Ferdy Sambo Menangis di Hadapan Kompolnas, Mahfud MD Sebut Upaya Pengkondisian Psikologis

Ferdy Sambo Sempat Menangis di Hadapan Kompolnas, Mahfud MD Sebut Upaya Pengkondisian Psikologis, (Foto: tangkap layar Instagram/mohmahfudmd)

HIMPUN.ID – Hingga kini kasus kematian Brigadir J masih terus berlanjut.

Kasus kematian Brigadir J masih menyita perhatian publik.

Dalam kasus kematian Brigadir J sejumlah orang telah dimintai keterangan.

Kasus kematian yang awalnya bergulir terjadi dugaan tembak menembak yang menewaskan Brigadir J akhirnya terbantahkan.

Saat ini sudah ada empat orang tersangka dalam kasus kematian Brigadir J.

Salah satu tersangka itu adalah Ferdy Sambo.

Advertisement

Terbaru, terkait kasus kematian Brigadir J, Menteri Koordinasi Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD, angkat bicara.

Dikatakan Mahfud MD, ketika seorang jenderal itu sendiri sudah tersangka, tidak mungkin main-main.

“Kalau teknis hukumnya berikutnya saya kira tidak terlalu masalah, karena sudah diumumkan sebagai tersangka, dan ketika seorang jenderal itu sendiri sudah tersangka, tidak mungkin main-main, buktinya sudah kuat, saya konfirmasikan ke Polri, sudah tinggal hukum berikutnya,” terang Mahfud MD.

Ferdy Sambo Menangis di Depan Anggota Kompolnas

Diungkapkan Mahfud MD, Kompolnas sempat dipanggil Ferdy Sambo di kantorntya.

Dalam pertemuan tersebut, terungkap Ferdy Sambo sempat menangis di depan Kompolnas.

“Tapi memang kamarin yang kita berdebar-debar itu kan skenario tentang adanya tembak menembak ya. Itu bukan main tuh pra kondisinya, sebelum skenario itu dimunculkan kan tidak banyak yang tahu, misalnya sudah ada bahwa jebakan psikologis kepada orang-orang tertentu untuk mendukung bahwa itu tembak menembak, siapa itu? satu Kompolnas,” beber Mahfud MD.

Baca juga:Penyidikan Kasus Dugaan Pelecehan terhadap Istri Ferdy Sambo Dihentikan

Diterangkan Mahfud MD, kejadian diduga Ferdy Sambo menangis di depan Kompolnas itu terjadi pada hari Senin.

“Kompolnas itu hari Senin dipanggil oleh pak Sambo diundang ke kantornya hanya untuk nangis di depan Kompolnas,” kata Mahfud MD.

“Saya teraniaya, kalau saya sendiri ada di situ saya tembak habis dia, katanya,” terang Mahfud MD mengutip diduga perkataan Ferdy Sambo saat bertemu Kompolnas.

“Apa yang terjadi Pak? saya terhina, saya didzolimi, nangis-nagis gitu aja,” papar Mahfud MD.

Dari peristiwa diundangnya Kompolnas di kantornya Ferdy Sambo itu, Mahfud MD menilai ada upaya pengkondisian psikologis.

“Berarti ini ada upaya pengkondisian psikologis agar ada orang yang nanti membela mengatakan bahwa itu terdzolimi,” kata Mahfud MD.

Apa yang dilakukan Ferdy Sambo itu akhirnya berpengaruh pada penilaian Kompolnas.

“Dan itu kan betul kan, Kompolnas maupun Komnas HAM langsung bilang betul kan, semula, awalnya,” jelas Mahfud MD.

Bahkan terungkan Ferdy Sambo juga menghubungi beberapa orang lagi setelah komunikasi dengan Kopolnas.

“Dan beberapa orang lagi dihubungi, dia hanya nagis aja, ‘kak saya didzolimi kak, bagaimana ini kak’, gitu,” beber Mahfud MD meniru ucapan diduga Ferdy Sambo.

Mahfud MD membenarkan bahwa apa yang dilakukan Ferdy Sambo suatu pengkondisian.

“Artinya apa, memang ada suatu pengkondisian untuk mengatakan itu didzolimi. Istrinya dilecehkan, kan gitu kan, kondisi,” kata Mahfud MD.

Bahkan untuk memastikan lebih jauh apa yang dilakukan Ferdy Sambo soal menagis itu, Mahfud MD sempat menelpon anggota DPR.

“Masih ada beberapa anggota DPR yang digitukan, tapi saya telepon nda di angkat, saya mau tanya itu kan,” ungkap Mahfud MD.

Dari infromasi yang diperolah Mahfud MD ada tiga orang yang sempat dihubungi Ferdy Sambo.

“Sudah tiga orang, sudah menciptakan itu kan pra kondisi, untuk mengatakan bahwa itu pelecehan,” kata Mahfud MD.

Kepulangan Mahfud MD dan Memanggil Kompolnas dan Komnas HAM

Diungkapkan Mahfud MD setelah dirinya pulang dari Makkah, langsung memanggil Kompolnas dan Komnas HAM untuk membicarakan kasus kematian Brigadir J.

“Padahal sesudah itu, saya pulang dari Makkah itu saya panggil nih Kompolnas, Komnas HAM, saya ajak, berkali-kali saya rapat dengan Kompolnas, dengan Komnas HAM,” terang Mahfud MD.

Saat itu, menurut Mahfud MD Kompolnas masih terpengaruh dengan kerangka pikir bahwa terjadi pelecehan seksual.

“Masih kadang kala terpengaruh oleh kerangka pikir itu, bahwa ini terjadi pelecehan, terjadi pendzoliman gitu, sehingga ditembak oleh ajudannya Bhrada E, itu skenarionya seperti itu, tapi begitu saya dengar tiga orang begini Kompolnas saya bilang kita ganti perspektif,” jelas Mahfud MD.

Pada saat itu, Mahfud MD meminta untuk mengubah prespektif yang lebih objektif dalam melihat kasus kematian Brigadir J.

“Saya panggil pak Benny Mamoto, anda salah, kenapa anda harus bilang bahwa itu kejadiannya benar, padahal ini ada perspektif lain mungkin lebih masuk akal,” jelas Mahfud MD.

“‘Pak saya begitu ada peristiwa bapak ada di Makkah, saya langusung ke Polres Jakarta Selatan, saya mendapatkan penjelasan begitu dari Kapolres’, nah ini yang salah Kapolres yang bilang, kenapa anda langsung percaya, itu nda masuk akal,” kata Mahfud MD saat bicara dengan Ketua Harian Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) Benny Mamoto.

“Nda ada kaitan antara satu cerita dengan cerita lain, faktanya apa itu kan nda mungkin begitu, sudah sekarang ganti prespektif bahwa ini bukan pelecehan, tapi ini sesuatu terjadi,” terang Mahfud MD dikutip dari kanal YouTube Deddy Corbuzier pada Jumat, 12 Agustus 2022.

Dalam kasus kematian Brigadir J, saat ini sudah ada empat tersangka. Keempat tersangka itu adalah Bharada E, Bribka RR, Ferdy Sambo dan KM.

Diberitakan sebelumnya, Kasus dugaan pelecehan terhadap istri Ferdy Sambo, yakni PC resmi dihentikan.

Penghentian penyidikan terhadap kasus dugaan pelecehan istri Ferdy Sambo, yakni PC, disampaikan Direktur Tindak Pidana Umum (Dittipidum) Bareskrim Polri Brigjen Pol. Andi Rian Djajadi, Jumat 12 Agustus 2022.

Dikatakan Andi Rian, berdasarkan hasil gelar perkara tadi sore, kedua perkara di hentikan penyidikannya, karena tidak ditemukan peristiwa pidana.

“Bukan merupakan peristiwa pidana, oleh karena itu, berdasarkan hasil gelar tadi, disampaikan perkara ini dihentikan penanganannya,” terang Andi Rian, dikutip dari kanal YouTube Div Humas Polri pada Jumat 12 Agustus 2022. (HP1)

Sumber: YouTube/Deddy Corbuzier/Div Humas Polri
Advertisement

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini