Example floating
Example floating
OPINI

Poetika Cerpen Heri Isnaini: Mengurai Mitos, Merajut Kesadaran

0
×

Poetika Cerpen Heri Isnaini: Mengurai Mitos, Merajut Kesadaran

Sebarkan artikel ini
(Foto: Ilustrasi).

Oleh: Refi Murfianto

HIMPUN.ID Membaca karya-karya Heri Isnaini sebagai sebuah keseluruhan membawa kita pada satu kesadaran: Heri tidak sekadar menulis cerita, tetapi terus-menerus menguji kembali cara manusia memahami kenyataan. Cerita rakyat, benda-benda sederhana, kehilangan, ingatan, cinta, pendidikan, bahkan bayangan, dalam tangannya dapat menjelma menjadi pintu menuju pertanyaan yang lebih dalam: siapa manusia, apa yang sebenarnya disebut kenyataan, dan sejauh mana seseorang berhak mempercayai cerita yang diwariskan kepadanya?

Kecenderungan tersebut dapat dilihat dalam sejumlah cerpen Heri Isnaini yang terbit di Bali Politika. Dalam “Ijazah Pak Idris” (Bali Politika, 25 September 2025), misalnya, Heri berangkat dari persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan sosial: ijazah dan legitimasi pendidikan. Namun, cerita itu tidak berhenti sebagai kritik terhadap kegandrungan masyarakat pada gelar dan dokumen formal. Tokoh Pak Idris justru membuka pertanyaan yang lebih mendasar tentang apa arti belajar dan dari mana pengetahuan memperoleh legitimasi. Pendidikan tidak lagi semata-mata berurusan dengan ijazah, melainkan dengan pengalaman manusia dalam menjalani kehidupan.

Dari sini tampak bahwa poetika Heri tidak dibangun melalui gagasan besar yang disampaikan secara menggurui. Ia lebih suka menyembunyikan gagasan di balik benda, tokoh, peristiwa, dan situasi sehari-hari. Ijazah menjadi metafora pengetahuan; bayangan menjadi metafora keberadaan; selendang menjadi metafora kebebasan; sementara janji menjadi metafora beban moral. Gagasan abstrak itu diejawantahkan melalui sesuatu yang konkret sehingga filsafat tidak kehilangan tubuh naratifnya.

Salah satu ciri paling kuat dalam poetika Heri adalah kecenderungannya memperlakukan cerita lama sebagai teks yang belum selesai. Cerita rakyat tidak dianggap sebagai sesuatu yang beku dan tidak boleh disentuh. Sebaliknya, cerita lama justru dibuka kembali, diperiksa, kemudian ditanyakan: benarkah kisah itu harus selalu dibaca seperti yang selama ini kita kenal?

Dalam “Selendang yang Sengaja Kutinggalkan” (Bali Politika, 12 Agustus 2026), Heri membalik kisah Jaka Tarub dan Nawang Wulan. Tokoh perempuan tidak diposisikan sebagai perempuan yang kehilangan selendang akibat ulah seorang lelaki. Ia justru mengatakan bahwa selendang tersebut sengaja ditinggalkannya. Perubahan dari kehilangan menjadi meninggalkan menggeser keseluruhan struktur cerita. Perempuan yang semula dapat dibaca sebagai korban berubah menjadi subjek yang memiliki kehendak dan pilihan.
Hal serupa terjadi dalam “Aku Tidak Pernah Mengejar Timun Mas” (Bali Politika, 27 Agustus 2026). Raksasa yang selama ini dikenal sebagai pengejar dan antagonis memperoleh kesempatan untuk berbicara. Ia menyangkal cerita yang selama ini melekat pada dirinya. Dalam perspektif baru tersebut, pengejaran tidak lagi sesederhana pertarungan antara manusia baik dan makhluk jahat, tetapi menjadi persoalan tentang janji, ingatan, dan bagaimana sebuah narasi membentuk identitas seseorang.

Di sinilah intertekstualitas Heri menjadi menarik. Ia tidak menggunakan cerita lama sekadar sebagai latar atau ornamen. Ia melakukan semacam intertekstualitas korektif: teks lama dibawa kembali ke hadapan pembaca untuk dipertanyakan pusat kebenarannya.

Ada semacam keyakinan poetik bahwa cerita yang diwariskan tidak selalu identik dengan kebenaran. Cerita dapat menyimpan kepentingan, prasangka, bahkan ketidakadilan perspektif. Maka, pekerjaan pengarang bukan sekadar mengulang cerita, melainkan membuka ruang bagi suara yang selama ini tidak memperoleh kesempatan untuk berbicara.

Kecenderungan tersebut berkembang lebih jauh dalam “Lelaki yang Memintal Bayangan” (Bali Politika, 3 Juni 2026). Tokoh Bram adalah fotografer yang tidak tertarik memotret wajah manusia. Ia justru memotret bayangan. Pilihan terhadap bayangan menjadi penting sebab wajah dapat menyembunyikan sesuatu, sedangkan bayangan justru menyimpan jejak keberadaan manusia. “Lelaki yang Memintal Bayangan” di Bali Politika.

Bayangan bukan sekadar objek fotografi. Ia menjadi metafora epistemologis. Manusia tidak selalu memahami kenyataan melalui apa yang tampak. Yang samar, yang tersisa, yang hilang, atau yang tidak terucapkan justru dapat menjadi jalan menuju sesuatu yang lebih dalam.

Pilihan terhadap bayangan memperlihatkan kecenderungan Heri menggeser realisme menuju wilayah metafisik. Dunia yang mula-mula konkret perlahan mengalami retakan. Studio foto, kamera, gambar, dan bayangan berubah menjadi pintu menuju ingatan, kematian, kehilangan, dan sesuatu yang tidak mudah dijelaskan secara rasional.

Kecenderungan serupa terlihat dalam “Pukul Setengah Empat” (Bali Politika, 23 April 2026). Waktu tidak hanya berfungsi sebagai penanda kronologis, tetapi menjadi ruang tempat ingatan, kesepian, kehadiran, dan ketidakhadiran saling berkelindan. Raras hadir sebagai sosok yang dekat sekaligus sulit dipastikan keberadaannya. Pertanyaan tentang apakah seseorang benar-benar hadir akhirnya berkembang menjadi pertanyaan tentang bagaimana manusia mengingat dan mengalami kehadiran orang lain.

Dengan demikian, dalam karya Heri, realitas tidak selesai pada apa yang terlihat. Realitas selalu memiliki lapisan laten. Di balik benda terdapat ingatan. Di balik kehilangan terdapat keberadaan. Di balik cerita terdapat kemungkinan cerita lain. Di balik manusia terdapat bayangan dirinya sendiri.

Jika beberapa karya tersebut dibaca dalam satu kelindan, tampak bahwa kehilangan merupakan salah satu energi utama poetika Heri. Namun, kehilangan di sini tidak selalu berarti kematian atau perpisahan. Kehilangan dapat berarti hilangnya kepastian, identitas, masa lalu, cinta, atau bahkan keyakinan terhadap cerita yang selama ini dianggap benar.
Kecenderungan tersebut sebenarnya telah tampak dalam “Aming dan Keresek Hitam” (Bali Politika, 8 Februari 2025), ketika benda sederhana memperoleh fungsi yang lebih besar daripada sekadar pelengkap cerita. Demikian pula “Bunga untuk Lily” (Bali Politika, 19 April 2025) memperlihatkan bagaimana persoalan sosial dan pengalaman personal dapat bertaut dengan tubuh, trauma, keluarga, dan keterasingan.

Dalam “Lelaki yang Memintal Bayangan”, kehilangan seseorang kemudian berkelindan dengan obsesi terhadap bayangan. Dalam “Pukul Setengah Empat”, kehilangan menjelma ketidakpastian tentang kehadiran. Dalam “Selendang yang Sengaja Kutinggalkan”, kehilangan bahkan dibalik menjadi tindakan memilih untuk meninggalkan. Sementara dalam “Surat Keputusan Masa Persiapan Lebaran (SKMPL)” (Bali Politika, 21 Maret 2026), persoalan administratif dan kehidupan sehari-hari berkembang menuju gagasan tentang pulang, kematian, dan sangkan paraning dumadi.

Kehilangan dengan demikian bukan sekadar tema, melainkan mesin puitik. Melalui kehilangan, tokoh dipaksa berhadapan dengan sesuatu yang sebelumnya tersembunyi. Manusia mulai bertanya tentang rumah ketika mengalami keterasingan. Ia memahami cinta ketika kepemilikan tidak lagi mungkin. Ia mempertanyakan identitas ketika cerita orang lain tidak lagi sesuai dengan dirinya.

Di titik ini, poetika Heri bersentuhan dengan dimensi filosofis dan sufistik. Ada kecenderungan melihat manusia sebagai makhluk yang terus mencari asal, makna, dan kepulangan. Kehilangan tidak selalu berarti tersesat; ia dapat menjadi jalan menuju kesadaran tentang sangkan paraning dumadi—dari mana manusia berasal dan ke mana ia menuju.

Salah satu kekuatan poetika Heri terletak pada kemampuannya mengubah benda sederhana menjadi pusat renungan. Ijazah, selendang, bayangan, kamera, foto, kertas, hujan, bahkan waktu yang ditandai dengan “pukul setengah empat”, semuanya memperoleh fungsi lebih dari sekadar properti cerita. Benda-benda itu menjadi artefak kesadaran. Ia menyimpan pengalaman manusia sekaligus membuka pertanyaan tentang keberadaan.

Inilah yang membuat dunia naratif Heri tidak sepenuhnya realis, tetapi juga tidak dapat begitu saja disebut fantasi. Lebih tepat jika kecenderungan tersebut disebut sebagai realisme metafisik: realitas sehari-hari tetap dipertahankan, tetapi di dalamnya terdapat celah menuju sesuatu yang lebih dalam dan tidak seluruhnya dapat dijelaskan. Heri tidak membawa pembaca terbang meninggalkan dunia. Ia justru mengajak pembaca melihat dunia yang sama dengan cara yang berbeda.

Jika seluruh kecenderungan tersebut dirumuskan, poetika Heri Isnaini dapat dipahami sebagai poetika intertekstual-metafisik. Ia berangkat dari teks yang telah dikenal, kehidupan sehari-hari, atau benda yang tampaknya sederhana, kemudian melakukan pembalikan perspektif untuk menemukan lapisan makna yang tersembunyi. Rumusnya kira-kira bergerak demikian: cerita lama → pembalikan perspektif → keganjilan → kehilangan → simbol → pertanyaan eksistensial → kesadaran.

Namun, poetika itu tidak berhenti pada pembongkaran. Setelah membalik cerita, Heri membawa pembaca kepada pertanyaan yang lebih dalam tentang manusia. Siapa yang sebenarnya menjadi korban? Siapa yang memiliki hak untuk menentukan kebenaran? Apakah mencintai berarti memiliki? Apakah kehilangan berarti benar-benar pergi? Apakah sesuatu yang tidak tampak berarti tidak ada?

Pada titik tersebut, sastra menjadi semacam ruang tafakur. Heri menulis bukan untuk memberikan jawaban yang selesai, melainkan untuk menciptakan kegelisahan yang produktif. Ia membiarkan pembaca tinggal sejenak di dalam pertanyaan. Dan barangkali di sanalah kekhasan poetikanya mulai menemukan bentuk: membaca kembali yang telah dibaca, mempertanyakan yang dianggap selesai, dan menemukan yang transenden dari sesuatu yang tampaknya sederhana.

Jika ada satu kalimat yang dapat merangkum poetika Heri Isnaini, barangkali kalimat itu adalah: Heri menulis tentang apa yang tampak untuk menemukan apa yang tersembunyi; ia membongkar cerita lama untuk menemukan manusia yang selama ini disembunyikan oleh cerita itu sendiri.

Dengan demikian, karya-karya Heri tidak sekadar menjadi kumpulan cerita. Ia merupakan ejawantah dari sebuah cara memandang dunia: bahwa setiap manusia mempunyai bayangan, setiap kehilangan menyimpan kemungkinan kepulangan, setiap cerita menyimpan cerita lain, dan setiap kenyataan selalu menyisakan ruang bagi sesuatu yang belum selesai dipahami.

Bionarasi Penulis

Refi Murfianto lahir di Garut, 1 April 1992. Ia merupakan pendidik, peneliti, dan aktivis organisasi yang kini tinggal di Kp. Genteng, Desa Sukalaksana, Kecamatan Talegong, Kabupaten Garut. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar hingga menengah di Talegong, ia menempuh Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah di FKIP UNIBBA (2016), Bimbingan dan Konseling Islam di STAI KH. Badruzzaman (2020), Magister Manajemen Pendidikan Islam di Universitas Garut (2023), serta Pendidikan Profesi Guru di Universitas Pasundan (2024). Saat ini ia menempuh Magister Pendidikan Bahasa Indonesia di IKIP Siliwangi. Sejak 2012, ia mengabdikan diri sebagai guru di sejumlah lembaga pendidikan. Selain mengajar, Refi aktif dalam berbagai organisasi, seperti HMI, GP Ansor, KNPI, dan komunitas pendidikan, serta pernah menjadi Ketua Umum HMI Komisariat UNIBBA, Ketua PAC GP Ansor Kecamatan Talegong, dan Ketua KNPI DPK Talegong periode 2023–2026. Dengan motto “Besarkanlah organisasi hingga organisasi membesarkan kita,” ia memandang pengabdian sebagai bagian penting dalam kehidupannya, termasuk melalui pendidikan, organisasi, dan kegiatan kemasyarakatan.

 

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *