Example floating
Example floating
OPINI

Air Mata di Balik Gestur yang Viral, Cerita Dini yang Hilang di Tengah Penghakiman

0
×

Air Mata di Balik Gestur yang Viral, Cerita Dini yang Hilang di Tengah Penghakiman

Sebarkan artikel ini
Dheninda Chaerunnisa. (Foto: Tim DC)

HIMPUN.ID – Siapa yang menyangka, di usia yang masih muda, Dheninda Chaerunnisa (Dini), seorang wakil rakyat di Gorontalo Utara, harus menanggung beban seberat ini. Hanya karena sebuah potongan video singkat, sebuah gestur bibir yang ambigu, ia harus menerima badai caci maki dari seluruh negeri.

Di mata ribuan warganet, Dheninda Chaerunnisa kini adalah simbol dari arogansi kekuasaan, seorang politisi yang mengejek penderitaan rakyat.

Namun, adakah yang mau berhenti sejenak dan melihat air mata yang mungkin tumpah di balik citra viral itu? Adakah yang sudi mendengar cerita pilu tentang seorang ibu yang menangis memohon pinjaman lima juta rupiah agar anaknya bisa lulus PPPK?

Inilah awal dari segalanya. Bukan kebencian, melainkan kepedulian yang terluka.

Ketika Dheninda dengan lantang menyerukan, “Pendaftaran PPPK itu gratis! Jangan mau ditipu calo!” Dheninda Chaerunnisa tidak sedang mencari panggung.

Dheninda Chaerunnisa sedang menjaga marwah lembaga dan, yang lebih penting, melindungi mimpi ribuan keluarga miskin agar tidak dirampok oleh praktik culas.

Tidakkah kita sadar, seringkali orang yang paling berani berdiri melawan kegelapan adalah orang yang paling pertama diserang?

Upaya mulia untuk memberantas calo yang merajalela, praktik yang merusak integritas masa depan daerah, justru dibalas dengan gelombang fitnah.

Pernyataannya dipelintir, betapa pedihnya hati, ketika niat baik Dheninda Chaerunnisa untuk memberantas kejahatan, justru membuatnya dicap sebagai penjahat.

Momen tragis itu terjadi di depan kantor DPRD. Di tengah teriakan tuntutan yang memekakkan telinga, di tengah tekanan psikologis yang luar biasa, Dheninda mengakui ia sempat mengeluarkan ekspresi yang disalahartikan.

Bukan untuk mengejek massa, melainkan untuk memberikan respons kelelahan dan ketegaran kepada dua orang karyawannya yang memberinya kode dukungan.

“Seakan-akan saya bilang, ‘tenang, aku hadapi ini’,” ucapnya, mencoba menjelaskan beban emosional yang ia pikul saat itu.

Namun, di era kecepatan digital, kebenaran tidak lagi penting. Konteks telah mati.

Publik hanya butuh drama, dan gestur itu memberikannya drama yang sempurna.

Dheninda pun terperangkap dalam penjara ekspresinya sendiri. Satu gerakan bibir telah mengubur semua perjuangan dan integritas yang ia bangun.

Lihatlah, bagaimana kini Dheninda Chaerunnisa harus berulang kali meminta maaf, bukan karena ia benar-benar mencibir, tetapi karena ia terpaksa menenangkan badai yang diciptakan oleh kesalahpahaman.

Dheninda Chaerunnisa harus meminta maaf atas ekspresi pribadinya demi menyelamatkan reputasi dirinya dan lembaganya.

Dheninda Chaerunnisa mungkin membuat kesalahan etika kecil dalam berekspresi, namun publik melakukan kesalahan moral yang jauh lebih besar: menghakimi niatnya dan mengabaikan perjuangannya.

Marilah kita lebih berempati. Di balik setiap layar kaca, ada hati manusia yang hancur karena difitnah. Jangan biarkan gestur sesaat menghapus upaya tulusnya melawan kejahatan yang nyata.

Penulis: Alfian Kasim

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *