Example floating
Example floating
EDUKASI

Mendag Diminta Turun Tangan! Rachmat Gobel: Impor Pakaian Bekas Bertentangan dengan Tiga Cita-Cita Utama Asta Cita Prabowo

0
×

Mendag Diminta Turun Tangan! Rachmat Gobel: Impor Pakaian Bekas Bertentangan dengan Tiga Cita-Cita Utama Asta Cita Prabowo

Sebarkan artikel ini
Anggota Komisi VI DPR RI dari Partai Nasdem, Rachmat Gobel. (Foto: Tim RG)

HIMPUN.ID Anggota Komisi VI DPR RI dari Partai Nasdem, Rachmat Gobel, mendesak Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso untuk segera bergerak dan tidak membiarkan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sendirian dalam melawan maraknya impor pakaian bekas.

Rachmat menilai, persoalan impor ini bukan hanya isu kepabeanan, tetapi juga perdagangan yang kewenangannya berada di bawah Kementerian Perdagangan (Kemendag).

Mendag harus bantu Menkeu. Ini untuk melindungi UMKM di bawah, di desa, dan untuk membuka lapangan kerja di tingkat bawah,” tegas Rachmat Gobel, Minggu 26 Oktober 2025.

Menurut Rachmat Gobel, maraknya impor pakaian bekas selama sepuluh tahun terakhir telah menghancurkan industri konveksi rumahan di desa-desa dan menghilangkan lapangan kerja di tingkat bawah. Bahkan, Rachmat menyoroti, bisnis ini secara fundamental bertentangan dengan setidaknya tiga cita-cita utama dalam program pembangunan Presiden Prabowo Subianto yang dikenal sebagai Asta Cita:

Pertama, pada cita kedua tertulis, “Memantapkan sistem pertahanan keamanan negara dan mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, energi, air, ekonomi kreatif, ekonomi hijau, dan ekonomi biru”.

Dijelaskan Rachmat di sini ada aspek ekonomi kreatif dan ekonomi hijau.

“Impor pakaian bekas itu sistemnya bal-balan. Hanya ditimbang saja. Jadi tak semuanya layak pakai. Jadi sebagian akan menjadi sampah. Hal ini jelas tak sesuai konsep ekonomi hijau. Indonesia menjadi negara buangan sampah. Selain itu juga ada aspek ekonomi kreatif, impor pakaian bekas membunuh kreativitas masyarakat dalam industri pakaian jadi untuk masyarakat bawah,” katanya.

Kedua, dalam cita ketiga, tertulis, “Meningkatkan lapangan kerja yang berkualitas, mendorong kerwirausahaan, mengembangkan industri kreatif, dan melanjutkan pengembangan infrastruktur”. “Impor pakaian bekas jelas-jelas membunuh semua tujuan cita ketiga ini,” kata Gobel.

Ketiga, pada cita keenam, tertulis, “Membangun dari desa dan dari bawah untuk pemerataan ekonomi dan pemberantasan kemiskinan”. “Impor pakaian bekas jelas-jelas membuat mati industri konveksi di desa-desa dan di bawah karena segmen pasarnya sama. Dengan demikian impor pakaian bekas telah menciptakan kemiskinan di tingkat bawah,” katanya.

Biasanya, kata Rachmat Gobel, pelaku impor pakaian bekas selalu berdalih bahwa impor pakaian bekas telah menciptakan lapangan kerja.

“Padahal yang akan dhihitung adalah pedagangnya. Ya, industri konveksi di tingkat bawah juga akan melibatkan para pedagang juga. Jadi ini dalih yang absurd,” katanya.

Lebih jauh, Rachmat Gobel juga mengaitkan impor pakaian bekas dengan ancaman kesehatan karena potensi kandungan kutu, bakteri, virus, dan jamur dari negara asal, yang berpotensi menimbulkan penyakit baru bagi masyarakat.

Rachmat menyimpulkan, impor besar-besaran ini akan membentuk bangsa dengan “mentalitas sampah” dan merusak martabat serta kedaulatan bangsa di mata internasional.

“Intinya adalah dengan impor pakaian bekas besar-besaran kita akan menjadi bangsa sampah dan dengan mentalitas sampah. Dan dalam pergaulan internasional ini sangat buruk karena pakaian yang dikenakan rakyat kita adalah sampah dari negara-negara tersebut,” tutup Rachmat.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *