Example floating
Example floating
OPINI

Pembelajaran Sosial Emosional (SEL) Sebagai Upaya “Memupuk” Semangat Generasi Stroberi

0
×

Pembelajaran Sosial Emosional (SEL) Sebagai Upaya “Memupuk” Semangat Generasi Stroberi

Sebarkan artikel ini
Pembelajaran Sosial Emosional (SEL) Sebagai Upaya "Memupuk" Semangat Generasi Stroberi (Foto ilustrasi AI)

HIMPUN.ID – Pendidikan berjalan dan berderap begitu dinamis. Guru layaknya sebuah tuas yang menjadi roda penggerak dalam sistem pendidikan. Anak didik kita lahir di zaman yang sudah serba canggih. Kelahiran mereka diberkahi dengan teknologi mutakhir yang tidak disangka oleh generasi sebelumnya —yaitu gadget. Kita pun hidup di era “banjir” informasi. Ada ratusan berita yang diterima dalam sehari. Namun, apakah tau banyak hal itu membuat kita menjadi pribadi yang bijak? Belum tentu. Saya berpijak pada sebuah petuah dalam bahasa arab “khoirul umuri ausatuha” yang artinya sebaik-baik perkara adalah yang pertengahan. Tidak boleh berlebihan dan tidak juga kurang —pas saja.

Sebagai seorang pendidik, saya sering kali menanyakan kegiatan dan kebiasaan anak-anak di rumahnya. Apa yang mereka lakukan tatkala sepulang dari sekolah? Apakah mereka bermain dan berbaur dengan masyarakat di lingkungan rumahnya? Ternyata sebagian dari mereka asyik dengan dunia mereka sendiri. Para siswa akan mengisi waktu luang dengan bermain game dan sosial media di gawai mereka. Bahkan, hampir di setiap handphone ada minimal tiga aplikasi sosial media, dua game dan satu aplikasi belanja online. Sebagaian dari mereka adalah pengguna aplikasi Tik Tok, Instagram dan Whats App. Rerata game yang dimainkan adalah Mobile Lagends, Free Fire dan Fifa Mobile. Sedangkan aplikasi belanja yang digunakan mulai dari Shopee, Toko Pedia dan TikTok Shop.

Dari fenomena tersebut, saya mendapati beberapa kejadian menarik. Yaitu sebagaian besar diantara mereka memiliki fokus yang teramat rendah ketika mengikuti pembelajaran di kelas. Fokus mereka dengan mudah terpecah. Selain itu, mereka juga mudah terdistraksi dengan berbagai hal. Apabila diminta untuk mengerjakan sesuatu, maka yang keluar dari mulut mereka adalah penolakan. “Pak, terlalu banyak”, “Pak, jangan nulis mulu”, “Pak, aku cape” dan lain sebagainya. Setelah saya telisik, mereka juga hobi sekali skrol di TikTok dan Instagram. Kebanyakan diantara mereka hanya akan tahan menonton masing-masing video hanya dalam 20 detik saja. Selanjutnya, mereka akan tap layar ke video selanjutnya. Hal ini yang saya sebut sebagai tantrum media sosial. Apa efeknya bagi pembelajaran di kelas? Mereka hanya ingin mendapatkan segala sesuatu yang instan. Padahal, belajar adalah sesuatu proses yang tidak pernah berhenti dari buaian hingga liang kubur. Yang utama dari pembelajaran di kelas bukan hasilnya semata, melainkan bagaiamana anak-anak bisa berproses dan menikmatinya. Meraka inilah yang dalam bahasa zaman disebut sebagai Generasi Stroberi.

Salah satu cara untuk menarik kembali gairah anak dalam belajar adalah dengan menerapkan Social-Emotional Learning (SEL) atau pembelajaran berbasis sosial emosional. Dalam Sosial-emotional Learning, ada 5 aspek yang harus dipenuhi.

Pertama, adalah kesadaran diri. Sebenaranya kesadaran diri ini sudah mulai diterapkan dalam kurikulum mendalam yang dicetuskan oleh Kementrian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Siswa dituntut untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Saya sering mengingatkan kepada anak tentang sebuah kata mutiara dalam bahasa arab “man ‘arofa buda safari ista’ada” yang artinya barang siapa yang tau jauhnya perjalanan, maka bersiaplah ia. Hanya ada dua orang yang bisa mengukur kemampuan anak, yaitu dirinya sendiri dan gurunya. Kemampuan anak dalam “mencerna” sebuah informasi tentunya berbeda. Ada yang sekali dijelaskan langsung paham, ada yang dua kali dan bahkan ada yang dijelaskan sepuluh kali baru paham.

Maka, kesadaran diri ini penting bagi siswa supaya mereka bisa menyesuaikan diri sendiri dengan materi yang diajarkan. Peran seoarang guru hanyalah fasilitator yang tidak mungkin mengubah murid jika kesadaran dalam diri mereka rendah bahkan tidak ada. Meski demikian, ikhtiar yang bisa dilakukan guru adalah dengan memantik kesadaran itu agar mucul. Makanya, saya sering mengawali pembelajaran dengan motivasi dan kisah-kisah bijak agar “ghiroh” atau semangat dalam diri mereka keluar.

Kedua, manajemen diri. Kemampuan siswa dalam mengelola dan mengatur dirinya sendiri dilakukan setelah dia bisa mengenali dirinya. Manajemen diri dalam menghadapi sebuah pembelajaran diperlukan agar siswa bisa lebih terstruktur dalam mengikuti pembelajaran di kelas. Sebagaimana diketahui, belum tentu siswa MI dan MTs bisa memanajemen dirinya sendiri. Maka, guru perlu menjelaskan dan memberikan pengertian mana kegiatan yang prioritas dan mana kegiatan yang sifatnya hanya hiburan semata. Itu sering saya sampaikan di dalam kelas agar siswa tidak gegabah. Dikotomi kendali pun diperlukan agar anak tidak perlu mengakses informasi yang belum ranahnya mereka. Hal yang serupa juga disampaikan kepada wali murid agar mengawasi dengan maksimal ruang gerak anak baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Upaya ini dilakukan untuk membantu manajemen diri bagi siswa.

Ketiga, kesadaran sosial. Sudah sejak dari sekolah dasar kita diberikan semboyan bahwa manusia itu adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa bantuan dan peran dari orang lain. Dengan begitu, sekolah harus menjadi “ladang” pertama yang memupuk jiwa kepedulian bagi diri siswa. Saya sering menyampaikan di dalam kelas bahwa sebuah kebaikan yang ditanam pasti akan berbuah. Hanya masalah waktu saja yang akan menjawab, apakah sekarang, nanti atau sepuluh tahun yang akan datang. Tatkala ada seorang siswa yang kesulitan dalam pembelajaran, siswa lain akan merasa empati atau yang dalam istilah jawa dikenal dengan “ngawaki”. Bagaimana jika saya menjadi dia? Pasti saya akan kesulitan juga. Lantas setelah itu bagaimana? Apakah hanya sampai di taraf empati saja? Tentu saja tidak. Mari kita masuk ke tahap selanjutnya!

Keempat, keterampilan bersosialisi. Setelah empati dalam diri siswa tumbuh, maka akan ada tindak lanjut dari empati tersebut. Dalam pembelajaran bahasa arab yang dilakukan di kelas, saya mendapati beberapa siswa yang kesulitan dalam menulis dan membaca dibantu oleh temannya. Betapa berbinarnya mata saya tatkala melihat kejadian demikian. Mereka dengan suka rela membantu temannya yang terbata-bata dalam menulis dan membaca. Ada rasa tolong menolong disitu, ada rasa ukhuwah yang tumbuh dengan cinta kasih di hati mereka. Betapa bangganya seorang guru tatkala anak didiknya memberikan kemanfaatkan kepada orang lain. Harapannya, karakter demikian akan terbawa hingga mereka tumbuh dewasa. Mereka akan menjadi pribadi yang pertama kali bertindak tatkala melihat tetangganya, saudaranya dan siapa pun dalam kesulitan.

Kelima, kemampuan membuat keputusan. Reverensi yang beragam membuat sesorang bingung dalam memutuskan sesuatu. Munculnya handphone pun terbukti menjadi salah satu penyebab siswa lebih suka hiburan ketimbang belajar. Cara agar siswa bisa memutuskan segala sesuatu dengan tepat yaitu dengan meminimalisir berbagai tindakan yang akan memecah fokus mereka dalam belajar. Misalnya, dalam lemabaga pendidikan kami, gadget yang sudah selesai digunakan untuk belajar akan dikumpulkan kembali. Tujuannya agar siswa bisa lebih fokus dalam belajar.

Bukan hanya itu, bagi mereka yang salah dalam mengambil keputusan dan bertindak pun akan mendapatkan konsekuensinya. Berani berbuat, berani beranggung jawab, berani menerima sanksi, berani meminta maaf dan berani untuk tidak akan mengulangi lagi. Keberaniaan semacam ini yang mulai terkikis dari murid jaman sekarang. Nilai semacam itu harus benar benar ditanamkan dalam hati terdalam siswa agar mereka berlatih rasa tanggung jawab.

Akhir kata, pembelajaran berbasis sosial emosiaonal ini diperlukan untuk membantu proses mengajar di dalam kelas. Kesadaran diri, kemampuan manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan bersosialisasi dan kemampuan mengambil keputusan adalah langkah pembelajaran untuk melatih kecerdasan emosional murid. Pesan saya, selalu ingat bahwa guru layaknya lentera di gelap jahiliyah. Jadilah penerang di dalam kondisi segelap apapun. Karena jika kita selalu berorientasi pada pemecahan masalah, maka tidak ada masalah yang lebih besar dari kuasa Tuhan.

Penulis: Yanuar Abdillah Setiadi, mahasiswa Magister Pendidikan Islam di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto dan pendidik di sekolah swasta

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *