Example floating
Example floating
KHAZANAH

Ribut Soal Dukun?, Ini Penjelasan di dalam Al Quran terkait Dukun Dijelaskan Ustadz Adi Hidayat

0
×

Ribut Soal Dukun?, Ini Penjelasan di dalam Al Quran terkait Dukun Dijelaskan Ustadz Adi Hidayat

Sebarkan artikel ini
Ribut Soal Dukun?, Ini Penjelasan di dalam Al Quran terkait Dukun Dijelaskan Ustadz Adi Hidayat (Foto: tangkap layar YouTube/Adi Hidayat Official)

HIMPUN.ID – Akhir-akhir ini, media sosial banyak dihebohkan dengan dukun.

Hebohnya, soal dukun ini telah rampai beredar ‘deras’ di media sosial.

Tak sedikit warganet ikut terbawa arus menyimak soal dukun yang beredar di media sosial.

Lantas, soal dukun ini, bagaimana posisinya sesuai penjelasan di dalam Al Quran?

Untuk menjawab soal dukun ini, berikut penjelasan Ustadz Adi Hidayat, dikutip dari video yang diunggah di kanal YouTube Adi Hidayat Official, pada 16 Agustus 2022.

Penjelasan Ustadz Adi Hidayat

Dijelaskan Ustadz Adi Hidayat, zaman nabi, nabi dituduh dukun.

“Sekarang dukunnya pakai Quran,” buka Ustadz Adi Hidayat dalam penjelasan awal.

Diterangkan Ustadz Adi Hidayat, hukum berkonsultasi meminta sesuatu, membenarkan dunia perdukunan, atau apa yang dikatakan dukun sendiri, itu ancamannya tinggi dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam.

“berbahaya itu,” kata Ustadz Adi Hidayat.

“Jadi ada salah satu hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau menyampaikan, Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda,

“…,’Siapa yang datang kata Nabi shallallahu alaihi wasallam, kepada arrafan, arrafan itu orang sebut sekarang orang pintar, paranormalah, macem-macemlah selalu dibahasakan yang bagus-bagus, padahal juga jadi masalah’.”

Kenapa disebut orang pintar, karena orang yang datang bodoh, tapi intinya begitulah, penerawang dan sebagainya.

Kemudian yang kedua sihir magic dan sebagainya memang ditujukan untuk sihir santet dan semisalnya,

Lalu yang ketiga dukun, jadi ada satu kayak paranormal mungkin kekinian bahasanya, kemudian yang kedua tukang sihir, yang ketiga adalah dukun.

“…,’lalu minta sesuatu, konsultasi kah, minta untuk jasa tertentu kah, penerawangan, minta jimat, minta ini minta itu, atau minta jasa untuk menyakiti seseorang dengan sihir, minta jimat pada dukun tertentu, misalnya dengan sesuatu’.”

Kemudian ini yang jadi persoalan, “…,’kemudian dia membenarkan meyakini apa yang disampaikan oleh dukun itu, atau tukang sihir itu, atau paranormal itu,

Apa kata Nabi shallallahu alaihi wasallam, nah ini paling berbahaya, itu diancam langsung dengan kalimat Nabi “…,’maka pada saat orang itu datang ke dukun, ke tukang sihir, ke paranormal, dan membenarkan apa yang disampaikan oleh orang-orang itu, maka dia telah mengingkari, telah kufur terhadap segala apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam’.”

Jalannya Harus Tobat

Dikatakan Ustadz Adi Hidayat, kata Nabi sendiri itu telah kufur dengan syariat nabi.

“karena itu anjurannya adalah segera bertobat, jangan sampai melibatkan diri pada yang seperti itu, karena itu termasuk satu di antara tujuh dosa besar yang berpeluang mendapatkan murka Allah dan juga bisa menggugurkan nanti nilai-nilai ketaatan kalau dia muslim,” kata Ustadz Adi Hidayat.

“Selama ini dia misalnya berusaha untuk membangun diri, dia salat misalnya, atau bahkan Haji, atau umrah, tapi dia datang ke dukun, datang ke tukang sihir, datang ke paranormal, arahnya berbuat syirik, masuk bagian dari sirih nanti itu, karena mempercayai sesuatu yang Allah larang, dan menduakan sesuatu yang telah Allah kemudian tegaskan, tidak ada itu semua. Jadi sesuatu yang sangat berbahaya,” terang Ustadz Adi Hidayat.

Diterangkan Ustadz Adi Hidayat, di surah Annisa di ayat 48, misalnya tegas telah Allah menyampaikan,

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۚ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدِ افْتَرٰٓى اِثْمًا عَظِيْمًا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisa’ Ayat 48).

“Sungguh kata Allah, Allah tidak akan berkenan mengampuni dosa syirik, kalau dia bawa sampai mati, kalau sampai wafat dia bahwa dosa itu, kecuali kalau sebelum datang ajalnya dia tobat, mohon ampun kepada Allah, diperbaiki dirinya, menjauhi syirik, taubatan nasuha, maka berpeluang mendapat ampunan Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” ungkap Ustadz Adi Hidayat.

Tapi kata Ustadz Adi Hidayat, kalau dia pertahankan, sampai dengan dia wafat, sampai kembali kepada Allah,

“maka amal apapun yang dia kerjakan, terhapus semuanya, dan itu sangat berbahaya ancamannya, itu bagi yang berbuat konsultasi dengan membenarkan, percaya dengan itu semua,” terang Ustadz Adi Hidayat.

Bahaya Menjadi Pelaku Dukun

“Sekarang kalau jadi pelakunya, itu jadi lebih berbahaya lagi, bila dia mengaku muslim,” terang Ustadz Adi Hidayat.

Ditegaskan Ustadz Adi Hidayat, di tuntunan keislaman itu tidak boleh menjadi dukun, jikalau ada orang Islam menganggap bahwa dukun bagian dari profesi, itu dosanya besar.

“Apalagi kalau jadi dukun,” jelas Ustadz Adi Hidayat.

Nabi Pernah Dituduh Dukun

Dikisahkan Ustadz Adi Hidayat, dulu Nabi Muhammad SAW saat diturunkan Al Quran kepada beliau sebagai pedoman berkehidupan, ada yang menduga sebagian dari masyarakat disekitaran Makkah yang ingkar pada masa itu, menduga, bahkan menuduh Nabi Muhammad itu dukun.

“dituduh penyihir, dituduh penyair, dituduh gila, dituduh lagi dukun. Jadi ayat-ayat Quran tuh diposisikan sebagai jimatnya,”

“makanya turun beberapa ayat yang paling pokok tuh dua ayat, yang langsung diturunkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, sebagai pembelaan bagi Rasulullah sekaligus menepis semua tuduhan tuduhan tuh,” kata Ustadz Adi Hidayat.

Diterangkan Ustadz Adi Hidayat, Allah telah membebaskan Nabi Muhammad SAW dari tuduhan-tuduhan perdukunan dengan ayat-ayat Quran.

“Lalu kalau datang orang membawa ayat Quran dan itu dukun, itu dosanya besar sekali,” ungkap Ustadz Adi Hidayat.

“Nabi Muhammad dituduh dukun, Qurannya sebagai jimat, dibebaskan oleh Allah tuduhan itu, lantas orang belakangan, mengaku dukun, membawa ayat Quran sebagai jimat, itu dosanya besar,” tegas Ustadz Adi Hidayat.

Baca juga:Bukti Al Quran Firman Allah, Ini Penjelasan Ustadz Adi Hidayat

Dijelaskan Ustadz Adi Hidayat, kata Allah Quran itu bukan jimatnya para dukun, Quran bukan perkataan dukun, apalagi digunakan misalnya untuk magic tertentu,

“atau ini dan itu dan sebagainya, yang dipahami sebagai bagian dari perdukunan, itu nggak boleh,” papar Ustadz Adi Hidayat.

Ustadz Adi Hidayat menuturkan, orang-orang yang berpraktek seperti itu kata Quran, itu enggak pernah zikir.

“orang-orang munafik itu sedikit dzikirnya,” jelas Ustadz Adi Hidayat.

اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ يُخٰدِعُوْنَ اللّٰهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْۚ وَاِذَا قَامُوْٓا اِلَى الصَّلٰوةِ قَامُوْا كُسَالٰىۙ يُرَاۤءُوْنَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ اِلَّا قَلِيْلًاۖ

“Sesungguhnya orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah-lah yang menipu mereka. Apabila mereka berdiri untuk salat, mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud ria (ingin dipuji) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisa’ Ayat 142)

“Para dukun itu disebut Al Quran “…,’ hampir gak pernah dzikir,” ungkap Ustadz Adi Hidayat.

“jadi para dukun tuh pasti kalau dia mengaku muslim pun, bahwa ayat Quran dia sendiri belum tentu bisa baca itu.”

“ngajinya masih berantakan tuh, salatnya pasti nggak bener tuh, itu bahasa Quran,” papar Ustadz Adi Hidayat.

Selanjutnya, Ustadz Adi Hidayat menjelaskan terkait dengan QS. At-Tur Ayat 29.

فَذَكِّرْ فَمَآ اَنْتَ بِنِعْمَتِ رَبِّكَ بِكَاهِنٍ وَّلَا مَجْنُوْنٍۗ

“Maka peringatkanlah, karena dengan nikmat Tuhanmu engkau (Muhammad) bukanlah seorang tukang tenung dan bukan pula orang gila. (QS. At-Tur Ayat 29).

“Ingatkan, pahamkan orang, ingatkan orang-orang itu, ajak pada kebaikan, doakan, sampaikan kelembutan, dakwahi,”

“jadi artinya hal-hal yang berdekatan dengan dukunnisme, paranormalisme, sihirme dan sebagainya itu menjauhkan seseorang dari nikmat Allah Subhanahu wa ta’ala, dan kenikmatan terbesar itu ketika seorang hamba tersambung dengan Allah lewat dzikir,” jelas Ustadz Adi Hidayat.

“Jadi yang begitu (dukun_red), satu diabaikan, sekalipun seseorang dia mengenakan misalnya perangkat-perangkat keagamaan keislaman dan sebagainya, tetapi membawa risalah-risalah informasi ajaran-ajaran yang bertentangan dengan nilai keislaman, jauhi,” tegas Ustadz Adi Hidayat.

Terkahir, dalam penyampaiannya, Ustadz Adi Hidayat mengajak untuk saling mendoakan.

“yang kedua, doakan karena dia pun selama hidup masih punya hak untuk menjadi saleh, kita bantu, sehingga itu membawa perubahan pada dirinya, dan mendorong orang-orang yang menganggap itu profesi dari teman-temannya untuk bertobat, kembali pada jalan kebaikan,” tutup Ustadz Adi Hidayat. (HP1)

 

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *