Oleh: Moh. Fajri Langgene
Kader Persatuan Aksi Pelajar Mahasiswa Indonesia Bone Bolango Gorontalo( PAPMIB-G).
HIMPUN.ID, OPINI – Tantangan bagi pemimpin di era milenial saat ini lebih berat dibandingkan masa-masa sebelumnya, ditambah lagi dengan kondisi post-truth, situasi dimana keyakinan dan perasaan pribadi lebih berpengaruh dalam pembentukan opini publik dibandingkan fakta-fakta yang obyektif.
Era milenial adalah era dimana suatu organisasi dikuasai oleh lebih banyak kaum milenial.
Baca juga: Aborsi Pacar Dua Kali, Oknum Polisi RB Terancam Dipecat
Istilah milenial pertama kali dicetuskan Strauss dan Howe dalam bukunya yang berjudul Millenials Rising: The Next Great Generation (2000).
Istilah ini diciptakan tahun 1987 yaitu ketika anak-anak yang lahir tahun pertengahan 80-an dan mereka akan berada di awal millennium ketiga baru ketika lulus SMA.
Generation Theory yang dicetuskan oleh sosoolog Jerman, Karl Mannheim, yang menyebutkan generasi milenial adalah generasi yang lahir pada rasio tahun 1980 sampai dengan 2000.
Kaum milenial memiliki karakter unik, salah satu ciri utama adalah peningkatan penggunaan teknologi informasi dan keakraban dengan dunia digital.
Kaum milenial yang dibesarkan oleh kemajuan teknologi, yang lebih kreatif, tidak terkukung pada satu pekerjaan, informatif mempunyai passion besar pada globalisasi dan produktif.
Baca juga: Polri Akan Jerat RB dengan Pidana Umum dan Kode Etik
Seiring dengan kemajuan teknologi informasi yang begitu pesat dewasa ini mendorong kaum milenial menggunakan smart phone.
Penggunaan gadget ini sangat diperlukan untuk mendukung aktivitas harian dan menjadi lebih efektif dan efisien.
Seiring meningkatnya populasi generasi milenial yang akan menyentuh 75% di tahun 2025, diperlukan pemimpin tangguh yang mempunyai kemampuan istimewa dan berbeda dalam memimpin masyarakat milenial.
Kehebatan dalam berpidato di ruang publik masih diperlukan, tapi penampilan wicara serba kompleks di dunia maya juga dituntut.
Pemimpin saat ini tidak diharapkan banyak retorika, harus penampilan kaku, berengosan, tapi komunikatif dan bersedia melebur dengan anak-anak muda.
Pengertian “Leadership” sebenarnya mempunyai arti yang lebih luas dari sekedar jabatan atau posisi.
John C. Maxwell mengatakan “Leadership is not about titles, positions, or flowcharts. It’s about one life influencing another”. Ada juga yang mengatakan bahwa “Leadership is about behavior” atau “Leadership is about relationships”.**
Catatan : Tulisan ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis
(Info: himpun.id menerima kontribusi tulisan dengan berbagai tema. Rubrik tulisan yang dapat di kirim yakni Opini, Resensi, Cerpen, dan Puisi)














