Oleh: Misnawaty S. Nuna
HIMPUN.ID – Buka puasa bersama atau “bukber” telah menjadi tradisi tahunan yang melekat erat pada masyarakat perkotaan di Indonesia.
Secara esensial, bukber adalah sarana untuk mempererat tali silaturahmi.
Namun, seiring dengan pesatnya modernisasi dan arus konsumerisme di kota besar, fenomena ini mulai bergeser.
Nilai spiritual dan kekeluargaan seringkali terpinggirkan oleh gaya hidup hedonisme, sebuah pandangan hidup yang menjadikan kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama.
Dalam Islam, silaturahmi adalah sebuah peristiwa pertemuan fisik, yang bernilai ibadah untuk melapangkan rezeki dan memperpanjang umur.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
(Man ahabba an yubsatho lahu fii rizqihi, wa yunsa-a lahu fii atsarihi, falyashil rahimahu)
Artinya: “Barangsiapa yang ingin diluangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.” (HR. Bukhari & Muslim).
Gaya hidup hedonisme di perkotaan mengubah wajah bukber menjadi ajang pamer (ajang eksistensi).
Beberapa ciri pergeseran ini antara lain:
– Pemilihan Tempat yang Mewah: Fokus utama bukan lagi pada kebersamaan, melainkan pada gengsi lokasi.
– Perilaku Konsumtif (Israf): Pemesanan makanan yang berlebihan yang seringkali berakhir menjadi mubazir.
Allah SWT melarang hal ini dalam Al-Qur’an Surah Al-A’raf ayat 31:
يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
(Ya bani adama khudzu zinatakum ‘inda kulli masjidin wa kulu wasyrabu wala tusrifu, innahu la yuhibbul musrifin)
Artinya: “Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.”
Ketika hedonisme mendominasi, esensi silaturahmi mengalami pendangkalan:
– Kehilangan Keintiman: Peserta bukber cenderung sibuk dengan gawai masing-masing demi konten media sosial (fokus pada citra diri), sehingga komunikasi batin antar individu berkurang.
– Pengabaian Ibadah: Demi mengejar suasana santai di restoran, banyak yang justru melalaikan salat Maghrib secara berjamaah atau bahkan meninggalkan salat karena terjebak dalam obrolan yang tidak bermanfaat (laghwu).
– Eksklusivitas Sosial: Bukber seringkali hanya diikuti oleh kalangan ekonomi tertentu, sehingga menciptakan sekat sosial alih-alih merangkul semua kalangan.
Padahal Silaturahmi dalam konteks tradisi buka bersama tidak hanya sekadar makan bersama, tetapi sebuah mekanisme sosial dan spiritual yang luar biasa.
Manfaatnya antara lain:
– Sebagai Penggugur Dosa: Pertemuan dua orang Muslim yang saling berjabat tangan dengan tulus dapat menggugurkan dosa-dosa kecil di antara mereka sebelum mereka berpisah
– Kesehatan Mental (Social Support): Di tengah tekanan hidup perkotaan yang tinggi, bertemu teman atau keluarga (support system) dapat menurunkan tingkat stres. Hal ini sesuai dengan esensi Islam sebagai agama yang menekankan kebahagiaan kolektif.
– Membuka Pintu Informasi dan Peluang: Secara sosiologis, silaturahmi memperluas jaringan (networking). Banyak peluang pekerjaan atau kolaborasi kebaikan bermula dari obrolan santai saat berbuka puasa.
– Menumbuhkan Empati: Dengan bertemu langsung, kita bisa mengetahui kondisi saudara kita yang mungkin sedang kesulitan, sehingga muncul keinginan untuk saling membantu (ta’awun).
Gaya hidup hedonisme adalah racun yang secara perlahan merusak kualitas ibadah di bulan Ramadan.
Bebrapa kerugian nyata yang ditimbulkan:
– Lahirnya Sifat Sombong (Takabbur): Fokus pada kemewahan tempat dan penampilan luar memicu seseorang untuk merasa lebih tinggi dari orang lain, yang sangat dibenci oleh Allah SWT.
– Kerusakan Finansial: Memaksakan diri mengikuti standar bukber yang mewah demi gengsi dapat mengganggu stabilitas keuangan pribadi, yang pada akhirnya memicu stres pasca-Ramadan.
– Kekosongan Jiwa: Kesenjangan antara “apa yang dipamerkan di media sosial” dengan “kenyataan hati” menciptakan kehampaan. Kebahagiaan hedonis bersifat sesaat dan tidak membekas di jiwa (tidak mendatangkan ketenangan atau thuma’ninah).
– Terabaikannya Hak Kaum Miskin: Anggaran yang besar hanya untuk satu kali makan mewah sebenarnya bisa digunakan untuk memberi makan puluhan orang yang membutuhkan. Hal ini menjauhkan kita dari semangat Ramadan sebagai bulan kepedulian sosial.
Wallahu a’lam bish showwaab














