Example floating
Example floating
OPINI

Sejarah Denominasi Gereja sebagai Akibat dari Reformasi Gereja di Eropa Oleh Martin Luther dengan Pengaruh Pemikiran Masa Renaissance

0
×

Sejarah Denominasi Gereja sebagai Akibat dari Reformasi Gereja di Eropa Oleh Martin Luther dengan Pengaruh Pemikiran Masa Renaissance

Sebarkan artikel ini
Sejarah Denominasi Gereja sebagai Akibat dari Reformasi Gereja di Eropa Oleh Martin Luther dengan Pengaruh Pemikiran Masa Renaissance/Ilustrasi Pixabay/Larisa Koshkina

Oleh : Theresia Rachelita Devia Irani
Theresia.rachelita@ui.ac.id
Antropologi Sosial (FISIP Universitas Indonesia)

LATAR BELAKANG

Bila kita ingin melihat sejarah keagamaan, khususnya dalam konteks Kristiani, kita tidak bisa lepas dari pengaruh reformasi gereja.

Reformasi gereja sendiri juga tidak bisa kita lihat sebagai suatu waktu yang stagnan, tetapi dinamis dan dipengaruhi oleh banyak hal, salah satunya adalah pemikiran-pemikiran yang berkembang saat itu, seperti pemikiran yang berkembang pada masa Renaissance.

Masa Renaissance merupakan masa titik balik bangsa Eropa untuk membangkitkan kembali semangat budaya bangsa Yunani dan Romawi klasik setelah keterpurukan mereka pada abad kegelapan atau pertengahan.

Renaissance berasal dari bahasa Latin “renaitre” yang berarti “hidup kembali” atau “lahir kembali”.

Pengertian Renaissance adalah menyangkut kelahiran atau hidupnya kembali kebudayaan klasik Yunani dan Romawi dalam kehidupan masyarakat Barat (Budi, dalam Asfar, 2019:2).

Renaissance sendiri menjadi masa paling berpengaruh bagi eropa dimana pada masa ini ilmu pengetahuhan, seni budaya, dan kehidupan manusianya mulai berkembang dan meningkat.

Selain itu juga, Renaissance begitu penting dan dianggap para sejarawan sebagai titik awal perkembangan peradaban Eropa.

Pertama, bangsa Eropa menorehkan banyak prestasi di berbagai bidang, yaitu: seni, filsafat, sastra, ilmu pengetahuan, politik, pendidikan, agama, perdagangan dan lain-lain.

Kedua, Renaisanse telah menghidupkan kembali cita-cita, alam pemikiran, filsafat hidup yang kemudian menyusun standar-standar dunia modern seperti optimisme, hedonisme, naturalisme dan individualisme.

Ketiga, peninggalan Yunani Kuno dan Romawi perlu dihidupkan kembali. Keempat, masuknya humanisme sekuler yang menggeser orientasi pemikiran manusia dari teosentris ke antroposentris.

PERMASALAHAN

Dalam tulisan ini, saya ingin melihat bagaimana sejarah denominasi gereja sebagai akibat dari reformasi gereja di Eropa oleh Martin Luther dengan pengaruh pemikiran masa Renaissance.

Hal ini berangkat dari latar belakang bagaimana masa Renaissance melahirkan banyak gerakan-gerakan baru salah satunya reformasi gereja yang dipimpin oleh Martin Luther.

Reformasi ini disebut juga sebagai gerakan protestan, dimana dari ini lahir institusi-institusi gereja baru, salah satunya munculnya denominasi gereja dan pemisahan antara Kristen Katolik dan Kristen Protestan.

Hal ini karena adanya kritik pada ajaran Katolik yang dianggap telah menyimpang dari Alkitab dan ternyata hanya memenuhi kebutuhan institusi gereja saat itu saja.

Lahirnya Kristen Protestan ternyata membawa pengaruh pada denominasi gereja. Denominasi gereja pun kini semakin besar dan menguat, terutama di Indonesia dan sangat mudah kita temui saat ini.

Dari permasalahan yang ingin saya bahas diatas, saya merumuskannya menjadi poin berikut:

1. Bagaimana sejarah denominasi gereja sebagai akibat dari reformasi gereja di Eropa oleh Martin Luther dengan pengaruh pemikiran masa renaissance?

