Makna Surah An Nur Ayat 26, Tentang Jodoh? Begini Penjelasan Ustadz Adi Hidayat

Makna Surah An Nur Ayat 26, Tentang Jodoh? Begini Penjelasan Ustadz Adi Hidayat /tangkap layar YouTube Adi Hidayat Official

HIMPUN.ID – Dalam satu kesempatan Ustadz Adi Hidayat menjelaskan tentang makna surah ke 24 An Nur ayat ke-26.

Penjelasan surah ke 24 An Nur ayat ke-26 itu disampaikan Ustadz Adi Hidayat untuk menjawab pertanyaan jamaah kepadanya.

Berikut Pertanyaannya

Bagaimana memaknai Al Quran surah ke 24 an-nur ayat ke-26, khususnya bila dikaitkan dengan persoalan jodoh, baik bertemu dengan yang baik, yang tidak baik bertemu dengan yang tidak baik?

Bagaimana bila dalam satu kondisi yang baik ternyata bertemu dengan yang tidak baik?

Apakah relevan dengan pemanaan dengan ayat yang dimaksudkan?

Ini ayatnya:

Advertisement

اَلْخَبِيْثٰتُ لِلْخَبِيْثِيْنَ وَالْخَبِيْثُوْنَ لِلْخَبِيْثٰتِۚ وَالطَّيِّبٰتُ لِلطَّيِّبِيْنَ وَالطَّيِّبُوْنَ لِلطَّيِّبٰتِۚ اُولٰۤىِٕكَ مُبَرَّءُوْنَ مِمَّا يَقُوْلُوْنَۗ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّرِزْقٌ كَرِيْمٌ ࣖ

“Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga).” (QS. An-Nur Ayat 26).

Jawaban Ustadz Adi Hidayat

Dijelaskan Ustadz Adi Hidayat, ayat ke 26 An-Nur bila di perhatikan secara saksama termasuk dalam rangkaian ayat-ayat yang membebaskan Sayyida Aisyah rodhiyallaha dari tuduhan sementara kalangan orang-orang yang bermaksud jelek kepada beliau, dan kepada keluarga nabi pada umumnya,

“dengan menuduh bahwa sayyidah Aisyah telah melakukan tindakan yang tidak pantas bersama satu dari sahabat yang mengawal Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, dan membantu beliau pada saat itu mencari satu perhiasan yang sempat terjatuh, ketika tuduhan ini banyak digosipkan sehingga menjadi hoax, yang menyebar di kalangan kaum muslimin pada masa itu, maka Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan rangkaian pembuka di surah ke 24 surah An Nur untuk membebaskan Sayyidah Aisyah, dari tuduhan-tuduhan dan hoax yang ditujukan kepada beliau,” terang Ustadz Adi Hidayat.

Baca juga:Panjatkan Doa di Waktu Ini Akan Dikabulkan Allah, Simak Penjelasan Ustadz Adi Hidayat

Dilanjutnyakan Ustadz Adi Hidayat, bahkan di ayat yang ke-11 itu sangat tegas sekali Allah memberikan ancaman, bahwa orang-orang yang memproduksi hoax itu, akan mendapatkan balasan yang setimpal, sesuai dengan kadar hoax yang dibuatnya,

“bahkan orang-orang yang menginisiasi, aktor intelektualnya diancam oleh Al Quran untuk mendapatkan siksaan yang lebih besar, diantara orang-orang yang terlibat dalam perbuatan makar dan hoax yang dimaksudkan,” jelas Ustadz Adi Hidayat.

Di ayat ke 26 kata Ustadz Adi Hidayat, Allah memberikan sindiran tentang bagaimana perilaku manusia yang sesungguhnya akan bersumber dari keadaan hati, dan kepribadiannya,

“hati yang baik akan melahirkan tindakan-tindakan yang baik-baik, baik ke mata melahirkan pandangan yang baik, bila mengalir lisan mengeluarkan kata-kata yang baik. Demikian bila kondisi hati itu tidak baik, maka akan melahirkan perilaku dan tindakan yang tidak mulia,” papar Ustadz Adi Hidayat.

Diterangkan Ustadz Adi Hidayat, orang-orang yang tertuduh itu korban hoax, mereka dibersihkan, mereka dibebaskan dari tuduhan-tuduhan yang disematkan kepada mereka yang dimaksudkan,

“ayat ini sekaligus juga menegaskan pembebasan Allah dan pengakuan Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan kebersihan kesucian kemurnian Sayyaida Aisyah, dan juga keluarga besar Rasulullah SAW secara umumnya, dari tuduhan-tuduhan dari produksi hoax yang disematkan kepada mereka seluruhnya Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dan keluarga beliau radhiallahu ta’ala anhum jami’an,” kata Ustadz Adi Hidayat.

Menariknya kata Ustadz Adi Hidayat, kesabaran, kemuliaan dalam respon tuduhan-tuduhan ini, dalam respon hoax yang ditujukan kepada beliau, dijanjikan oleh Allah subhanahuwata’ala, ampunan-ampunan terbaik, dan juga rizki yang mulia, berupa surga terindah, saat kembali kepada Allah subhanahuwata’ala.

“Agaknya ayat ini tidak langsung terkorelasi dengan pemahaman jodoh bertemu jodoh, baik bertemu baik, atau jelek bertemu jelek, tapi lebih menekankan tentang pembebasan Sayyidah Aisyah dan keluarga dari tuduhan-tuduhan hoax yang disematkan kepada beliau dan keluarga besar,” terang Ustadz Adi Hidayat.

Namun Ustadz Adi Hidayat mengatakan, memang ada sebagian yang memaknai dari kalangan ahli tafsir, yang menarik ayat ini, ke dalam keumuman makna, tentang keberpasangan dalam rumah tangga, baik bertemu dengan baik, jodoh yang jelek pun pelaku yang tidak baik akan berjumpa dengan yang tidak baik.

“Sekilas memang terlihat ada kebenarannya dari segi penafsiran yang dimaksudkan orang-orang yang berkumpul di tempat-tempat yang baik cenderung mencari jodoh yang baik pula, orang-orang yang berkumpul di tempat yang kurang baik boleh jadi juga cenderung memilih pasangan yang sekufu, sekeadaan setempat dia bergaul,” jelas Ustadz Adi Hidayat.

“karena itu dalam Islam latar belakang keadaan bergaul juga menjadi penentu bagaimana seseorang bisa memadu kasih dalam kehidupan berumah tangga,” papar Ustadz Adi Hidayat.

Namun kata Ustadz Adi Hidayat, ini menjadi problem ketika ada orang-orang yang menduga pasangannya baik ternyata setelah menikah tidak seperti yang digambarkan, tidak seideal yang diharapkan dirinya sudah baik namun pasangan untuk terlihat baik seutuhnya

“bila kemudian dikaitkan dengan ayat yang dimaksudkan disini kemudian problem penafsiran itu menjadi penting untuk diurai menjadi penting untuk diberikan solusinya,” jelas Ustadz Adi Hidayat.

Sehingga kata Ustadz Adi Hidayat, para ulama lebih menarik ayat ini, sesuai dengan konteks yang dimaksudkan tadi.

“yaitu membebaskan Sayyidah Aisyah dan keluarga dari tuduhan dibandingkan dengan membawa ke aspek kerumahtanggaan, ada ayat-ayat yang lain yang menjawab persoalan-persoalan yang dimaksud,” ungkap Ustadz Adi Hidayat.

Ustadz Adi Hidayat mengungkapkan, tidak selamanya kita harus menerapkan fiqih fiqih secara praktikal.

“namun juga ada ragam fiqih yang bisa kita bawa dalam menerapkan hukum-hukum berkehidupan. Fiqih dakawah kadang-kadang bisa diterapkan lebih awal dibandingkan dengan fiqih fiqih terkait dengan hukum,” tutup Ustadz Adi Hidayat.

Itulah penjelasan Ustadz Adi Hidayat tentang makna surah An Nur Ayat 26. (HP)

Advertisement

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini