Example floating
Example floating
OPINI

Ketika Robot Berlari Lebih Cepat daripada Manusia

0
×

Ketika Robot Berlari Lebih Cepat daripada Manusia

Sebarkan artikel ini
Ketika Robot Berlari Lebih Cepat daripada Manusia oleh Heri Isnaini (Foto: Ilustrasi).

Oleh: Heri Isnaini

HIMPUN.ID Ada sesuatu yang selalu membuat saya tertarik dari perlombaan lari, terutama pada beberapa detik menjelang suara aba-aba terdengar, ketika para pelari telah menempatkan tubuhnya di belakang garis start dan stadion perlahan berubah menjadi ruang yang nyaris tanpa suara. Beberapa pasang kaki menekan lintasan, tangan bertumpu pada permukaan yang dingin, kepala menunduk, sementara ribuan mata dari tribun menunggu sesuatu yang sebenarnya hanya berlangsung sebentar. Pada saat seperti itu, manusia tampak sedang berhadapan dengan waktu dalam bentuknya yang paling telanjang. Tidak ada ruang untuk bersembunyi, tidak ada kesempatan untuk mengulang, dan tidak ada kemungkinan memperpanjang satu detik yang terlewat.

Seratus meter, bagi penonton, mungkin hanyalah jarak yang dapat ditempuh dalam hitungan detik. Namun bagi seorang pelari, jarak tersebut merupakan ujung dari perjalanan yang jauh lebih panjang: bertahun-tahun latihan yang tidak disaksikan kamera, pagi ketika tubuh belum sepenuhnya bangun tetapi kaki sudah dipaksa bergerak, otot yang nyeri, kegagalan yang harus diterima, dan gerakan yang dilakukan berulang-ulang sampai tubuh mengenalinya bahkan sebelum pikiran memberi perintah.

Sebab itu, ketika dunia olahraga dan teknologi diramaikan berita tentang robot humanoid yang mencatat waktu 9,39 detik dalam nomor lari 100 meter pada World Humanoid Robot Games di Beijing, lebih cepat daripada rekor Usain Bolt 9,58 detik, saya merasa ada sesuatu yang perlu dibaca lebih perlahan daripada sekadar angka di papan waktu.

Berita itu mudah dipahami jika kita membacanya sebagai perlombaan: ada catatan lama, muncul catatan baru, kemudian kita mencari nama siapa yang dikalahkan. Tetapi kehidupan manusia jarang sesederhana papan skor. Sebuah angka dapat menjelaskan siapa yang lebih cepat, tetapi tidak selalu mampu menjelaskan mengapa seseorang berlari, apa yang dibawanya ketika berlari, dan mengapa gerakan yang hanya berlangsung beberapa detik dapat mempunyai arti selama bertahun-tahun. Sebab itu, barangkali yang sedang kalah bukan Usain Bolt. Barangkali yang sedang kalah adalah cara kita memandang manusia.

Nama Usain Bolt telah lama menempati ruang khusus dalam ingatan olahraga modern. Ia bukan hanya seorang pelari yang pernah mencatat 9,58 detik pada nomor 100 meter; tubuhnya, gerakannya, bahkan gaya perayaannya setelah mencapai garis finis telah menjadi bagian dari kebudayaan populer. Angka 9,58 kemudian tumbuh menjadi semacam monumen, hanya saja monumen itu tidak dibangun dari batu, melainkan dari waktu.

Sepersekian detik yang begitu kecil justru menjadi besar sebab manusia memberinya makna. Kita menyimpannya dalam buku sejarah olahraga, mengulangnya dalam berita, membandingkannya dengan catatan pelari lain, dan mengingatnya sebagai salah satu pencapaian yang pernah membawa tubuh manusia mendekati batas kemampuan fisiknya.

9,58 bukan sekadar ukuran waktu. Ia merupakan ejawantah dari latihan yang panjang, disiplin yang mungkin terasa membosankan, tubuh yang berkali-kali dipaksa mengenali batas, serta keberanian untuk berdiri di lintasan ketika kemungkinan kalah selalu terbuka. Kita tidak mengagumi angka itu semata-mata sebab pendek; kita mengaguminya sebab tahu ada manusia yang pernah berada di belakang angka tersebut.

Ketika kemudian angka 9,39 muncul, kita kembali kepada kebiasaan lama: membandingkan. Yang baru dianggap lebih hebat sebab lebih cepat, sementara yang lama ditempatkan sebagai sesuatu yang telah dilewati. Nama Bolt kembali dipanggil, bukan untuk mengingat seluruh perjalanan yang membuatnya menjadi Bolt, melainkan untuk ditempatkan sebagai angka yang kini berada di bawah angka lain.

Ada sesuatu yang agak kejam dalam cara kita memperlakukan prestasi manusia seperti itu. Kita sering menikmati puncak seseorang tanpa pernah benar-benar ingin mengetahui pendakiannya.

Mungkin sebab itulah kebudayaan kita semakin mudah terpesona oleh hasil. Layar telepon membuat pencapaian orang lain hadir begitu dekat, bahkan ketika kehidupan kita dan kehidupan mereka sebenarnya dipisahkan oleh ribuan kilometer, perbedaan pengalaman, kesempatan, lingkungan, dan nasib. Ketika seseorang menerbitkan buku, memperoleh penghargaan, menyelesaikan pendidikan, membangun karier, atau menemukan keberhasilan dalam bidang tertentu, yang sampai kepada kita sering kali hanyalah hasil akhirnya, sementara kegagalan yang mendahului pencapaian itu tidak pernah ikut masuk ke dalam layar.

Kita melihat seseorang berdiri di panggung, tetapi tidak melihat malam-malam ketika ia hampir menyerah. Kita membaca nama di sampul buku, tetapi tidak mengetahui berapa banyak halaman yang dibuang sebelum buku itu menemukan bentuknya. Kita mengetahui seseorang mendapatkan penghargaan, tetapi tidak mengetahui berapa kali ia mengirimkan karya dan tidak memperoleh jawaban.

Lanskap digital memang membuat dunia menjadi lebih dekat, tetapi kedekatan itu sekaligus membawa persoalan baru sebab kehidupan orang lain hadir dalam bentuk yang sudah dipilih dan dirapikan. Kita melihat hasil, bukan seluruh riwayat. Kita menerima kemenangan sebagai gambar, sementara kekalahan biasanya disimpan di luar bingkai.

Pada titik tertentu, kita mulai mengukur diri sendiri menggunakan kehidupan orang lain sebagai pembanding, padahal yang kita bandingkan sesungguhnya bukan dua kehidupan, melainkan kehidupan yang sedang kita jalani dengan potongan terbaik kehidupan orang lain. Mungkin di situlah perlombaan yang paling melelahkan dimulai. Bukan di stadion. Melainkan di kepala kita sendiri.

Padahal ada begitu banyak pekerjaan manusia yang sejak awal tidak diciptakan untuk diperlombakan. Seorang ibu yang duduk di sisi tempat tidur anaknya sepanjang malam tidak sedang mengejar rekor apa pun; ia hanya memastikan bahwa ketika anak itu terbangun sebab demam, ada tangan yang dapat diraihnya. Seorang guru yang mengulang penjelasan yang sama untuk kesekian kalinya mungkin tidak sedang menghasilkan sesuatu yang spektakuler, tetapi kesabaran semacam itu kadang-kadang menjadi titik kecil yang mengubah kehidupan seorang murid.

Begitu pula seorang penyair yang berhari-hari menimbang satu kata, mengganti satu larik, kemudian kembali kepada larik sebelumnya sebab merasa ada sesuatu yang belum selesai. Dari luar, pekerjaan itu mungkin terlihat lambat, tetapi justru dalam kelambatan itulah bahasa sering menemukan bentuk yang paling jujur. Tidak semua yang berharga dapat dipercepat.

Ada pengalaman yang membutuhkan waktu untuk menjadi ingatan, ada luka yang tidak dapat dipaksa segera sembuh hanya sebab kehidupan menuntut kita kembali produktif, dan ada perjumpaan yang baru kita pahami bertahun-tahun kemudian ketika orang yang pernah hadir di dalamnya mungkin sudah tidak lagi berada di dekat kita. Sastra hidup di wilayah semacam itu. Ia tidak tergesa-gesa.

Sebuah puisi tidak menjadi lebih dalam hanya sebab selesai lebih cepat. Sebuah novel tidak menjadi lebih bermakna sebab ditulis dalam waktu yang lebih singkat. Bahkan sebuah kalimat sederhana kadang-kadang membutuhkan perjalanan batin yang panjang sebelum akhirnya menemukan bentuknya.

Mungkin sebab itu sastra selalu mempunyai hubungan yang ganjil dengan waktu. Ia lahir dari kehidupan yang berlangsung, tetapi sering kali baru dipahami setelah kehidupan tersebut berlalu.

Ketika membaca berita tentang robot yang berlari lebih cepat daripada Bolt, saya justru teringat pada pertanyaan sederhana yang sering hilang dari pembicaraan tentang prestasi: untuk apa manusia berlari? Pertanyaan itu tampak naif dalam sebuah perlombaan yang memang memiliki tujuan jelas. Pelari berlari untuk mencapai garis finis secepat mungkin. Namun, jika pertanyaan tersebut dibawa keluar dari stadion, jawabannya menjadi tidak sederhana.

Manusia berlari mengejar pekerjaan, tetapi kadang-kadang tidak tahu kapan harus berhenti. Ia mengejar pendidikan, lalu setelah memperoleh gelar masih bertanya apa yang sebenarnya dicari. Ia mengejar uang, kemudian menemukan bahwa sebagian hal yang paling berharga dalam hidup tidak pernah dapat dibeli. Ia mengejar pengakuan, lalu mendapati bahwa tepuk tangan mempunyai umur yang pendek.

Barangkali kita memang hidup dalam kebudayaan yang terlalu akrab dengan kata “lebih”. Lebih cepat, lebih tinggi, lebih banyak, lebih terkenal, lebih produktif, lebih unggul. Kata itu tampak sederhana, tetapi ketika terus-menerus digunakan, ia dapat mengubah cara kita memandang diri sendiri. Kehidupan menjadi sesuatu yang selalu kurang sebab setiap pencapaian segera melahirkan ukuran baru yang harus dikejar.

Kita menyelesaikan pendidikan dan merasa harus segera mendapatkan pekerjaan; setelah bekerja, mengejar jabatan; setelah memperoleh jabatan, mengejar penghasilan; setelah memperoleh penghasilan, mengejar sesuatu yang lain lagi. Pada akhirnya, hidup seperti lintasan yang garis finisnya selalu dipindahkan beberapa meter lebih jauh ketika kita hampir mencapainya. Mungkin yang kita perlukan bukan selalu kecepatan baru, melainkan keberanian untuk bertanya apakah lintasan itu memang menuju tempat yang ingin kita datangi.

Di sinilah peristiwa tentang robot tersebut menjadi lebih menarik apabila dibaca sebagai teks kebudayaan. Sebuah robot dapat berlari, mencatat waktu, dan memecahkan rekor. Namun ketika kita melihat Bolt berlari, kita melihat sesuatu yang berbeda sebab tubuh manusia membawa riwayat. Tubuh seorang atlet bukan sekadar perangkat untuk menghasilkan kecepatan; tubuh itu pernah sakit, lelah, gagal, dirawat, dan dipaksa bekerja melampaui kebiasaan, lalu membawa seluruh pengalaman tersebut ke dalam satu gerakan yang berlangsung hanya beberapa detik.

Barangkali inilah yang luput ketika kita terlalu cepat mengatakan bahwa sesuatu telah “mengalahkan” manusia. Kita membandingkan hasil tanpa membandingkan makna. Kita menyamakan gerak tanpa melihat pengalaman. Kita menghitung kecepatan tanpa mempertanyakan cerita.

Padahal manusia bukan hanya sesuatu yang dapat melakukan sesuatu. Manusia adalah makhluk yang memberi arti kepada apa yang dilakukannya. Itulah sebabnya sebuah langkah kaki dapat menjadi kenangan, sebuah rumah dapat menjadi masa kecil, selembar surat dapat menjadi benda yang disimpan puluhan tahun, dan sebuah puisi dapat membuat seseorang tiba-tiba mengingat orang yang telah lama pergi. Makna lahir dari kelindan antara pengalaman dan ingatan.

Sebab itu, saya tidak merasa bahwa rekor Bolt menjadi kurang berarti hanya sebab ada catatan yang lebih cepat. Sejarah tidak bekerja seperti papan peringkat. Candi Borobudur tidak menjadi kurang penting sebab manusia kemudian mampu membangun gedung yang lebih tinggi. Lukisan lama tidak kehilangan makna hanya sebab teknologi memungkinkan gambar dibuat dalam hitungan detik. Sebuah lagu yang pernah menemani seseorang melewati masa remajanya tidak menjadi tidak berarti hanya sebab hari ini tersedia ribuan lagu baru.

Yang baru tidak selalu datang untuk membatalkan yang lama. Kadang-kadang ia hanya memperluas batas kemungkinan. Jika robot dapat berlari semakin cepat, biarlah manusia belajar dari sana tentang kemampuan teknologi, tetapi jangan sampai kita kehilangan kemampuan untuk melihat manusia sebagai sesuatu yang lebih luas daripada performa.

Sebab jika manusia hanya dinilai dari kecepatan, manusia akan selalu mempunyai kemungkinan untuk kalah. Akan selalu ada sesuatu yang lebih cepat, lebih kuat, atau lebih presisi. Namun kehidupan manusia tidak hanya terdiri atas hal-hal yang dapat dibandingkan. Ada kesetiaan yang tidak dapat diberi skor, keberanian yang berlangsung dalam kesunyian, pengorbanan yang tidak pernah masuk berita, dan kasih sayang yang tidak mempunyai penonton. Ada seseorang yang setiap hari melakukan hal kecil yang sama selama bertahun-tahun tanpa pernah disebut hebat, padahal mungkin justru dari ketekunan semacam itulah sebuah keluarga tetap berdiri.

Maka saya membayangkan kembali garis finis itu ketika stadion mulai sepi dan para penonton perlahan meninggalkan tempat duduknya. Lintasan yang beberapa saat sebelumnya dipenuhi sorak-sorai kembali menjadi sebidang ruang yang tenang; tidak ada lagi tubuh yang berlari, kamera yang mengejar gerakan, atau angka yang harus diperdebatkan. Garis putih masih berada di tempatnya, tetapi ia tidak peduli siapa yang menang. Mungkin manusia juga seperti itu.

Kita datang ke dunia dengan jarak yang tidak pernah kita ketahui panjangnya, kemudian bergerak dengan kemampuan yang berbeda-beda, melewati orang-orang yang suatu hari mungkin berjalan lebih lambat daripada kita dan pada hari lain justru meninggalkan kita jauh di belakang. Kita mengumpulkan pencapaian, menyimpan kegagalan, mencintai beberapa orang, kehilangan beberapa yang lain, menulis sebagian pengalaman ke dalam ingatan, lalu pada akhirnya berhenti.

Yang tertinggal bukan kecepatan kita. Yang tertinggal adalah jejak, cerita, ingatan, dan makna yang pernah kita berikan kepada perjalanan tersebut. Sebab itu, ketika dunia kembali sibuk membicarakan siapa yang berlari lebih cepat, saya tidak ingin buru-buru mencari siapa yang kalah. Saya ingin melihat lebih jauh, ke tempat yang tidak disentuh stopwatch, tempat ketika seorang manusia selesai berlari lalu kembali menjadi dirinya sendiri, sebab mungkin justru di sanalah ukuran yang sebenarnya berada.

Usain Bolt tidak menjadi penting sebab ia selamanya menjadi manusia tercepat. Ia penting sebab pada suatu masa, dengan tubuhnya sendiri dan dengan keterbatasan yang juga dimiliki tubuh manusia, ia menunjukkan bahwa batas yang kita bayangkan ternyata dapat didorong sedikit lebih jauh.

Jika suatu hari batas itu kembali bergeser, tidak ada yang perlu dipermalukan. Kehidupan memang demikian: apa yang kemarin dianggap mustahil, hari ini mungkin menjadi biasa, sementara sesuatu yang hari ini belum dapat kita bayangkan kelak akan menjadi kenyataan. Yang perlu kita jaga hanyalah satu hal: jangan sampai dalam kegembiraan menyaksikan batas yang terus bergeser, kita lupa bertanya untuk apa manusia sejak awal ingin melewati batas tersebut.

Sebab barangkali persoalan terbesar bukan tentang siapa yang paling cepat sampai ke ujung lintasan, melainkan tentang apa yang kita lakukan setelah sampai di sana; apakah kita masih tahu mengapa kita berlari, apakah kita masih mengenali tubuh yang membawa kita sejauh itu, apakah kita masih mengingat orang-orang yang pernah berdiri di sepanjang jalan, dan ketika tepuk tangan telah selesai serta angka di papan skor telah diganti, apakah masih ada sesuatu yang tinggal dari perjalanan itu selain catatan waktu.

Di situlah manusia mempunyai wilayahnya sendiri: bukan pada kecepatan, melainkan pada kemampuan untuk memberi makna; bukan semata-mata pada kemenangan, melainkan pada kesanggupan mengingat mengapa ia berangkat.
Maka, jika suatu hari seseorang mengatakan bahwa Usain Bolt telah dikalahkan, saya mungkin tidak akan buru-buru membantahnya. Dalam bahasa perlombaan, mungkin memang demikian. Tetapi dalam bahasa kehidupan, persoalannya berbeda. Sebab 9,58 detik adalah angka, sedangkan Usain Bolt adalah manusia. Dan manusia, sejak dahulu, selalu jauh lebih luas daripada angka yang pernah dicatat oleh tubuhnya.

Bionarasi Penulis

Heri Isnaini adalah Dosen Sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *