Oleh: Misnawaty S. Nuna
HIMPUN.ID – Banyak dari kita mengawali Ramadhan dengan semangat membara di masjid, namun perlahan surut ketika mendekati garis finish.
Revitalisasi di 10 hari terakhir adalah upaya untuk “menyetrum” kembali jiwa yang mulai lelah, memastikan kita tidak kehilangan momentum emas saat pintu ampunan terbuka paling lebar.
Secara psikologis dan tradisi, 10 hari terakhir sering kali menjadi titik kritis.
Fokus masyarakat mulai terpecah antara ibadah dan persiapan mudik atau kebutuhan lebaran.
Padahal, Nabi Muhammad SAW justru memberikan teladan sebaliknya: beliau “mengencangkan ikat pinggang” dan semakin giat beribadah ketika orang lain mulai lalai.
Revitalisasi ini penting agar kita meraih predikat Muttaqin (orang bertaqwa) secara maksimal, bukan sekadar menggugurkan kewajiban lapar dan dahaga.
Sebagai pedoman, berikut adalah dalil dari hadits shahih mengenai kesungguhan Rasulullah SAW:
كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ، مَا لَا يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهِ
Kāna Rasūlullāhi shallallāhu ‘alayhi wa sallama yajtahidu fil ‘asyril awākhiri, mā lā yajtahidu fī ghayrihi.
Artinya:
“Rasulullah SAW sangat bersungguh-sungguh (beribadah) pada sepuluh hari terakhir (Ramadhan), melebihi kesungguhannya di waktu-waktu yang lain.” (HR. Muslim).
Strategi Revitalisasi:
1. Menghidupkan Malam (Qiyamul Lail): Mengisi malam dengan interaksi berkualitas bersama Allah. Jika biasanya tarawih terasa cepat, di fase ini cobalah memperlama sujud dan memperbanyak doa secara personal.
2. Berburu Lailatul Qadar: Malam yang lebih baik dari seribu bulan ini dirahasiakan agar kita konsisten. Revitalisasinya adalah dengan menganggap setiap malam dari 10 malam terakhir sebagai malam Qadar. Jangan hanya pilih-pilih malam ganjil, agar tidak kecolongan.
3. Iktikaf: Rehat dari Dunia: Iktikaf adalah cara “mengisolasi” diri dari hiruk-pikuk duniawi untuk fokus pada vertikal (Allah). Bagi yang tidak bisa menetap penuh di masjid, revitalisasi bisa dilakukan dengan menambah durasi berdiam diri di masjid setiap bakda Subuh atau antara Maghrib dan Isya dengan niat iktikaf.
4. Memperbaiki Kualitas Sedekah:
Di penghujung Ramadhan, sedekah bukan soal nominal, tapi soal keterikatan hati. Berbagilah dengan rasa syukur bahwa kita masih diberi kesempatan bertemu Ramadhan tahun ini.
Revitalisasi berarti mengatur ulang jadwal harian.
Jika di awal Ramadhan kita masih disibukkan dengan urusan duniawi yang bisa ditunda, maka di 10 hari terakhir, “skala prioritas” harus bergeser total ke akhirat.
Cobalah untuk menyelesaikan urusan belanja lebaran atau persiapan mudik secepatnya. Tujuannya agar fokus pikiran tidak terbelah antara “diskon mal” dan “ampunan Allah”.
Di hari-hari terakhir, tingkat kelelahan fisik biasanya meningkat, yang seringkali memicu emosi atau ghibah (bergunjing) saat berkumpul.
Ingatlah bahwa satu kalimat buruk bisa menghanguskan pahala puasa seharian.
Gunakan energi yang tersisa untuk berdzikir pelan atau diam yang berkualitas.
Ada amalan yang sangat ditekankan berdasarkan sunnah:
Rasulullah SAW mengajarkan Aisyah RA doa singkat namun mencakup segala kebutuhan kita akan ampunan:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii.
Artinya:
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan Engkau menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku.” (HR. Tirmidzi).
Kata ‘Afuw (Maaf) dalam bahasa Arab berarti menghapus jejak. Kita meminta agar dosa kita dihapus total seolah-olah kita tidak pernah melakukannya.
Akhir yang baik menentukan segalanya.
Jangan biarkan Ramadhan pergi tanpa meninggalkan bekas perubahan pada karakter kita.
Mintalah kepada Allah agar kita tidak termasuk orang yang hanya mendapatkan lapar dan haus saja, melainkan keluar sebagai pribadi yang baru dan bersih.
Sepuluh hari terakhir adalah babak final.
Pemenang sesungguhnya bukan mereka yang paling awal semangat, tapi mereka yang mampu bertahan dan meningkatkan intensitasnya hingga akhir.
Jika Ramadhan adalah tamu agung, maka sepuluh malam terakhir adalah pelukan perpisahan.
Dekaplah ia dengan ibadah, agar saat ia pergi, ia meninggalkan cahaya di dalam hati.
Wallahu a’lam bish showaab.














