Penulis : Misnawaty S. Nuna
HIMPUN.ID – Ramadhan adalah bulan cahaya. Cahaya wahyu, cahaya ampunan, dan cahaya petunjuk bagi umat manusia yang beriman.
Pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, umat Islam di seluruh dunia meningkatkan ibadahnya untuk mencari malam yang lebih mulia daripada seribu bulan, yaitu Lailatul Qadar.
Malam ini adalah puncak spiritual Ramadhan yang dijanjikan Allah sebagai malam penuh kemuliaan, rahmat, dan pengampunan.
Di tengah semangat itu, masyarakat Gorontalo memiliki tradisi yang sangat khas dan sarat makna spiritual, yaitu Tumbilo Tohe.
Tradisi ini dilaksanakan setiap malam 27 Ramadhan sampai akhir Ramadhan, di mana masyarakat menyalakan ribuan lampu di halaman rumah, jalan, dan sekitar masjid.
Secara historis, tradisi ini lahir dari kearifan lokal masyarakat Gorontalo pada masa ketika listrik belum tersedia.
Pada malam-malam akhir Ramadhan, seiring dengan redupnya cahaya bulan, sehingga jalan menuju masjid menjadi gelap.
Para orang tua dahulu menyalakan lampu minyak di sepanjang jalan agar masyarakat tetap dapat berjalan menuju masjid dengan aman dan nyaman untuk melaksanakan shalat malam, tadarus, dan i’tikaf.
Dari sinilah lahir tradisi Tumbilo Tohe yang secara harfiah berarti menyalakan lampu.
Selain sebagai tradisi,
Ia adalah simbol kegembiraan spiritual masyarakat Gorontalo dalam menyambut malam yang diyakini sebagai malam Lailatul Qadar.
Lampu-lampu yang dinyalakan tidak hanya menerangi jalan, tetapi juga menjadi simbol cahaya iman yang menghidupkan malam-malam akhir Ramadhan.
Dengan demikian, Tumbilo Tohe merupakan pertemuan yang indah antara adat dan ibadah, antara kearifan lokal dan semangat spiritual Islam.
Dalam Islam, cahaya memiliki makna simbolik yang sangat dalam.
Cahaya sering menjadi metafora bagi iman, petunjuk, dan hidayah dari Allah.
Allah berfirman dalam Al-qur’an:
اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
Allāhu nūrus-samāwāti wal-arḍ
Artinya: Allah adalah cahaya langit dan bumi.
(QS. An-Nur: 35)
Ayat ini menunjukkan bahwa cahaya tidak hanya bermakna fisik, tetapi juga spiritual. Ia melambangkan petunjuk, keimanan, dan kehidupan hati.
Dalam konteks Tumbilo Tohe, lampu-lampu yang dinyalakan menjadi simbol bahwa masyarakat Gorontalo tidak ingin membiarkan malam-malam akhir Ramadhan berlalu dalam kegelapan.
Mereka ingin menghadirkan cahaya, baik cahaya fisik di jalan menuju masjid, maupun cahaya spiritual di dalam hati.
Tradisi ini sekaligus menjadi pesan bahwa jalan menuju ibadah harus selalu dipermudah dan diterangi, agar manusia semakin dekat dengan Allah swt.
Salah satu ibadah yang sangat dianjurkan pada sepuluh malam terakhir Ramadhan adalah i’tikaf, yaitu berdiam diri di masjid untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Dalam sebuah hadits disebutkan:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ
Kāna Rasūlullāhi ṣallallāhu ‘alaihi wasallam ya‘takifu al-‘asyra al-awākhira min Ramaḍhān
Artinya:
Rasulullah ﷺ senantiasa melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.
(HR. Bukhari dan Muslim)
I’tikaf merupakan bentuk kesungguhan spiritual seorang mukmin dalam memaksimalkan akhir Ramadan.
Ia menjadi momen untuk memperbanyak shalat malam, membaca Al-qur’an, berdzikir, dan berdoa.
Dalam konteks ini, tradisi Tumbilo Tohe memiliki makna sosial yang sangat kuat.
Lampu-lampu yang dinyalakan di jalan menuju masjid menjadi simbol ajakan kolektif kepada masyarakat untuk menghidupkan malam-malam akhir Ramadhan.
Seolah-olah lampu itu berkata:
“Wahai manusia, jangan biarkan malam ini berlalu tanpa ibadah.”
Puncak dari semangat ibadah pada akhir Ramadan adalah pencarian Lailatul Qadar.
Allah berfirman:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Innā anzalnāhu fī laylatil-qadr.
Wa mā adrāka mā laylatul-qadr.
Laylatul-qadri khairun min alfi syahri.
Artinya:
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-qur’an) pada malam kemuliaan.
Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?
Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.
(QS. Al-Qadr: 1–3)
Dalam hadits Rasulullah ﷺ bersabda:
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
Taḥarrāw laylatal-qadri fil-witri minal-‘asyri al-awākhiri min Ramaḍhān.
Artinya:
Carilah Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir Ramadhan.
(HR. Bukhari)
Karena itulah masyarakat Gorontalo secara turun-temurun memeriahkan malam 27 Ramadhan dengan menyalakan lampu-lampu sebagai bentuk kegembiraan dan harapan untuk menyambut malam yang mulia tersebut.
Lampu-lampu itu menjadi simbol bahwa malam ini tidak boleh dilewati dengan kelalaian.
Tumbilo Tohe adalah sebuah tradisi budaya, memiliki makna spiritual yang sangat dalam.
Ia lahir dari kebutuhan praktis masyarakat Gorontalo untuk menerangi jalan menuju masjid, dan menjadi simbol kegembiraan serta kesungguhan umat dalam menyambut malam Lailatul Qadar.
Melalui Tumbilo Tohe, masyarakat Gorontalo menunjukkan bahwa adat dapat berjalan selaras dengan nilai-nilai Islam.
Cahaya lampu menjadi lambang cahaya iman, sementara jalan yang diterangi menjadi simbol perjalanan menuju rumah Allah.
Tradisi ini mengajarkan bahwa menghidupkan malam Ramadhan bukan hanya tugas individu, tetapi juga tanggung jawab sosial dan budaya umat.
“Ketika lampu-lampu Tumbilo Tohe dinyalakan, sesungguhnya yang sedang diterangi bukan hanya jalan menuju masjid, tetapi juga jalan hati menuju Allah.
Jangan biarkan cahaya itu padam sebelum Ramadhan berakhir.
Siapa tahu, di antara malam yang kita hidupkan, tersimpan Lailatul Qadar yang kita harapkan dan mengubah takdir hidup kita ke depannya.
Semoga cahaya Tumbilo Tohe tidak hanya menyinari malam kita, tetapi juga menerangi hati kita hingga ketika Ramadhan berlalu.
Orang Gorontalo selayaknya bangga memiliki dan menjaga tradisi penuh cahaya ini, untuk menjemput Lailatul Qadar yang mulia.
Wallahu a’lam bish showaab.














