itu dapat dibaca melalui konsep ikhtiyar, yakni usaha manusia untuk menata dirinya. Dalam kerangka tasawuf, ikhtiyar mencakup riyadhah, mujahadah, tafakur, tazkiyat an-nafs, dan dzikrullah. Kelimanya menandai kesungguhan dalam melatih jiwa, melawan kecenderungan buruk, merenungkan kehidupan, menyucikan diri, dan mengingat Allah. Perjalanan spiritual tidak berlangsung tanpa keterlibatan manusia. Ada kebiasaan yang harus diperbaiki, keinginan yang perlu dikendalikan, dan kesalahan yang harus diakui.
Sastra sufi tidak menyampaikan persoalan tersebut hanya sebagai daftar kewajiban. Ia mengubahnya menjadi pengalaman simbolik yang dapat direnungkan. Dalam sebuah pelayaran, manusia tidak hanya berhadapan dengan luasnya laut, tetapi juga dengan keterbatasan pengetahuan dan kemampuannya sendiri. Dalam pembacaan ini, laut dapat menjadi ruang tafsir bagi kehidupan yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali manusia, sedangkan perahu menghadirkan gambaran tentang usaha menjaga arah di tengah ketidakpastian. Tafsir tersebut bukan satu-satunya makna yang mungkin, tetapi memperlihatkan bagaimana bahasa sastra memungkinkan pengalaman spiritual dibaca melalui benda-benda yang akrab dalam kehidupan manusia.
Perjalanan yang serupa, dengan bentuk simbolik berbeda, hadir dalam Maná¹iq al-Ṭayr atau Musyawarah Burung karya Fariduddin Attar. Karya ini mengisahkan perjalanan burung-burung yang mencari Simurgh, sosok yang menjadi pusat pencarian mereka. Perjalanan itu dipimpin oleh Hudhud dan berlangsung melalui tujuh lembah yang lazim dikenal sebagai lembah pencarian, cinta, pemahaman, ketidakmelekatan, keesaan, kebingungan, serta kefakiran dan kefanaan. Perjalanan burung-burung tersebut menggambarkan pencarian spiritual yang menuntut perubahan mendalam pada diri para penempuhnya.
Burung dalam karya Attar bukan sekadar makhluk yang bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Mereka membawa keraguan, keterikatan, ketakutan, dan alasan masing-masing untuk menunda perjalanan. Dengan demikian, hambatan terbesar tidak selalu terletak pada luasnya wilayah yang harus dilalui, tetapi juga pada keadaan batin yang membuat seseorang enggan meninggalkan kenyamanan. Perjalanan menuju Simurgh dapat dibaca sebagai gambaran tentang pencarian yang menuntut pelepasan ego dan perubahan cara memahami diri. Dalam tradisi sastra sufi, alegori burung tersebut menjadi salah satu bentuk penting untuk menggambarkan perjalanan spiritual melalui bahasa naratif.
Jika perahu Hamzah Fansuri mengajak kita memikirkan kesiapan manusia menjalani pelayaran kehidupan, burung-burung Attar memperlihatkan kesulitan meninggalkan keterikatan yang menghambat pencarian. Keduanya mempertemukan perjalanan lahiriah dengan pergulatan batin. Perahu membutuhkan arah agar tidak terombang-ambing, sedangkan burung-burung membutuhkan keberanian untuk menempuh jalan yang tidak menjanjikan kenyamanan. Kedua gambaran tersebut membantu kita memahami bahwa suluk bukan sekadar gerak menuju suatu tujuan, melainkan perubahan dalam cara manusia menilai dirinya, keinginannya, dan hubungannya dengan dunia.
Dimensi lain dari perjalanan batin dapat ditemukan dalam Mathnawi karya Jalaluddin Rumi. Melalui kisah, perumpamaan, dialog, dan puisi, Rumi mengeksplorasi cinta, kerinduan, keterbatasan akal, serta hubungan manusia dengan Tuhan. Dalam tradisi pembacaan sufistik, cinta bukan hanya perasaan yang menghubungkan seseorang dengan sesuatu yang dicintainya. Cinta juga menjadi daya yang menggerakkan pencarian, mengguncang kemapanan ego, dan membuka kemungkinan pemahaman yang lebih dalam tentang keberadaan. Kajian mengenai pemikiran sufistik Nusantara juga mencatat pengaruh tradisi pemikiran Rumi dan Attar dalam perkembangan tasawuf Hamzah Fansuri.
Melalui ketiga karya tersebut, konsep maqamat dan ahwal dapat dibaca dalam hubungan yang lebih dekat dengan pengalaman sastra. Maqamat berkaitan dengan tingkatan spiritual yang ditempuh melalui kesungguhan, seperti tobat, zuhud, sabar, syukur, rida, dan tawakal. Sementara itu, ahwal berkaitan dengan keadaan batin seperti cinta, harap, takut, kerinduan, dan keintiman spiritual. Keduanya tidak semestinya dipahami sebagai tahapan yang selalu berlangsung secara mekanis. Perjalanan manusia memiliki kerumitan yang tidak dapat disederhanakan menjadi urutan yang sepenuhnya pasti.
Dalam karya sastra sufi, proses tersebut memperoleh bentuk melalui perubahan tokoh, perjalanan alegoris, dan pergulatan simbolik. Pembaca tidak hanya mengetahui bahwa seorang penempuh jalan spiritual perlu bersabar atau melepaskan keterikatan duniawi. Pembaca diajak menyaksikan bagaimana keterikatan bekerja, bagaimana keraguan menghambat perjalanan, dan bagaimana kerinduan mendorong seseorang untuk terus mencari. Sastra dengan demikian tidak menggantikan ajaran tasawuf, tetapi membuka ruang interpretasi untuk memahami dimensi pengalaman yang menyertai pencarian spiritual.
Bagi saya, kekuatan sastra sufi terletak pada kemampuannya menghadirkan gagasan spiritual tanpa mengurungnya dalam definisi yang kaku. Perahu, burung, lautan, dan perjalanan menjadi tanda yang dapat ditafsirkan melalui pengalaman pembaca, tetapi tetap terikat pada konteks karya dan tradisi pemikirannya. Pembacaan yang cermat perlu menjaga jarak antara simbol sastra dan konsep teologis agar keduanya tidak disamakan begitu saja. Justru dengan menjaga perbedaan itulah perjumpaan sastra dan tasawuf dapat menghasilkan pemahaman yang lebih kaya.
Perjalanan salik menuju Khalik pada akhirnya membawa kita kepada pertanyaan mengenai bagaimana manusia menjalani kehidupannya. Ikhtiyar mengingatkan pentingnya usaha, maqamat memperlihatkan kesungguhan dalam menempuh tingkatan spiritual, sedangkan ahwal membuka perhatian pada pengalaman batin yang menyertai perjalanan tersebut. Sastra sufi memberikan bahasa bagi pencarian itu melalui simbol dan alegori yang memungkinkan manusia merenungkan dirinya sendiri.
Perahu Hamzah Fansuri dan burung-burung Attar mengajarkan bahwa pencarian spiritual memerlukan kesiapan untuk bergerak sekaligus keberanian untuk melepaskan keterikatan. Rumi memperlihatkan bagaimana cinta dan kerinduan dapat menjadi daya yang menggerakkan pencarian makna. Ketiganya memperkaya pemahaman kita tentang suluk sebagai perjalanan yang melibatkan tindakan, pengalaman batin, dan perubahan cara memandang keberadaan.
Sastra sufi tidak menjanjikan bahwa setiap pembaca akan mencapai pengalaman spiritual yang sama. Ia menyediakan ruang bagi manusia untuk menafsirkan jejak pencarian, mengenali keterbatasan diri, dan memahami bahwa perjalanan menuju Tuhan bukanlah perkara yang dapat diselesaikan hanya dengan pengetahuan. Di antara simbol, kerinduan, dan ikhtiar, manusia terus belajar membaca dirinya di hadapan Sang Khalik.
Bandung, 18 Oktober 2026
Penulis:
Heri Isnaini, dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Email: heriisnaini.heriisnaini@gmail.com














