Oleh: Kang Thohir
HIMPUN.ID – Ada bermacam-macam dakwah di era zaman sekarang, yaitu berdakwah lewat lisan, tulisan, musik, syair, seni seperti pertunjukan wayang, pentas, seni peran, perfilman, dsb. Untuk di zaman sekarang orang berdakwah lewat digital atau media sosial, seperti Facebook, Twitter, Instragram, YouTube, Website, Tiktok, dsb. Zaman semakin canggih dan jangkauan pun semakin luas dan tulisan dakwah bertebaran di mana-mana. Akan tetapi, zaman sekarang paling efektif adalah harus bijak dalam berdakwah dengan rujukan dan sanad yang shahih, agar nantinya tidak keliru dalam konteks dakwahnya yang akan disampaikan di khalayak umum atau publik.
Kita tidak dapat dipungkiri maraknya media sosial, sehingga orang-orang berbondong-bondong menyalurkan dakwah lewat media sosial itu. Ada yang memberikan kata mutiara, motivasi, cerita islami, cerita inspirasi, dan bahkan sekadar foto-foto yang diberi caption kata-kata mutiara dakwah yang indah. Semua orang boleh berkata apa saja di media sosial dengan bebas, dan bahkan siapa saja bisa berdakwah tanpa memandang ras, statusnya, pekerjaannya dan pendidikannya. Memang kita perlu memilih ilmu yang jelas didapatkannya, karena siapa saja bisa berdakwah dan mengambil ilmunya secara langsung. Akan tetapi, kalau sekadar pengingat, motivasi, inspirasi, dan mengajak kebajikan atau kebaikan, ya apa salahnya dong kita ambil pelajarannya dan hikmahnya. Sah-sah saja, asal tak merusak moral dan menyeleweng dari ketentuan ajaran agama.
Dakwah yang paling terkenang dan terkesan adalah berdakwah dengan lewat tulisan dan lisan. Dua-duanya, mempunyai efektif dan nyata, dengan berdakwah lewat tulisan memberi kesan abadi hingga akhir hayat nanti akan terus dikenang sepanjang masa. Sedangkan dakwah lisan akan memberi bukti kehidupan yang paling hidup berinteraksi dengan masyarakat dan umat, agar berhadapan langsung sebagai wujud nyata di kehidupan masyarakat, dan ilmu yang disampaikannya lebih bermanfaat.
Memang zaman dulu sudah dicontohkan oleh para Walisongo, sehingga kita sebagai penerusnya mengikuti jejak para pendahulu kita. Dengan demikian kita akan mendapatkan keberkahan atas apa yang kita sampaikan dan kita amalkan. Bahwa berdakwah dengan niat yang tulus akan bertambah berkah dan mendapatkan pahala yang berkali-kali lipat. Maka teruslah berdakwah, meski banyak medan badai melanda, dan banyaknya permasalahan di dunia pada kehidupan nyata. Tetap terus semangat berbuat kebaikan untuk dunia dan akhirat. Menjadikan insan yang mulia, berakhlakul karimah dan bertaqwa. Tetaplah terus semangat!
Brebes, 24 Maret 2025
Bionarasi :
Muhammad Thohir/Tahir (Mas Tair) yang dikenal dengan nama pena Kang Thohir, kelahiran Brebes, Jawa Tengah. Dari dusun/desa Kupu, kecamatan Wanasari. Dari anak seorang petani dan tinggal dari kehidupan sehari-hari bertani, berkebun, menanam bawang merah, padi, kacang, pare, cabai dan sayur-sayuran di ladang sawahnya. Kini, aku sedang menggeluti dunia tulis menulis atau literasi, khususnya sastra Indonesia. Suka menulis sejak duduk di bangku kelas empat SD dan sampai masuk ke Pondok Pesantren. Aku masih tetap aktif menulis dan semakin semangat ‘tuk menulis baik puisi maupun cerpen dan lain sebagainya yang aku tulis. Selain menulis aku juga suka membaca buku agar bisa bermanfaat untuk menambah wawasan (pengetahuan).














