HIMPUN.ID – Pemimpin seyogianya mengayomi dan memberi suasana nyaman bagi rakyat yang dipimpinnya. Inilah penggalan kalimat kesimpulan di dalam hatiku ketika aku terjaga dari mimpiku semalam. Semalam aku bermimpi memarahi mahasiswa yang sedikit berbuat salah, tetapi di sisi lain aku berbaik hati kepada mahasiswa lain yang juga berbuat salah tetapi aku menahan marah kepadanya. Ini adalah mahasiswa yang aku senang ketika bertemu dengannya, sementara yang aku marahi adalah mahasiswa yang kadang membuat aku sedikit jengkel. Hanya ia seorang yang kadang membuatku jengkel dari sekian banyak mahasiswa yang sangat aku senangi. Kok bisa ya, saya bermimpi begitu? Hehehe.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Ahmad Fauzi (2023) dengan judul “Dinamika Relasi Dosen-Mahasiswa: Studi Kasus Ketidaksopanan di Perguruan Tinggi Negeri”, menunjukkan bahwa penelitiannya fokus pada aspek dampak psikologis. Hasil penelitiannya memaparkan bahwa sikap meremehkan penjelasan dosen dan membuat kelompok diskusi kecil saat dosen menerangkan menjadi perilaku yang paling mengganggu dalam proses belajar-mengajar. Ahmad Fauzi menyimpulkan bahwa meskipun mayoritas mahasiswa tetap menjaga norma, terdapat kelompok kecil yang memiliki kecenderungan melakukan tindakan konfrontatif seperti mendebat nilai dengan nada tinggi, yang secara langsung memengaruhi kenyamanan kerja para tenaga pendidik di lingkungan kampus.
Seyogianya praktik di dalam kampus di mana dosen sebagai guru dan mahasiswa sebagai murid, mestinya murid lebih menghargai guru, bukan sebaliknya guru berusaha memahami sikap dan perilaku murid. Karena restu guru merupakan salah satu berkah yang mesti kita raih dalam menuntut ilmu. Sebagaimana sabda Nabi dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabrani, dari Abu Hurairah, Nabi bersabda: “Belajarlah kalian ilmu, dan belajarlah untuk ilmu tersebut ketenangan dan kewibawaan, serta rendah hatilah kalian kepada orang yang kalian pelajari ilmunya (guru).”
Tetapi saya sebaliknya, tidak ingin jauh membahas itu. Saya ingin kembali ke peristiwa di dalam mimpi saya tadi, bahwa seharusnya saya sebagai pemimpin dari mahasiswa itu mengayomi. Olehnya, justru sebaliknya barangkali dosen sebagai pemimpin mesti sabar dan selalu memberi nasihat kepada mahasiswa dengan kelembutan tanpa memilah dan memilih, baik mahasiswa yang tidak ia sukai maupun yang ia sukai. Demikianlah seorang pemimpin di suatu masyarakat, tidak boleh ia memihak kelompok yang lain dan lebih memilih kelompoknya untuk dibelanya dalam berbagai hal. Hal ini justru menjadi negasi dalam narasi sebelumnya. Sebagaimana pepatah mengatakan: “Menimbang sama berat, mengukur sama panjang.” Ungkapan ini berarti bahwa pemimpin harus berlaku objektif. Jika dalam satu timbangan ada keluarga dan di sisi lain ada orang asing, berat hukuman atau penghargaan harus tetap didasarkan pada kebenaran, bukan kedekatan. Jika seorang pemimpin lalai dari keadilan, maka rakyatlah yang akan menjadi korban.
Mahasiswa dan dosen sebagai guru dan murid tentu berbeda dengan pemimpin dan masyarakat. Guru mesti dihargai, sementara pemimpin harus melayani. Bukan sebaliknya, pemimpin minta dilayani. Marilah sebagai insan yang tak luput dari salah, sudah seharusnya kita lebih mengedepankan adab daripada ilmu. Jika hanya berilmu, maka Iblis tiada tandingannya, tetapi karena keangkuhannya ia terbuang dari keridaan Tuhan dan kekal di dalam neraka. Lagian, ilmu di dunia hanya setitik dari samudra lautan dibanding ilmu Tuhan, Allah Subhanahu Wata’ala. Tak ada yang perlu disombongkan, semua akan ditinggalkan termasuk jabatan. Firman Allah: “Walaa tamsyi fil ardhi marahan” (Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong. — QS. Al-Isra: 37).(Rls)
Penulis: Ulan Bidi, Peserta Advance Training LK-III HMI Badko-Sulutgo