METODE PENELITIAN

Dalam tulisan ini, saya menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan melakukan tinjauan pustaka.

Dengan melakukan tinjauan pustaka, saya memilah berbagai bahan yang relevan dengan topik yang saya angkat, tak hanya itu saya juga memastikan bahan yang digunakan kredibel dan dapat dipertanggungjawabkan.

Setelah melakukan tinjauan pustaka, saya menganalisis secara lebih mendalam dan holistik, mengkolaborasikan berbagai konsep, teori maupun poin-poin penting yang ada di tiap kajian pustaka, lalu menyimpulkannya menjadi suatu informasi jawaban atas permasalahan yang diangkat pada topik.

TINJAUAN LITERATUR

Denominasi Gereja

Kata Gereja sendiri secara hakikat berasal dari Gereja (Igreya dalam bahasa Portugis dan Kuriake dalam bahasa Yunani) yang diartikan sebagai yang menjadi milik Kristus.

Dari sini gereja memiliki dua artian secara sederhana. Pertama, gereja adalah karya dan tempat di mana menyembah Tuhan.

Kedua, gereja adalah komunitas yang terdiri dari orang percaya dan mereka adalah milik Allah.
Gereja bukan hanya sebuah bangunan, tetapi mengacu pada komunitas orang percaya, organisasi sosial adalah organisasi yang menetapkan cara atau prosedur untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia dan untuk menciptakan ketertiban dalam masyarakat untuk kepentingan kondisi kehidupan atau suasana yang kondusif untuk kehidupan(Sanda, 2020:3-4).

Artian gereja ini terus sama dan tidak pernah berubah seiring jaman bagi orang Kristiani, meskipun saat ini denominasi semakin meluas, konsep gereja ini seharusnya tidak tergantikan sebagai seorang pengikut Kristus.

Denominasi sendiri adalah mazhab dan gerakan keagamaan Kristen yang terbentuk dan menjadi organisasi yang memiliki gereja Kristus, hierarki kepemimpinan, keunikan tatanan peribadatan, dan adanya kerja sama untuk mencapai tujuan yang sama.

Aliran, paham dan gerakan keagamaan Kristen dalam bingkai arus utama (mainstream) dinamakan denominasi. Hasil penafsiran dan pemahaman terhadap dogma/doktrin dengan terus berkembang dalam wujud denominasi dan sekte (Asry, 2013:50).

Menurut Simon & Schuster (1995) dikutip oleh Nababan (2021), denominasi berasal dari bahasa Latin “denominatus” yang diartikan secara spesifik pada sesuatu yang kemudian berkembang pengertiannya melalui kata Latin “denomination” yang artinya sebuah golongan keagamaan dengan nama khusus.

Denominasi biasanya memiliki anggota kelompol yang relative stabil, tidak begitu besar dan tidak begitu kecil, biasanya tersebar di tiap-tiap daerah dengan kelompoknya masing-masing.
Dalam hal kekuasaan dan pengaturan sangat bergantung pada pilihan jemaat yang ada, kadang bersifat hierarkis, dan terdapat struktur di dalamnnya.

Denominasi ini sangat erat dengan agama Kristen Protestan, dimana Kristen Protestan sendiri sangat terbuka akan berkembangnya gereja dan jemaat seturut perkembangan jaman dan budaya yang berkembang, berbeda dengan agama Kristen Katolik yang masih sangat menjunjung tinggi tradisi dan tidak terlalu dinamis terhadap jaman.

Reformasi Gereja

Reformasi gereja merupakan gerakan yang telah mengubah banyak pandangan gereja khususnya gereja Katolik dan menjadi awal sejarah dari Kristen Protestan.

Pada masa pergerakannya sendiri reformasi gereja dipelopori oleh Martin Luther, seorang reformator Jerman.

Dalam prosesnya, terjadi banyak sekali pembaruan dalam agama Kristen, dengan dasar dalil-dalil yang diangkat oleh Martin Luther dalam protesnya.

Seperti yang kita tahu, Abad Renaissance ditandai dengan munculnya sejumlah ilmuwan dan filsuf yang menentang doktrin gereja terutama tentang ilmu bumi.

Mereka menganggap bahwa pusat dunia bukan lagi Tuhan, melainkan manusia. Manusialah yang berhak dan harus menentukan masa depannya sendiri dan tidak menyerah pada takdir, inilah menjadi standar hidup dunia yang disebut dengan humanisme.

Humanisme inilah yang memicu Reformasi Protestan di awal abad ke-16. Di Jerman, Martin Luther (1483-1546) termasuk dalam daftar pengaduan ke pintu Gereja Kastil di Wittenberg pada tahun 1517, ia berada dalam barisan panjang individu untuk menyuarakan keberatan terhadap berbagai praktik Gereja.

Pertengahan abad ke-16 Reformasi adalah upaya yang lebih sistematis dan positif untuk mempertahankan atau memenangkan kembali orang-orang percaya kepada Gereja Katolik Roma, sebagian melalui pengajaran dan praktik.

Pengaruh Luther memastikan pendekatan yang lebih liberal terhadap liturgi dan musiknya pada agama Kristen (Sunarto & Sejati, 2021).

Martin Luther dianggap sebagai Bapak Reformasi dan meskipun ia berkhotbah tentang perlunya kembali ke iman Kristen dari Alkitab.

Dia adalah seorang teolog Jerman dan pendiri Gereja Lutheran. Dia mempengaruhi semua reformis Gereja abad ke-16 pada tingkat yang lebih besar atau lebih kecil dengan tulisan dan kegiatannya.

Sebagaimana diketahui bahwa reformasi gereja pada abad ke-16 dimulai pada tanggal 31 Oktober 1517 ketika Martin Luther meletakkan 95 tesis di pintu gerbang gereja Wittenburg.

Itu adalah awal reformasi tetapi juga titik awal pemisahan dan perpecahan gereja.

Sedangkan pada tanggal 31 Oktober 1999 perwakilan Lutheran dan pemimpin Katolik menandatangani apa yang disebut Deklarasi Bersama tentang Doktrin Pembenaran di mana umat Protestan dan Katolik menunjukkan pemahaman bersama tentang doktrin pembenaran.

Peristiwa ini dapat dilihat sebagai indikasi bahwa persatuan di antara dua gereja adalah suatu kemungkinan.

Jadi tanggal 31 Oktober pertama mengacu pada reformasi dan pemisahan tetapi tanggal 31 Oktober kedua mengacu pada persatuan (Batlajery, 2021).

Reformasi gereja sendiri menjadi tonggak sejarah munculnya institusi Kristiani baru, yaitu salah satunya Kristen Protestan.

Renaissance

Renaissance berasal dari bahasa Latin “renaitre” yang berarti “hidup kembali” atau “lahir kembali”. Pengertian Renaissance adalah menyangkut kelahiran atau hidupnya kembali kebudayaan klasik Yunani dan Romawi dalam kehidupan masyarakat Barat (Budi, dalam Asfar, 2019:2).

Renaissance sangat penting dan dianggap sejarawan sebagai titik awal perkembangan dari peradaban Eropa.

Pertama, bangsa Eropa menorehkan banyak prestasi di berbagai bidang, yaitu: seni, filsafat, sastra, ilmu pengetahuan, politik, pendidikan, agama, perdagangan dan lain-lain. Kedua, Renaisanse telah menghidupkan kembali cita-cita, alam pemikiran, filsafat hidup yang kemudian menyusun standar-standar dunia modern seperti optimisme, hedonisme, naturalisme dan individualisme.

Ketiga, peninggalan Yunani Kuno dan Romawi perlu dihidupkan kembali. Keempat, masuknya humanisme sekuler yang menggeser orientasi pemikiran manusia dari teosentris ke antroposentris. Ilmu pengetahuan memiliki transmisi, penyebaran, dan proliferasi ke Dunia Barat yang mendukung zaman Renaissance di Eropa (Asy’ari, 2018).

Faktor-faktor munculnya renaissance sendiri antara lain adalah middle age. Middle Age merupakan zaman dimana Eropa sedang mengalami masa suram. Berbagai kreativitas sangat diatur oleh gereja. Dominasi gereja sangat kuat dalam berbagai aspek kehidupan.

Agama Katolik sangat memengaruhi berbagai kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. Seolah raja tidak mempunyai kekuasaan, justru malah gereja lah yang mengatur pemerintahan.

Berbagai hal diberlakukan demi kepentingan gereja, tetapi hal-hal yang merugikan gereja akan mendapat balasan yang sangat kejam. Contohnya, pembunuhan Copernicus mengenai teori tata surya yang menyebutkan bahwa matahari pusat dari tata surya, tetapi hal ini bertolak belakang dari gereja sehingga Copernicus dibunuh (Asfar, 2019:3).

Dari sini kitab isa melihat bagaimana dominasi gereja pada jaman itu sangatlah kuat.

Renaissance adalah periode yang kuat dari “kelahiran kembali” budaya, seni, politik dan ekonomi Eropa setelah Abad Pertengahan. Secara umum digambarkan terjadi dari abad ke-14 hingga abad ke-17, Renaissance mempromosikan penemuan kembali filsafat, sastra, dan seni klasik.

Renaissance memberi banyak ruang bagi perkembangan pemikiran-pemikiran baru terutama guna membenahi apa yang dianggap menyimpang dan ternyata tidak sesuai dengan apa yang seharusnya mereka hidupi sebagai bangsa Eropa.

Ilmu pengetahuan memiliki transmisi, penyebaran, dan proliferasi ke dunia Barat yang mendukung zaman Renaissance di Eropa. Zaman Renaissance (abad XIV-XVI) adalah satu abad yang dinamakan (Golden Age) dalam sejarah peradaban barat.

Zaman ini merupakan fase transisi yang menjebatani zaman kegelapan (Dark Ages) dengan zaman pencerahan (Enlightenment Age).

Dengan lahirnya Renaissance, seberkas kemilau cahaya peradaban barat mulai bersinar. Tanpa Renaissance, Eropa mungkin tidak akan menapaki abad-abad modern dengan begitu cepat (Asy’ari, 2018:2). Dampak yang terasa pun ternyata juga tak hanya dirasakan oleh Eropa saja, tetapi juga berbagai belahan dunia lainnya.

Pemakaian kata Renaissance sendiri pertama kali oleh Jules Michelet, seorang sejarawan Perancis yang lahir di abad ke-18 dan mulai terkenal di dunia Barat pada abad ke-19 karena karyanya yang berjudul “History of France” yang menekankan bahwa masa romatik Abad Pertengahan bukanlah sama sekali tidak berguna bagi perkembangan kebudayaan Barat (Asfar, 2019:2).

Renaissance adalah titik awal peradaban modern di Eropa. Salah satu esensi semangat Renaissance adalah pandangan bahwa manusia tidak hanya memikirkan nasib di akhirat seperti semangat Abad Pertengahan, tetapi mereka harus memikirkan kehidupan mereka di dunia ini.

Renaissance membuat manusia lahir ke dunia untuk mengolah, menyempurnakan dan menikmati dunia ini, hanya setelah menengadah ke surga. Renaissance lebih menitikberatkan pada hal-hal konkrit seperti alam semesta dan kepada manusia, juga pada kehidupan sosial dan sejarah.

Pada masa Renaissance, manusia saat itu menemukan dua hal, yaitu dunia dan dirinya sendiri. Terjadi perubahan dalam bidang agama dan ilmu pengetahuan yang membagi ilmu, misalnya ilmu sosial menjadi ilmu bumi, sejarah dan begitu juga ilmu eksakta seperti alam dan sains.

Di jaman Renaissance, bangsa eropa terutama, hidup bebas dalam menentukan corak hidupnya dan tidak lagi terikat oleh doktrin gereja.

Pengaruh Renaissance makin lama makin meresap di berbagai bidang hidup, sehingga bertambah banyak orang, teristimewa dari golongan cendekiawan, mulai melepaskan diri dari kuasa Firman Tuhan. Ilmu pengetahuan dan kebudayaan umum mulai memisahkan diri dari ajaran dan dogma agama Kristen.

Terutama ilmu alam yang berdasarkan ilmu pasti, mulai bertentangan dengan pandangan Gereja yang sampai masa itu diajarkan dan dipercaya sebagai kebenaran ilahi (Asfar, 2019:3). Adanya keyakinan bahwa kehidupan dan agama itu hal yang terpisah, maka secara tidak langsung gereja kehilangan powernya.

PEMBAHASAN

Bila melihat bagaimana masa renaissance sangat berpengaruh pada perkembang kehidupan manusia di Eropa, kita juga bisa melihat bagaimana renaissance sangat berpengaruh pada gejolak keagamaan, yaitu menjadi salah satu faktor pendorong reformasi gereja.

Pemikiran-pemikiran yang berkembang terutama tentang humanism, individualism, dan lainnya semakin mendorong keinganan untuk bebas berekspresi sebagai manusia, terutama bebas dari ikatan-ikatan aturan Gereja yang seakan-akan dibuat hanya untuk kepentingan kaum tertentu. Gereja dilihat tak lagi menjadi penuntun umat menuju apa yang diharapkan Tuhan kepada kaum manusia, tetapi gereja pada beberapa kasus malah lebih terlihat sebagai suatu institusi yang tak hanya mengatur tentang kehidupan manusia dari aspek agama, tetapi juga hampir segala aspek kehidupan bahkan politik dan ekonomi.

Hal ini mendorong banyaknya pihak yang telah tercerahkan itu untuk membuat gerakan reformasi gereja, salah satunya Martin Luther. Beliau menggagas beberapa dalil yang ia kritisi untuk Gereja.

Dari sini, Martin Luther dikenal sebagai tokoh penggerak protestanisme, dengan mengharapkan adanya pembenahan dari hukum gereja yang selama ini mulai menyeleweng, terutama dengan penjualan indulgensi.

Gerakan protestan ini semakin meluas, dan akhirnya melahirkan institusi-institusi baru seperti Gereja Lutheran, Gereja-gereja Reformasi, dan Anabaptis. Seperti yang dikatakan oleh Aritonang (2017) dimana peristiwa Reformasi mengakibatkan lahirnya sejumlah gereja baru, walaupun tidak dimaksudkan demikian, antara lain karena para pemimpin dan pengikut gerakan ini dikeluarkan dari Gereja Katolik Roma.

Pertikaian dan perpecahan di antara Gereja Katolik Roma dan gereja-gereja yang para pengikutnya dikeluarkan dari Gereja Katolik Roma (kemudian lazim disebut gereja-gereja Protestan) tidak hanya terjadi di dalam gereja, melainkan juga di antara negara-negara penganutnya, seperti Inggris dan negara lainnya yang kemudian membentuk institusi baru. Dengan begitu terjadilah pemisahan antara Gereja Katolik dengan Kristen Protestan.

Gereja-gereja dengan institusi baru yang lahir dari reformasi ini sendiri masuk dalam aliran Kristen Protestan.

Dalam agama Kristen Protestan, banyak poin-poin yang berbeda pemahaman dalam alkitab dengan Gereja Katolik, namun bila ditelusuri lebih dalam inti yang ditujukan sebagai pengikut Kristus adalah sama.

Kini akibat perkembangan agama Kristen Protestan yang mulai meluas dan memiliki pengikut yang banyak, mereka mulai membentuk banyak denominasi.

Denominasi sendiri adalah mazhab dan gerakan keagamaan Kristen yang terbentuk dan menjadi organisasi yang memiliki gereja Kristus, hierarki kepemimpinan, keunikan tatanan peribadatan, dan adanya kerja sama untuk mencapai tujuan yang sama. Aliran, paham dan gerakan keagamaan Kristen dalam bingkai arus utama (mainstream) dinamakan denominasi.

Hasil penafsiran dan pemahaman terhadap dogma/doktrin dengan terus berkembang dalam wujud denominasi dan sekte. (Asry, 2013:50).

Menurut Simon & Schuster (1995) dikutip oleh Nababan (2021), denominasi berasal dari bahasa Latin “denominatus” yang diartikan secara spesifik pada sesuatu yang kemudian berkembang pengertiannya melalui kata Latin “denomination” yang artinya sebuah golongan keagamaan dengan nama khusus.

Di satu sisi Gereja Katolik tetap setia dan kukuh mempertahankan tradisi dan dogma, dengan ritus yang tidak berubah dari jaman ke jaman dan tetap berkiblat pada Vatikan sebagai pusat Gereja Katolik Roma.

Namun ternyata hal ini berbeda dengan apa yang ada di Kristen Protestan, mereka dikenal lebih dinamis akan perkembangan jaman, dengan tidak menutup kemungkinan membentuk institusi gereja baru meskipun tetap dalam lingkup ajaran Kristen Protestan.

Denominasi yang ada ini terutama di Indonesia mulai banyak menyebar ditiap daerah, bahkan tiap daerah memiliki gerejanya masing-masing, seperti Masyarakat Batak dengan gerejanya HKBP, lalu Masyarakat Toraja dengan gerejanya Gereja Toraja, ada pun Gereja Kristen Pasundan bagi masyarakat Jawa Barat, dan banyak lagi.

Denominasi ini bisa kita lihat sebagai perkembangan signifikan dalam ajaran Kristen Protestan.
Mereka fleksibel dan mengikuti perkembangan masyarakat yang ada, bahkan dapat disesuaikan dengan budaya dan asal daerah bagi mereka masyarakat yang masih memegang tradisi kuat di sukunya.

Masing-masing denominasi gereja tersebut hingga kini berkembang luas bahkan tak hanya ada di masing-masing daerah saja, tetapi di daerah lain, gereja tersebut juga terus berkembang pesat dan memiliki banyak pengikut.

KESIMPULAN

Kita bisa melihat bagaimana sejarah denominasi gereja sangat dipengaruhi oleh gerakan protestan atau reformasi gereja yang digagas oleh Martin Luther dengan pemikiran yang terpengaruhi oleh perkembangan masa renaissance.

Denominasi gereja ini sangat umum dan diperbolehkan dalam lingkup agama Kristen Protestan dan bukan hal yang baru lagi dimasa kini.

Perkembangannya bahkan membuat Kristen Protestan kini semakin menyesuaikan dengan tren anak muda saat ini.

Bagi pengikut Kristus, Kristen Protestan maupun Katolik Roma, semua memiliki sejarah masing-masing akibat terjadinya reformasi gereja tersebut.

Setiap aliran denominasi yang ada pun juga turut dipengaruhi oleh kejadian pada masa lampau tersebut, tak terkecuali semangat Martin Luther yang menjadi salah satu pelopor dan tokoh paling terkenal dalam masa reformasi yang ternyata secara tidak langsung terdorong juga dengan pemikiran-pemikiran yang berkembang di masa renaissance.

Bila kita tarik dari pangkalnya, kita bisa melihat bagaimana masa renaissance hingga kini pun masih sangat berpengaruh pada kehidupan manusia khususnya dalam hal keagamaan.

DAFTAR PUSTAKA

Aritonang, J.S. (2017). Dampak Reformasi Terhadap Perpecahan Gereja dan Maknanya bagi
Upaya Penyatuan Gereja. Jurnal Ledalero. Vol. 16, No. 2.
Asfar, I. T.(2019). Pendidikan Masa Renaissance: Pemikiran dan Pengaruh Keilmuan.
DOI:10.13140/RG.2.2.35844.37769.
Asry, Y.M. (2013). Aneh tapi Nyata: Satu Gereja Banyak Denominasi. Jurnal Multikultural &
Multireligius. Vol. 12.
Asya’ri H.(2018). Renaisans Eropa dan Transmisi Keilmuan Islam ke Eropa. JUSPI: Jurnal
Sejarah Peradaban Islam. Vol. 2 No. 1 Tahun 2018 ISSN 2580-8311.
Batlajery, A.M.L. (2021). Reformasi dan Keesaan Gereja: Makna Peristiwa 31 Oktober bagi
Gereja Protestan dan Katolik Masa Kini. Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol 7, No. 2, Oktober 2021 (352-363).
Hapsari, R. & Adil, M. (2016). Sejarah. Penerbit Erlangga.
Nababan, D. (2021). Hubungan Pemahaman Tentang Denominasi Gereja dengan Tingkat
Kerukunan Intern Mahasiswa. Jurnal Christian Humaniora. Vol. 5, No. 2, Nopember 2021, pp. 86 – 102.
Sunarto, & Sejati, I. R. H. (2021). Martin Luther dan Reformasi Musik Gereja. Tonika: Jurnal
Penelitian dan Pengkajian Seni, 4(1), 1-10.
Suwito, T. (2009). Sejarah : Sekolah Menengah Atas dan Madrasah Aliyah Program IPS. Jakarta:
Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

Catatan : Tulisan ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis

(Info: himpun.id menerima kontribusi tulisan dengan berbagai tema. Rubrik tulisan yang dapat di kirim yakni Opini, Resensi, Cerpen, Puisi, Tips, Edukasi, Khazanah, dan lain sebagainya, selagi bermanfaat)

 

 

 

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *