Example floating
Example floating
KHAZANAH

Mutiara Ramadhan: Internalisasi Nilai-Nilai Al-Qur’an di Era Modern, Transformasi Spiritual di Tengah Disrupsi Global

0
×

Mutiara Ramadhan: Internalisasi Nilai-Nilai Al-Qur’an di Era Modern, Transformasi Spiritual di Tengah Disrupsi Global

Sebarkan artikel ini
(Foto:DP/Ilustrasi)

Oleh: Misnawaty S. Nuna

HIMPUN.ID Kehidupan modern ditandai dengan kemajuan teknologi informasi dan materialisme yang sangat pesat.

Namun, di balik kemudahan tersebut, manusia modern sering kali mengalami “kekeringan spiritual” dan krisis etika.

Konflik kemanusiaan dan peperangan yang terjadi belakangan ini, menjadi cermin retak bahwa kecanggihan teknologi militer tanpa kendali nilai moral hanya akan berujung pada kehancuran.

Internalisasi nilai Al-Qur’an tidak hanya sebatas menghafal teks, tetapi sebuah proses memasukkan pesan-pesan langit ke dalam kesadaran berpikir dan bertindak.

Al-Qur’an hadir sebagai Hudan (petunjuk) yang melampaui sekat zaman.

Dalam perspektif ilmiah sosial, konflik sering terjadi karena hilangnya objektivitas dan rasa adil.

Al-Qur’an memberikan standar etika tertinggi dalam memandang sesama manusia, terutama dalam situasi konflik.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Ma’idah: 8:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ

Yā ayyuhallażīna āmanū kūnū qawwāmīna lillāhi syuhadā’a bil-qisṭi wa lā yajrimannakum syana’ānu qaumin ‘alā allā ta’dilū, i’dilū huwa aqrabu lit-taqwā.

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa.”

Ayat ini mengajarkan profesionalisme moral. Dalam kehidupan modern, kita diajak untuk tidak memihak pada kezaliman meskipun terhadap pihak yang tidak kita sukai. Internalisasi nilai ini sangat relevan untuk menyikapi standar ganda dunia internasional terhadap perang yang terjadi saat ini.

Dunia modern kini didominasi oleh media sosial yang sering kali menjadi ladang penyebaran hoaks dan narasi kebencian (hate speech).

Al-Qur’an mengajarkan prinsip Tabayyun (verifikasi) dan penggunaan kata yang benar (Qaulun Sadidan).

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat: 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Yā ayyuhallażīna āmanū in jā’akum fāsiqum binaba’in fa tabayyanū an tuṣībū qaumam bijahālatin fa tuṣbiḥū ‘alā mā fa’altum nādimīn.

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”

Dalam konteks perang modern, informasi sering digunakan sebagai senjata propaganda.

Internalisasi ayat ini, membentuk pribadi yang kritis, tidak mudah terprovokasi, dan selalu mencari kebenaran sebelum bereaksi.

Kehidupan modern yang penuh tekanan (stres) membutuhkan daya tahan mental yang kuat.

Al-Qur’an menawarkan konsep sabar dan optimisme. Perang dan musibah global adalah ujian untuk melihat sejauh mana kualitas kemanusiaan kita.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 155:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Wa lanabluwannakum bisyai’im minal-khaufi wal-jū’i wa naqṣim minal-amwāli wal-anfusi waṡ-ṡamarāt, wa basysyiriṣ-ṣhābirīn.

Artinya: “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”

Nilai sabar dalam Al-Qur’an adalah keteguhan hati untuk tetap melakukan kebaikan di tengah situasi sulit. Di tengah ketidakpastian global akibat perang, nilai ini menjadi pondasi agar manusia tidak kehilangan harapan.

Internalisasi nilai Al-Qur’an dalam kehidupan modern adalah solusi atas krisis kemanusiaan yang sedang terjadi.

Al-Qur’an memanusiakan manusia di saat sistem dunia cenderung mendewakan materi.

Dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai referensi berpikir, kita dapat menjadi pribadi yang moderat, adil, dan peduli terhadap sesama.

Peperangan yang kita saksikan hari ini seharusnya semakin menguatkan komitmen kita untuk kembali kepada nilai-nilai universal Al-Qur’an: bahwa setiap nyawa berharga dan perdamaian adalah cita-cita tertinggi agama.

Wallahu a’lam bish shawwab

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *