Example floating
Example floating
KHAZANAH

Mutiara Ramadhan: Merawat Spirit Ramadhan Sepanjang Tahun, Manifestasi Ketakwaan dan Ketaatan Multi-Dimensi

0
×

Mutiara Ramadhan: Merawat Spirit Ramadhan Sepanjang Tahun, Manifestasi Ketakwaan dan Ketaatan Multi-Dimensi

Sebarkan artikel ini
(Foto: DP/Ilustrasi)

Penulis : Misnawaty S. Nuna (Kepala Kemenag Kota Gorontalo)

HIMPUN.ID Fenomena “ibadah musiman” seringkali terjadi, di mana masjid ramai hanya di bulan suci namun kembali sepi setelahnya.

Tantangan terbesar umat Muslim adalah menjaga konsistensi (istiqamah) agar nilai-nilai Ramadhan, seperti disiplin, empati, dan kedekatan dengan Al-Qur’an, tetap hidup sepanjang tahun.

Esensi dari keberhasilan Ramadhan seseorang justru terlihat dari perilakunya di sebelas bulan berikutnya.

Para Imam Madzhab menekankan bahwa ibadah yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara konsisten, meskipun sedikit.

Imam Asy-Syafi’i: Menekankan pentingnya ilmu dalam menjaga amal. Beliau berpendapat bahwa pengulangan ibadah sunnah setelah Ramadhan (seperti puasa Syawal) adalah tanda syukur yang akan menguatkan ibadah wajib.

Imam Malik: Sangat menekankan pada Amal Ahlul Madinah yang mencerminkan tradisi ketaatan terus-menerus tanpa putus.

Imam Ahmad & Imam Abu Hanifah: Keduanya sepakat bahwa iman itu bisa bertambah dan berkurang (yazidu wa yankush).

Untuk merawatnya, diperlukan lingkungan yang shalih dan keterikatan pada dzikir serta syariat secara formal maupun substansial.

Untuk merawat spirit ini, kita berpijak pada perintah Allah untuk beribadah hingga ajal menjemput:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

Wa’bud rabbaka hattā ya’tiyakal-yaqīn.

Artinya:“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (QS. Al-Hijr: 99).

Hadits Nabi SAW:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Ahabbal-a’māli ilallāhi adwamuhā wa in qalla.

Artinya: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus (rutin) meskipun sedikit.” (HR. Bukhari & Muslim).

Idul Fitri sering disalahpahami hanya sebagai perayaan kemenangan material (baju baru dan makanan).

Padahal sejatinya Idul Fitri adalah “hari wisuda”.

Persiapan Idul Fitri yang benar adalah:

– Pembersihan Diri (Zakat Fitrah): Sebagai simbol kepedulian sosial yang harus berlanjut (jiwa kedermawanan).
– Kembali ke Fitrah: Menjaga hati agar tetap bersih dari penyakit hati (iri, dengki) yang telah dikikis selama Ramadhan.
– Syukur, bukan Euforia: Merayakan keberhasilan menundukkan hawa nafsu, bukan merayakan berakhirnya masa ibadah.

Merawat spirit Ramadhan berarti mengaplikasikan konsep Sam’an wa Tha’atan (mendengar dan taat) dalam struktur kehidupan bermasyarakat:

Taat kepada Allah: Menjaga shalat lima waktu berjamaah dan menjauhi maksiat sebagaimana saat berpuasa.

Taat kepada Rasul: Menghidupkan sunnah-sunnah harian (shalat rawatib, puasa Senin-Kamis, akhlak mulia).

Taat kepada Ulil Amri (Pemerintah/Pemimpin): Ramadhan mengajarkan disiplin waktu dan aturan.

Ketaatan ini diwujudkan dengan mematuhi aturan sosial dan hukum yang berlaku demi kemaslahatan bersama (maslahah ammah).

Hal ini sesuai dengan firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

Yā ayyuhalladzīna āmanū athī’ullāha wa athī’ur-rasūla wa ulil-amri minkum.

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu.” (QS. An-Nisa: 59).

Merawat spirit Ramadhan adalah upaya sadar untuk menjadikan nilai-nilai “kesalehan pribadi” (hubungan dengan Allah) dan “kesalehan sosial” (hubungan dengan manusia) sebagai gaya hidup permanen.

Dengan landasan istiqamah menurut para imam madzhab dan ketaatan total kepada Allah, Rasul, serta pemimpin, seorang Muslim akan mencapai hakikat Idul Fitri yang sebenarnya, yaitu kembali kepada kesucian dan konsistensi dalam kebaikan.

Wallahu a’lam bish showaab

Ya Allah, jangan jadikan Ramadhan ini sebagai yang terakhir bagi kami.

Izinkan kami bertemu kembali dalam keadaan yang lebih baik.

Selamat tinggal Ramadhan 1447 H. Terima kasih telah mengajarkan bahwa sabar itu indah dan berbagi itu berkah.

Semoga amalan kita diterima di sisi-Nya. Aamiin yra.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *