Oleh: Theresia Rachelita Devia Irani
HIMPUN.ID – Film Warriors of the Rainbow sendiri merupakan film yang menceritakan kisah suku asli Taiwan yang dijajah dan direbut daerah kekuasaannya oleh bangsa Jepang.
Suku asli dari Taiwan sendiri adalah Suku Seediq, dimana suku ini sendiri terbagi-bagi lagi menjadi beberapa klan.
Namun dari beberapa klan itu, banyak dari mereka yang saling bermusuhan dan menyimpan dendam, bahkan mereka tidak segan untuk saling membunuh satu sama lain.
Pada awal film pun ditunjukan bagaimana masing-masing klan berusaha merebut wilayah, buruan, dan berbagai hal lain sampai menimbulkan pertumpahan darah.
Dari tiap klan ini, memiliki satu orang yang dianggap sebagai pemimpin karena dari adanya keturunan dan juga kiprahnya di dunia peperangan.
Film ini mengangkat kisah kepahlawanan Mouna Rudo, seorang kepala suku dari Klan Mahebu yang merupakan tokoh berjasa yang mengusir Jepang dari Taiwan.
Ketika itu, Jepang masuk dan menjajah daerah Taiwan, menyebabkan Suku Seediq kehilangan tanah mereka.
Baca juga:Kodim di Boalemo Resmi Beroperasi, Begini Harapan Sherman Moridu
Masing-masing klan pun kehilangan kekuataannya, bahkan kehilangan tanah leluhur dan juga tidak lagi secara bebas menjalankan tradisi mereka.
Hal ini berujung pada kondisi dimana Suku Seediq dijadikan budak oleh para orang-orang Jepang.
Mouna Rudo sendiri merupakan salah satu tokoh yang masih memegang erat budaya dan prinsip hidup leluhur atau nenek moyang, dia lah pelopor dari pembebasan bangsanya.
Menurutnya, apapun yang telah coba orang-orang Jepang berikan kepada mereka, seperti pendidikan, kesehatan dan lain-lainnya, tetap memposisikan diri mereka sebagai budak dengan kelas rendah di bawah orang-orang Jepang.
Mereka ditindas dan dipaksa untuk mengikuti kehidupan orang-orang Jepang, bahkan orang Jepang sendiri memanggil mereka dengan sebutan orang liar.
Penindasan ini semakin lama membuat Mouna Rudo dan klannya bangkit untuk mengembalikan semangat leluhur mereka, dan merebut kembali tanah nenek moyang dari para penjajah setelah bertahun-tahun dijajah.
Berdasarkan prinsip dari leluhur mereka, laki-laki akan terus berperang dan akan mati dalam medan perang agar mampu menyebrang jembatan Pelangi menuju kehidupan kekal, sedangkan wanita akan menenun kain yang akan dipakai oleh para lelaki untuk bertarung.
Beliau mengobarkan kembali semangat dan prinsip hidup mereka tersebut bersama banyak klan yang sebelumnya saling bermusuhan.
Dari sini klan-klan dari Seediq Bale pun saling bersatu melawan Jepang hingga menimbulkan pertumpahan darah.
Pertumpahan darah inipun tidaklah sia-sia, Mouna Rudo dan klan-klan Seediq Bale pun berhasil merebut tanah nenek moyang mereka kembali dan membantai semua orang Jepang yang sebelumnya menindas mereka.
Sumber: YouTube/Akbar
Catatan : Tulisan ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis
(Info: himpun.id menerima kontribusi tulisan dengan berbagai tema. Rubrik tulisan yang dapat di kirim yakni Opini, Resensi, Cerpen, Puisi, Tips, Edukasi, Khazanah, dan lain sebagainya, selagi bermanfaat)












