Example floating
Example floating
OPINI

Manusia: Makhluk Cipataan Tuhan yang Suka Menyakiti Sesamanya

0
×

Manusia: Makhluk Cipataan Tuhan yang Suka Menyakiti Sesamanya

Sebarkan artikel ini
Peserta Advance Training (LK-III) Badko Sulut-Go, Ulan Bidi (Foto: DP)

HIMPUN.ID Pada awal proses penciptaan manusia, malaikat tidak setuju dengan Tuhan untuk menciptakan makhluk yang bernama manusia ini. Malaikat khawatir makhluk yang bernama manusia ini hanya akan menjadi perusak di muka bumi. Tetapi Tuhan Yang Mahakuasa berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Tiada satu pun makhluk yang menerima tanggung jawab untuk menjadi khalifah di muka bumi, kecuali manusia. Oleh karena kesediaan manusia mengemban amanah menjadi khalifah di muka bumi, Tuhan menghadiahkan takdir “kemerdekaan” kepada manusia. Malaikat sebagai makhluk yang suci pun tidak diberi takdir kemerdekaan tersebut; malaikat bertindak sesuai perintah Tuhan.

Malaikat penjaga surga, sejak diciptakan, sudah berada di pintu surga dan menjaga surga itu hingga hari kiamat dan hari pembalasan. Tak pernah ia jalan-jalan ke neraka untuk sekadar melihat-lihat kondisi di sana. Demikian pula tugas malaikat lain; mereka bertugas sesuai fungsinya sampai hari kiamat. Ada malaikat yang ditugaskan berzikir, maka yang ia kerjakan hanyalah berzikir hingga hari kiamat.

Manusia dengan kemerdekaannya memiliki kebebasan untuk memilih melakukan apa pun, bahkan sesuatu yang terlarang. Semisal, larangan membuat sesama muslim dan mukmin sakit hati dengan perkataan dan perbuatan. Tanpa adanya kesalahan dosa yang berkonsekuensi hukuman akhirat, mereka yang menyakiti hati sesama muslim sesungguhnya menanggung dosa yang nyata.

Namun, manusia masih banyak menyakiti hati sesamanya, seolah-olah bisa hidup sendiri saja. Padahal sudah jelas bahwa seorang muslim tidak dapat hidup sendiri menyembah Allah dengan memutuskan hubungan dengan orang lain. Keindahan beribadah hanya dapat dilaksanakan jika kita juga berbuat baik kepada orang lain. Selama hubungan sesama muslim belum lancar, selama kita hanya mementingkan diri sendiri tanpa peduli kepada orang lain, selama itu pula jiwa kita tidak akan tenang.

Menurut laporan Digital Civility Index (DCI) yang dirilis oleh Microsoft pada Februari 2021 (dengan data penelitian sepanjang tahun 2020), Indonesia menduduki peringkat ke-29 dari 32 negara yang disurvei di seluruh dunia. Posisi ini menjadikan netizen Indonesia berada di urutan terbawah (paling tidak sopan) di Asia Tenggara pada saat itu. Skor Indonesia memburuk 8 poin, dari 67 pada tahun 2019 menjadi 76 pada tahun 2020 (dalam indeks ini, semakin tinggi skornya, semakin rendah tingkat kesopanannya).

Laporan tersebut secara spesifik menyoroti bahwa mundurnya tingkat kesopanan warganet Indonesia dipicu oleh tiga risiko utama:

1. Hoaks dan Penipuan: Mengalami kenaikan (+13 poin).
2. Ujaran Kebencian: Mengalami kenaikan (+5 poin).
3. Diskriminasi: Meski turun (-2 poin), tetap menjadi faktor yang signifikan.

Hasil riset ini sempat menjadi perbincangan hangat dan viral di media sosial Indonesia karena kontras dengan citra masyarakat kita yang dikenal ramah di dunia nyata, namun dianggap kurang beradab di ruang digital.

Kurangnya adab di dunia digital memang sangat mengkhawatirkan. Hal ini terjadi karena beberapa faktor. Pertama, banyak orang merasa “kebal” karena tidak berhadapan langsung dengan korbannya, sehingga dengan mudah berkata kasar yang tidak berani diucapkan saat bertatap muka. Sering terjadi, orang yang sangat vokal dan tidak beradab di media sosial justru menciut ketika berhadapan langsung, seperti peristiwa yang baru-baru ini terjadi di sebuah coffeeshop di Kota Gorontalo.

Kedua, masyarakat Indonesia memiliki sifat komunal (guyub) yang sangat kuat. Sisi negatif dari budaya ini adalah munculnya rasa ingin tahu yang berlebihan terhadap urusan orang lain (kepo). Berbagi cerita negatif atau rahasia orang lain (gosip) sering dianggap sebagai cara untuk mempererat hubungan kelompok. Orang yang membawa “berita baru” (meskipun bohong) merasa memiliki kekuatan atau kontrol dalam percakapan dan mendapatkan perhatian lebih dari kelompoknya.

Ketiga, secara psikologis, menyakiti orang lain melalui cerita bohong sering kali merupakan upaya menaikkan citra diri saat seseorang merasa rendah. Dengan menjatuhkan martabat orang lain, seseorang secara tidak sadar merasa dirinya lebih baik atau lebih benar. Padahal justru sebaliknya, cerita yang diplesetkan maknanya sering digunakan untuk merusak reputasi orang yang dianggap lebih sukses atau beruntung guna memuaskan rasa iri.

Marilah kita menjaga hubungan antar sesama agar ibadah kita menjadi lebih tenang. Manusia akan menjadi lebih mulia daripada malaikat jika selalu mengikuti akal dan hati nurani yang luhur. Sebaliknya, manusia akan menjadi lebih rendah daripada hewan jika selalu menyakiti hati orang lain tanpa tabayyun. Jika hanya berdasar ilmu, Iblis tiada tandingannya.

Namun karena kurangnya adab, Iblis mendapatkan julukan “Laknatullah” dan kekal di neraka. Tentu kita tidak ingin menjadi pengikutnya. Lagipula, ilmu di dunia ini hanyalah setetes air di samudera. Setetes itu pun masih banyak yang tidak kita ketahui. Rahasia palung laut atau dasar lautan es di Antartika, apakah kita pernah ke sana? Belum, kan? Jadi, jangan terlalu pongah dan merasa paling cendekia. Perjalanan kita masih jauh.(Rls)

Gorontalo, 25 Januari 2026
Penulis: Ulan Bidi, Peserta Advance Training (LK-III) Badko Sulut-Go

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *