Example floating
Example floating
OPINI

Algoritma dan Cara Kita Membaca Buku

0
×

Algoritma dan Cara Kita Membaca Buku

Sebarkan artikel ini
(Foto: Ilustrasi).

Oleh: Heri Isnaini

HIMPUN.ID – Kita sering mengira bahwa keputusan membaca buku sepenuhnya lahir dari kehendak pribadi. Seseorang memilih novel sebab tertarik pada sampulnya, membeli kumpulan puisi sebab menyukai penyairnya, atau membaca sebuah esai sebab persoalan yang dibicarakan terasa dekat dengan kehidupannya.

Namun, kebiasaan membaca pada masa kini tidak selalu bermula dari keinginan yang tumbuh di dalam diri. Sebelum sebuah buku sampai ke tangan pembaca, algoritma mungkin telah lebih dahulu memperkenalkannya melalui rekomendasi toko buku daring, unggahan media sosial, video ulasan, atau daftar bacaan yang muncul di halaman beranda.

Perubahan ini tampak sederhana, bahkan terasa membantu. Kita tidak perlu lagi menghabiskan banyak waktu untuk mencari buku yang sesuai dengan minat. Cukup membuka aplikasi, mengetik beberapa kata, lalu layar menyuguhkan sederet judul yang dianggap relevan. Persoalannya, kemudahan tersebut menyimpan pertanyaan yang lebih jauh: ketika pilihan bacaan semakin banyak ditentukan oleh sistem rekomendasi, sejauh mana kita masih menjadi pembaca yang menentukan arah perjalanannya sendiri?

Algoritma bekerja dengan membaca jejak perilaku. Buku yang kita cari, video yang kita tonton sampai selesai, ulasan yang kita sukai, bahkan waktu yang kita habiskan untuk melihat sebuah unggahan dapat menjadi petunjuk bagi sistem dalam menyusun rekomendasi berikutnya. Sistem itu tidak perlu memahami mengapa seseorang menyukai sebuah novel atau apa yang sedang ia cari melalui puisi. Ia cukup mengolah pola dan memperkirakan kemungkinan pilihan selanjutnya.

Di sinilah hubungan antara pembaca dan buku mulai mengalami pergeseran. Buku tidak lagi semata-mata ditemukan melalui katalog, percakapan dengan kawan, kunjungan ke perpustakaan, atau penjelajahan rak toko buku. Buku juga hadir sebagai hasil perhitungan sistem yang berusaha memperkirakan keinginan kita. Rekomendasi semacam ini tentu memiliki manfaat. Pembaca dapat menemukan penulis yang sebelumnya tidak dikenal, memperoleh informasi tentang buku-buku dari berbagai negara, dan menjangkau karya yang tidak tersedia di toko buku terdekat. Bagi penulis kecil dan penerbit independen, ruang digital bahkan dapat membuka kemungkinan perjumpaan dengan pembaca baru.

Namun, manfaat itu tidak serta-merta menjadikan algoritma sebagai perantara yang netral. Sistem rekomendasi dibangun berdasarkan pola tertentu dan tujuan yang ditetapkan oleh platform. Dalam banyak layanan digital, perhatian pengguna memiliki nilai ekonomi. Konten yang membuat seseorang bertahan lebih lama, berinteraksi lebih sering, atau kembali membuka aplikasi berpotensi memperoleh keuntungan distribusi. Sebab itu, buku yang muncul di hadapan kita tidak selalu merupakan buku yang paling penting, paling mendalam, atau paling sesuai dengan kebutuhan intelektual kita. Buku tersebut bisa saja merupakan buku yang diperkirakan paling mungkin menarik perhatian kita.

Perbedaan ini perlu dipahami sebab perhatian tidak selalu sejalan dengan mutu. Sebuah buku dapat menjadi populer lantaran dibicarakan banyak orang, tetapi popularitas tidak otomatis menjamin kekuatan gagasan di dalamnya. Sebaliknya, karya yang menawarkan pemikiran rumit, gaya bahasa yang tidak mudah dicerna, atau persoalan yang kurang populer mungkin membutuhkan waktu lebih panjang untuk menemukan pembacanya. Ketika keterlihatan menjadi salah satu ukuran utama dalam ruang digital, karya-karya tertentu berisiko terus berada di pinggir, bukan sebab tidak bernilai, melainkan sebab tidak cukup menghasilkan respons yang diharapkan sistem.

Kita dapat melihat gejala ini dalam budaya ulasan buku di media sosial. Sebuah novel diperkenalkan melalui video singkat yang menonjolkan bagian paling menyentuh, paling mengejutkan, atau paling mudah dikutip. Buku kemudian dikenal melalui potongan-potongan kalimat yang beredar luas. Pembaca memperoleh gambaran awal sebelum memutuskan untuk membeli atau membacanya. Praktik ini tidak keliru. Ulasan singkat dapat menjadi pintu masuk yang efektif, terutama bagi orang yang sebelumnya tidak memiliki kebiasaan membaca. Persoalan muncul ketika pintu masuk itu dianggap sebagai keseluruhan rumah.

Sebuah novel, misalnya, tidak hanya terdiri atas kalimat yang dapat dipisahkan menjadi kutipan menarik. Makna sebuah karya tumbuh melalui hubungan antartokoh, perkembangan konflik, pilihan sudut pandang, struktur penceritaan, dan berbagai detail yang baru terasa penting setelah pembaca menempuh keseluruhan cerita. Begitu pula puisi tidak selalu dapat dipahami melalui satu larik yang tampak indah ketika ditempatkan di atas latar gambar. Larik tersebut memperoleh resonansinya dari hubungan dengan larik lain, ritme, citraan, dan ruang makna yang dibangun penyair.

Ketika buku dipromosikan terutama melalui bagian yang paling mudah dibagikan, pengalaman membaca berpotensi bergeser menjadi kegiatan mengumpulkan kesan. Kita mengenal sebuah karya melalui kutipan, mengetahui isinya melalui ringkasan, lalu merasa telah cukup dekat dengannya setelah menonton beberapa ulasan. Padahal, mengenal informasi tentang buku berbeda dengan mengalami buku itu sendiri.

Ringkasan dapat menjelaskan jalan cerita, tetapi belum tentu menghadirkan kegelisahan yang tumbuh selama kita mengikuti tokohnya. Kutipan dapat memperlihatkan keindahan bahasa, tetapi belum tentu menunjukkan bagaimana keindahan tersebut dibangun melalui keseluruhan teks. Perbedaan antara mengetahui dan mengalami inilah yang perlu kita pertahankan dalam budaya membaca. Membaca bukan sekadar kegiatan memperoleh informasi, melainkan juga laku menempuh suatu pemikiran. Kita mungkin tidak langsung memahami sebuah paragraf, merasa terganggu oleh pendapat penulis, atau menemukan gagasan yang bertentangan dengan keyakinan sendiri. Dalam proses semacam itu, pembaca tidak hanya menerima isi buku, tetapi juga menguji cara berpikirnya. Buku memberi kesempatan kepada kita untuk berhenti, mempertanyakan, menafsirkan, dan mengubah pandangan.

Sementara itu, sebagian besar pengalaman digital mendorong kita bergerak dari satu konten ke konten lain. Ketika sebuah unggahan terasa membosankan, kita dapat segera menggulir layar. Ketika sebuah video tidak memenuhi harapan, kita beralih ke video berikutnya. Kebiasaan ini tidak berarti setiap pengguna kehilangan kemampuan berkonsentrasi, tetapi lingkungan yang terus menawarkan hal baru dapat membuat perhatian lebih mudah terpecah. Buku yang menuntut kesabaran kemudian harus berhadapan dengan kebiasaan yang mengutamakan pergantian rangsangan.

Kita tidak perlu menyimpulkan bahwa generasi pembaca masa kini tidak lagi mampu membaca secara mendalam. Kesimpulan semacam itu terlalu mudah dan mengabaikan kenyataan bahwa teknologi juga menyediakan akses terhadap buku digital, perpustakaan daring, diskusi sastra, dan berbagai komunitas pembaca. Yang lebih mendesak ialah memahami bagaimana lingkungan digital membentuk kebiasaan, lalu menentukan laku membaca yang ingin kita rawat di tengah perubahan tersebut.

Dalam konteks ini, algoritma sebaiknya diperlakukan sebagai alat penunjuk jalan, bukan penentu seluruh perjalanan. Rekomendasi dapat membantu kita menemukan buku, tetapi keputusan untuk membacanya tetap membutuhkan pertimbangan. Kita dapat mengikuti saran aplikasi sekaligus sengaja mencari karya dari penulis yang belum dikenal, membaca buku yang tidak sedang ramai dibicarakan, atau mengunjungi perpustakaan tanpa terlebih dahulu mengetahui judul yang akan dipinjam. Sesekali, kita juga perlu membaca sesuatu di luar kebiasaan, bukan untuk membuktikan bahwa kita berbeda, melainkan untuk memberi kesempatan kepada pikiran bertemu dengan pengalaman yang belum pernah dikenalnya.

Peran pendidik, pustakawan, kritikus, dan komunitas literasi menjadi penting dalam upaya tersebut. Mereka tidak cukup hanya menyebarkan daftar rekomendasi atau mempromosikan buku yang sedang populer. Mereka juga dapat membantu pembaca mengembangkan pertanyaan: mengapa buku ini penting, gagasan apa yang sedang diperdebatkan, bagaimana bahasa membentuk pengalaman, dan suara siapa yang belum memperoleh ruang dalam percakapan kebudayaan?

Pertanyaan-pertanyaan itu mengubah rekomendasi menjadi awal penyelidikan, bukan keputusan yang harus diterima begitu saja.
Kita pun perlu mengubah cara menilai keberhasilan membaca. Jumlah buku yang selesai dibaca, unggahan yang dibagikan, atau ulasan yang memperoleh banyak tanda suka bukanlah satu-satunya ukuran. Sebuah buku mungkin hanya selesai dibaca dalam beberapa hari, tetapi pemikirannya menetap selama berbulan-bulan. Buku lain mungkin membuat kita kembali membuka halaman tertentu sebab sebuah kalimat belum selesai kita pahami.

Pengalaman semacam ini tidak selalu menghasilkan jejak digital yang terlihat, tetapi dapat meninggalkan perubahan dalam cara kita memandang orang lain dan menafsirkan kehidupan.

Algoritma dapat memperkirakan buku yang mungkin kita sukai berdasarkan jejak masa lalu. Akan tetapi, manusia tidak selalu ingin tinggal di dalam kesukaan yang sama. Kita tumbuh, mengalami kehilangan, bertemu gagasan baru, dan mengubah cara memahami dunia. Buku yang dahulu terasa asing mungkin menjadi penting setelah pengalaman tertentu mengubah cara kita membacanya.

Sebaliknya, buku yang pernah kita kagumi dapat memperoleh makna berbeda ketika kita membacanya kembali bertahun-tahun kemudian. Perubahan semacam ini sulit direduksi menjadi pola konsumsi yang tetap sebab pembaca bukan sekadar kumpulan preferensi yang dapat dihitung.

Maka, persoalan utama bukan apakah kita harus menjauhi algoritma, melainkan apakah kita masih menyediakan ruang bagi pilihan yang tidak disarankan olehnya. Kita dapat memanfaatkan teknologi untuk menemukan buku, tetapi tetap perlu merawat kebebasan untuk memilih, kesediaan untuk bertahan dalam bacaan yang sulit, dan keberanian untuk membaca sesuatu yang tidak segera kita pahami. Di tengah banjir rekomendasi, membaca secara mendalam menjadi ikhtiar untuk mengembalikan perhatian kepada sesuatu yang memang layak diperhatikan.

Barangkali ukuran kebebasan seorang pembaca bukan terletak pada kemampuannya menghindari seluruh rekomendasi digital, melainkanw pada kesanggupannya mengambil jarak dari rekomendasi itu. Kita boleh menemukan buku melalui algoritma, tetapi kita tidak harus menyerahkan seluruh selera kepadanya. Sebab, ketika sebuah buku telah terbuka di hadapan kita, yang menentukan maknanya bukan lagi seberapa sering judul itu muncul di layar, melainkan kesediaan kita untuk memasuki dunia yang ditawarkan halaman-halamannya. Di sana, membaca kembali menjadi perjumpaan: antara kata dan pengalaman, antara pikiran orang lain dan pertanyaan yang selama ini kita simpan sendiri.

Bandung, 1 November 2026

Penulis:

Heri Isnaini, dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Email: heriisnaini.heriisnaini@gmail.com

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *