Example floating
Example floating
OPINI

Mutiara Ramadhan: ‘Bijak Bermedia Sosial di Bulan Ramadhan’

0
×

Mutiara Ramadhan: ‘Bijak Bermedia Sosial di Bulan Ramadhan’

Sebarkan artikel ini

HIMPUN.ID – Sejenak kita merenung tentang satu hal yang sangat dekat dengan kehidupan kita hari ini, yaitu media sosial.

Ramadhan mengajarkan kita untuk menahan diri. Menahan lapar, menahan dahaga, dan seharusnya juga menahan emosi, lisan, dan jemari. Karena di zaman sekarang, dosa dan pahala tidak hanya lahir dari ucapan, tetapi juga dari status, komentar, unggahan, dan pesan singkat.

Allah SWT mengingatkan dalam Al-Qur’an:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (QS. Al-Ahzab: 70)

Ayat ini tidak hanya berlaku untuk lisan, tetapi juga untuk tulisan. Setiap huruf yang kita ketik di media sosial adalah bentuk ucapan yang akan dimintai pertanggungjawaban.

Sering kali kita sudah berpuasa sejak subuh, namun tanpa sadar pahala puasa itu terkikis karena satu komentar yang menyindir, satu unggahan yang menyulut emosi, atau satu berita yang kita bagikan tanpa memastikan kebenarannya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًاۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan(-mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)

Ini adalah perintah tabayyun, yang sangat relevan di tengah maraknya hoaks, provokasi, dan informasi viral yang sering kali memecah belah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ للهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ رواه البخاري

“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.”
(HR. Bukhari)

Hadits ini mengingatkan kita bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus. Puasa juga menuntut kita menjaga akhlak, termasuk akhlak di dunia digital.

Jika rasa lapar membuat kita mudah tersulut emosi, maka Ramadhan justru mengajarkan untuk lebih banyak diam, lebih banyak menahan diri, dan lebih banyak mendoakan, bukan menyerang atau menjatuhkan orang lain di media sosial.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Inilah prinsip bijak bermedia sosial di bulan Ramadhan: jika tidak membawa kebaikan, maka lebih baik ditahan.

Media sosial bisa menjadi ladang pahala jika diisi dengan doa, nasihat, dan kata-kata yang menyejukkan. Namun ia juga bisa menjadi ladang dosa jika dipenuhi ghibah, fitnah, ujaran kebencian, dan adu domba.

Allah SWT dengan tegas melarang ghibah, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12)

Bayangkan, betapa ruginya orang yang menahan lapar seharian, tetapi puasanya rusak hanya karena jemarinya tidak terjaga.

Di bulan berkah ini, mari kita niatkan satu hal sederhana :
menjadikan Ramadhan sebagai bulan puasa dari menyakiti orang lain, baik dengan lisan maupun tulisan.

Semoga Allah SWT menjaga puasa kita, membersihkan hati kita, dan menjadikan media sosial sebagai jalan kebaikan. Aamiin.*

Penulis: Misnawaty S. Nuna

Editor: Usman Anapia
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *