Example floating
Example floating
DAERAHGorontalo

IPARI Sukses Meriahkan Lomba Islami, Misnawaty Harap Inovasi Terus Lahir demi Kaum Rentan

0
×

IPARI Sukses Meriahkan Lomba Islami, Misnawaty Harap Inovasi Terus Lahir demi Kaum Rentan

Sebarkan artikel ini
Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Gorontalo, Misnawaty S. Nuna saat memberikan sambutan pada kegiatan lomba bernuansa Islami dalam rangka perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah, di sekretariat Yayasan Putra Mandiri, Senin 8 September 2025. (Foto: MSN/Edit:himpun.id)

HIMPUN.ID – Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Kota Gorontalo menggelar serangkaian lomba bernuansa Islami dalam rangka perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah, di sekretariat Yayasan Putra Mandiri, Senin 8 September 2025.

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, mulai tanggal 4 hingga 10 September ini melibatkan lansia, penyandang disabilitas, serta majelis taklim se-Provinsi Gorontalo.

Acara dibuka secara resmi oleh Wakil Gubernur Gorontalo, Idah Syahidah yang turut memberikan sambutan dan apresiasi atas semangat dakwah inklusif yang diusung IPARI.

Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Gorontalo, Misnawaty S. Nuna, menjelaskan, acara ini merupakan inisiasi IPARI sebagai bagian dari evaluasi program-program penyuluhan agama.

“Kegiatan ini bertujuan untuk mengevaluasi sejauh mana peran dan program kerja penyuluh agama berpengaruh kepada mereka (lansia dan disabilitas),” terang Misnawaty.

Menurut Misnawaty, Kemenag Kota Gorontalo telah menjalin kerja sama dengan Yayasan Putra Mandiri sejak tahun 2023, sebuah yayasan yang membina warga disabilitas dan lansia. Dari kerja sama ini, lahirlah dua inovasi layanan, yaitu Posabari dan Pujarasa.

Program Unggulan Posabari dan Pujarasa

Posabari, yang merupakan akronim dari Program Sadar Belajar Agama dengan Sabar dan Ikhlas, diambil dari bahasa Gorontalo yang berarti sabar.

Program ini merupakan gerakan para penyuluh agama, baik muslim maupun non-muslim, yang memberikan penyuluhan di berbagai tempat, termasuk lapas, Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA), serta Yayasan Putra Mandiri yang menaungi lansia dan disabilitas.

Misnawaty menjelaskan, Posabari ditujukan untuk mereka yang memiliki keterbatasan, baik fisik maupun gerakan.

“Ini adalah orang-orang yang dalam keterbatasan. Di lapas terbatas gerakannya, lansia juga sama karena fisik, apalagi warga disabilitas, mereka lebih-lebih lagi penuh dengan keterbatasan,” jelasnya.

Selain Posabari, ada juga inovasi layanan lain bernama Pujarasa, yang merupakan pengembangan dari Posabari.

Pujarasa, atau Pusat Jajan Warga Disabilitas adalah sebuah minimarket yang bertujuan memberikan intervensi ekonomi kepada 20 penyandang disabilitas miskin di Kota Gorontalo.

Minimarket ini mendapat dukungan dari Baznas Pusat dengan program Z-Market, serta Baznas Provinsi dan Kota Gorontalo yang membantu pengadaan barang.

“Tujuan utamanya, mereka ini tidak hanya mendapatkan bantuan konsumtif, tetapi mereka akan ada penghasilan secara berkesinambungan,” kata Misnawaty.

Misnawaty mengatakan, ada 3.000 lebih warga disabilitas tercatat di Dinas Sosial Kota Gorontalo, 500 orang di antaranya sangat miskin.

“20 orang dari 500 orang tersebut yang sekarang sedang kami intervensi dengan program inovasi Pujarasa,” ungkap Misnawaty.

Rangkaian Lomba dan Dukungan Berbagai Pihak

Rangkaian lomba yang digelar dalam acara Maulid Nabi ini mencakup berbagai kegiatan yang disesuaikan untuk peserta lansia, seperti MTQ Lansia, lomba ngadi wununungo, lomba qasidah, lomba Ranking Satu Islami (sambung ayat), lomba busana muslim, dan lomba vokal.

Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari berbagai pihak, termasuk BKKBN Provinsi Gorontalo dan Pemerintah Provinsi Gorontalo, yang dihadiri langsung oleh Wakil Gubernur.

Harapan untuk Masa Depan

Misnawaty berharap, para penyuluh agama dapat terus memelihara program yang sudah ada dan menciptakan inovasi-inovasi baru yang bermanfaat bagi lansia dan disabilitas.

Misnawaty mencontohkan seorang penyuluh yang mendapatkan penghargaan dari Menteri Agama karena berhasil menemukan cara cepat membaca Al-Quran khusus untuk tuna netra.

“Saya berharap besok-besok ada lagi inovasi baru yang mereka ciptakan agar mereka, para rentan ini tidak termarginalkan. Dan kalau para lansia masih merasa berguna di umur-umur tua, mereka bisa bahagia, dan juga mereka bisa belajar agama dengan baik,” tutupnya.

Dalam kesempatan tersebut, tiga penyuluh agama turut diperkenalkan karena berhasil meraih prestasi nasional. Mereka adalah Riska (Terbaik I Nasional kategori kelompok rentan), Jazimin (peringkat ke-6), dan Yusnawaty (peringkat ke-9).*

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *