Example floating
Example floating
KHAZANAH

Mutiara Ramadhan: Menjemput Ketenangan dengan Qiyamullail dan Tilawah sebagai Mindfulness Booster

0
×

Mutiara Ramadhan: Menjemput Ketenangan dengan Qiyamullail dan Tilawah sebagai Mindfulness Booster

Sebarkan artikel ini
Menjemput Ketenangan dengan Qiyamullail dan Tilawah sebagai Mindfulness Booster. (Foto: DP/Ilustrasi)
Menjemput Ketenangan dengan Qiyamullail dan Tilawah sebagai Mindfulness Booster. (Foto: DP/Ilustrasi)
Penulis: Misnawaty S.  Nuna

HIMPUN.ID – Di tengah kegaduhan dunia dan di tengah badai kehidupan modern yang sarat dengan hiruk-pikuk keduniawian, jiwa manusia seringkali mengalami keletihan yang luar biasa.

Kegelisahan, kecemasan akan masa depan, dan penyesalan masa lalu seringkali merampas hak hati untuk merasakan thuma’ninah.

Dalam perspektif spiritual, kondisi ini adalah bentuk “kekeringan ruhani”.

Islam menawarkan penawar yang agung melalui Qiyamullail dan Tilawah.

Jika dunia mengenal istilah mindfulness sebagai upaya menghadirkan kesadaran penuh, maka Islam menyebutnya sebagai Ihsan beribadah seolah-olah melihat Allah, atau setidaknya sadar sepenuhnya bahwa Allah sedang mengawasi kita.

Bangun di sepertiga malam adalah aktivitas fisik meninggalkan tempat tidur, dan perjalanan ruhani menuju “Madrasah Ilahiyah”.

Di saat penduduk bumi terlelap, pintu-pintu langit terbuka lebar.

Rasulullah SAW bersabda mengenai keajaiban waktu ini:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

Yanzilu Rabbuna tabaaraka wa ta’ala kullu lailatin ilas-sama’id dunya hiina yabqa thuluthul lailil akhir, yaquulu: Man yad’uuni fa astajiiba lahu, man yas’aluni fa u’thiyahu, man yastaghfiruni fa aghfira lahu.

Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir, lalu Dia berfirman: “Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku beri; dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni.'” (HR. Bukhari dan Muslim).

Qiyamullail merupakan gerakan syukur yang menyehatkan.

Secara medis, udara sepertiga malam kaya akan oksigen yang belum terpolusi, yang saat dipadukan dengan takbir dan sujud, akan membersihkan paru-paru sekaligus menenangkan saraf-saraf yang tegang.

Keheningan malam membantu hati untuk fokus (khusyuk), sebuah kondisi puncak dari mindfulness di mana hamba merasa begitu dekat dengan Penciptanya.

Secara teknis religius, saat seorang hamba melakukan Rukuk, ia sedang melatih kerendahhatian sekaligus melancarkan aliran darah di area tulang belakang.

Dan puncak dari kedekatan adalah saat Sujud.

Sujud adalah posisi di mana jantung berada di atas otak, memaksa darah mengalir ke pembuluh-pembuluh darah di otak yang jarang teraliri saat posisi tegak.

Allah SWT berfirman:
وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ

Wasjudu waqtarib.

“Dan sujudlah serta dekatkanlah (dirimu kepada Allah).” (QS. Al-Alaq: 19).

Inilah momen ketika akal tunduk kepada wahyu, dan secara biologis, otak mendapatkan suplai oksigen maksimal yang meningkatkan kecerdasan emosional dan ketenangan batin.

Setelah raga dikuatkan dengan shalat, jiwa kemudian diberi nutrisi melalui Tilawah.

Membaca Al-qur’an dengan tartil (perlahan dan indah) adalah bentuk meditas tertinggi.

Getaran ayat-ayat suci yang dilafalkan bukan hanya menyentuh pendengaran, tapi menembus relung kalbu.

Sebagaimana firman-Nya:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Alladziina aamanuu wa tathma’innu quluubuhum bidzikrillahi, alaa bidzikrillahi tathma’innul quluub.

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).

Membaca Al-qur’an secara rutin melatih pikiran untuk berhenti dari “Rumination” (berpikiran buruk secara berulang).

Alunan makhraj dan tajwid memaksa lisan dan pikiran sinkron, menciptakan fokus sempurna yang menghancurkan hormon stres dalam tubuh.

Untuk menjadikan Qiyamullail dan Tilawah sebagai booster kesadaran memerlukan istiqomah.

Ini adalah perjalanan panjang untuk meraih Nafsul Muthmainnah (jiwa yang tenang).

Ketika seorang hamba mampu mengoptimalkan malam-malamnya, maka ia akan keluar ke dunia pada siang hari dengan mental yang tangguh, wajah yang bercahaya, dan hati yang lapang.

Kenikmatan munajat Para Kekasih Allah, keteguhan mereka dalam Qiyamullail bukanlah beban bagi mereka yang telah merasakan manisnya iman, itu adalah kebutuhan yang melebihi kebutuhan terhadap makan dan minum.

Diriwayatkan bahwa Imam Asy-Syafi’i membagi malamnya menjadi tiga bagian: sepertiga untuk menulis ilmu, sepertiga untuk salat malam (Qiyamullail), dan sepertiga untuk istirahat.

Beliau mampu mengkhatamkan Al-qur’an sebanyak 60 kali selama bulan Ramadan yang semuanya dilakukan di dalam salat.

Bagi beliau, Al-qur’an dan malam hari adalah sepasang kekasih yang memberikan ketenangan kognitif luar biasa, sehingga beliau mampu menghasilkan ijtihad-ijtihad fiqih yang sangat cerdas dan relevan hingga hari ini.

Seorang ulama besar, Fudhail bin Iyadh berkata, “Jika matahari terbenam, aku merasa gembira dengan kegelapan agar aku bisa berduaan dengan Rabb-ku. Dan jika matahari terbit, aku merasa sedih karena manusia mulai masuk menemuiku.”

Pernyataan ini menunjukkan level mindfulness tertinggi, di mana kesendirian bersama Allah menjadi sumber energi mental (energy booster) yang paling utama.

Bagi para salafus shalih, Qiyamullail adalah saat di mana segala kepenatan duniawi luruh, digantikan oleh cahaya ketenangan yang terpancar pada wajah-wajah mereka di siang hari.

Dengan memadukan gerakan shalat penuh tadabbur, dan tilawah yang menyentuh kalbu, Qiyamullail dan Tilawah bertransformasi menjadi terapi ketenangan hati yang holistik.

Sebagaimana Allah menjanjikan tempat yang terpuji bagi mereka yang menghidupkan malam:

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا

Wa minal-laili fatahajjad bihii naafilatal-laka ‘asaa ay-yab’atsaka Rabbuka maqaamam-mahmuudaa.

“Dan pada sebagian malam hari, bertahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra: 79).

Saat dunia tertidur, bangunlah. Basahi lidah dengan Tilawah, hidupkan malam dengan Tahajud.

Janji Allah itu nyata bagi mereka yang menghidupkan malam.

Wallahu a’lam bish shawaab

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *