Example floating
Example floating
OPINI

Raden Mas Soewardi Surjaningrat (Ki Hadjar Dewantara)

0
×

Raden Mas Soewardi Surjaningrat (Ki Hadjar Dewantara)

Sebarkan artikel ini
Syarief K Moito (Foto. Ist)

Oleh: Syarief K Moito

HIMPUN.ID, OPINI – Tanggal 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional oleh bangsa Indonesia, 2 Mei 1889 di Yogyakarta juga lahir seorang putra yang diberi nama Soewardi Surjaningrat. Soewardi merupakan cucu dari seorang bangsawan Jawa yaitu Paku Alam III, Raja Keraton Pakualaman.

Sebagai seorang cucu dari kerajaan jawa, tentu Soewardi memiliki gelar bangsawan, di lingkungannya dia dipanggil “Raden Mas Soewardi Surjaningrat”.

Soewardi pernah mengenyam pendidikan pesantren, setelah itu karena Soewardi merupakan keturunan ningrat yang jenius, dia juga pernah mendapatkan beasiswa ke sekolah kedokteran belanda di Batavia, bagaimana tidak genius di zaman itu anak-anak bisa sekolah saja sudah bersyukur apalagi kalau bisa masuk sekolah kedokteran (sekarang juga ya?).

Soewardi remaja juga banyak mengkritisi kebijakan pemerintahan kolonial belanda yang dianggapnya terlalu seme-mena pada rakyat Indonesia.

Baca juga:Polri Menduga 3 dari 5 WNI Fasilitator Keuangan ISIS Berada di Suriah

Baca juga:Kemenparekraf Perkuat Sinergi Wujudkan Pariwisata Berkualitas di Biak Numfor Papua

Ketika Soewardi pindah ke Bandung dia menjadi seorang jurnalis. Bekal menjadi jurnalis inilah Soewardi membuat kritik yang tajam melalui tulisannya yang sangat terkenal.

Judul tulisan itu adalah “seandainya aku seorang belanda” dalam tulisan itu Soewardi mengemukakan unek-uneknya, sebagian isi tulisannya adalah “sekiranya aku seorang belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan yang kita sendiri merampas kemerdekaannya…..”

Tulisan kritis ini memicu perhatian pemerintah belanda terhadap Soewardi, belanda membujuk Soewardi melalui perantara ayah dan kakeknya.

Tetapi, alih-alih membujuk Soewardi agar melunak kepada pemerintahan belanda kedua tokoh itu malah memberi dukungan dengan memberi wejangan dan juga pesan kepada Soewardi “ingatlah, seorang bangsawan tidak akan menelan ludahnya sendiri”

Soewardi makin gencar melakukan perlawan kepada pemerintah kolonial melalui tulisan-tulisannya hingga ahirnya pemerintah belanda betul-betul murka kepada Soewardi dengan menghukumnya tanpa melalui proses pengadilan.

Soewardi menerima hukuman berupa pengasingan ke pulau bangka hingga belanda dengan tujuan Soewardi tidak akan lagi menggangu pemerintahan belanda.

Di belanda Soewardi banyak mempelajari hal-hal baru termasuk soal Pendidikan.

Zaman dulu dimana internet belum ada, posisi sangat menentukan prestasi.

Kalau di indonesia posisi sangat menentukan prestasi seperti ini sangat terasa saat ujian nasional.

Soal dibuat oleh guru yang ada di jawa kemudian dipaksakan untuk di jawab oleh siswa yang ada di daerah, yang kita tau disparitas pembangunan fasilitas dan kualitas sangat jauh berbeda (intermezzo).

Di belanda Soewardi sangat mudah mengakses buku dan tulisan orang pintar dari seluruh dunia yang pastinya sangat jauh lebih lengkap dari Indonesia di masa itu.

Soewardi belajar banyak ilmu pengetahuan sewaktu di belanda, dia melahap berbagai macam riset dan buku tentang Pendidikan, politik, psikologi, bahkan filosofi Pendidikan dan kurikulum maria mentosori dan Frobel yang sampai dengan saat ini masih diterapkan sekolah-sekolah di dunia.

Bekal ilmu dari belanda inilah yang membuat Soewardi sepulang dari belanda aktif dalam dunia Pendidikan, bahkan Soewardi mendirikan perguruan taman siswa pada 3 juli 1922 Soewardi menjadi mentor bagi kaum muda yang sedang memulai pergerakan kemerdekaan yang sedang tumbuh.

Taman siswa menjadi harapan bagi masyarakat jelata yang sangat sulit menimba ilmu di sekolah pemerintahan kolonial, dengan adanya sekolah itu pemerintah kolonial cepat merespon perguruan taman siswa yang didirikan oleh Soewardi dengan menyebut taman siswa merupakan salah satu sekolah liar.

Dengan sebutan seperti itu Soewardi malah semakin tertantang untuk memperjuangkan apa yang telah dia mulai, Soewardi mendidik para siswa di taman siswa dengan nilai-nilai egalitarianisme (kesederajatan) dan patriotism, nilai-nilai egalitarianisme yang diajarkan dia contohkan lewat perbuatannya, soewardi menanggalkan gelar kebangsawanan (Raden Mas) di depan Namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara, penanggalan ini dia lakukan agar dia bisa lebih dekat dengan rakyat baik secara fisik dan jiwa.

Ki Hadjar Dewantara adalah jurnalis, politikus, pemimpin rakyat dan pendidik yang begitu fenomenal hingga digelari pahlawan nasional oleh pemerintah Indonesia.

Ki Hadjar Dewantara memiliki visi Pendidikan yang sangat berbeda dari sistem Pendidikan yang diterapkan oleh pemerintah kolonial belanda. Pada saat itu Ki Hadjar melihat sistem Pendidikan belanda tidak mengandung cita-cita yang diharapkan akan dijiwai oleh manusia-manusia Indonesia yang saat itu terjajah.

Sistem Pendidikan belanda terlalu menyuburkan pikiran (kognitif) tetapi mengerdilkan perasaan. Manusia indonesia hanya akan dibentuk menjadi “mesin” belaka yang juga akan menjadi manusia yang bermental kuli.

Manusia yang seperti “robot” ini memang sengaja dibentuk oleh pemerintah kolonial belanda agar mereka tidak memiliki kepekaan terhadap kondisi bangsa, hidup mereka hanya untuk memikirkan bagaimana bisa bertahan hidup.

Bagi mereka menjadi selamat dan Bahagia hanyalah urusan masing-masing orang. Itulah konsekuensi (individualisme, egoime, materialisme) dari sistem Pendidikan yang dibuat oleh belanda, agar belanda bisa terus menancapkan kaki kolonialnya di indonesia.

Ki Hadjar mengatasi hal itu, dunia Pendidikan menurut Ki Hadjar harus bisa menumbuhkan kepekaan sosial pada individu siswa sehingga merdeka dari belanda adalah cita-cita bersama.

Taman siswa menanamkan pendidikan karakter yang sangat kuat, bagimana menjadi manusia Indonesia yang sangat santun, tulus, jujur, dan bersahaja, namun berani, teguh dan setia dalam memperjuangkan kemerdekaan, kebenaran dan keadilan.

“Pendidikan” merupakan sesuatu yang lebih luas dan esensial daripada “pengajaran” bila pengajaran lebih terbatas pada pemberian materi berkaitan dengan pengetahuan dan keterampilan, Pendidikan bermaksud “menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagian yang setinggi-tingginya.”

Implikasinya bagi kehidupan pun berbeda, meskipun tak bisa dipisahkan. “pengaruh pengajaran itu umumnnya memerdekakan manusia atas hidupnya lahir, sedang merdekanya hidup batin itu terdapat dari Pendidikan ( Dewantara dalam Latif, 2020 : 137).

Kita bisa menyimpulkan maksud dari Ki Hadjar dewantara bahwa tujuan dari Pendidikan adalah memerdekakan manusia.

Merdeka yang dimaksud oleh Ki Hadjar ada 2 yaitu “selamat dan Bahagia” selamat raganya dan Bahagia jiwanya.

Tentu kemerdekaan yang di maksud Ki Hadjar tidak terbatas pada bebas dan lepas dari perintah serta penguasaan orang lain, tetapi Ki Hadjar dewantara menegaskan Pendidikan yang tercapai tujuannya adalah Pendidikan yang memerdekakan batin setiap orang, memerdekakan pikiran setiap orang, memerdekakan lahir dan tenaga setiap orang.

Upacara Hari Pendidikan Nasional tahun 2022 akan dilaksanakan tanggal 13 mei.

Kita akan merefleksikan Pendidikan yang kita Yakini adalah akar daripada kesejahteraan dan martabat bagi seluruh umat manusia.

Menteri Pendidikan saat ini yang sering disapa mas Menteri Nadiem Makarim telah mereorientasi Pendidikan Kembali ke pemikiran Ki Hadjar Dewantara dengan slogan “Merdeka Belajar”.

Semoga dengan slogan ini Pendidikan bukan sekedar menyiapkan sekrup industrialisasi melainkan proses belajar manusia seutuhnya dengan menjadikannya sebagai makhluk yang merdeka.**

Catatan : Tulisan ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis

(Info: himpun.id menerima kontribusi tulisan dengan berbagai tema. Rubrik tulisan yang dapat di kirim yakni Opini, Resensi, Cerpen, Puisi, Tips, Edukasi, Khazanah, dan lain sebagainya, selagi bermanfaat)

 

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *