Oleh: Kabid PTKP Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Gorontalo, Syawal Hamjati
HIMPUN.ID – Persoalan sampah di Kota Gorontalo hari ini tidak lagi bisa ditutup dengan narasi pembelaan atau klarifikasi administratif.
Fakta di lapangan terlalu nyata untuk dibantah. Tim Investigator PTKP HMI Cabang Gorontalo menemukan secara langsung bahwa di berbagai kelurahan, sampah dibiarkan menumpuk selama berhari-hari sebelum diangkut.
Bau menyengat bukan lagi keluhan sesekali, tetapi menjadi bagian dari keseharian warga. Lingkungan terlihat kumuh, jalanan tercemar, dan potensi gangguan kesehatan semakin nyata. Ini bukan asumsi, ini realitas yang kami dokumentasikan dan kami dengar langsung dari masyarakat.
Kami menegaskan bahwa data tidak bisa dilawan dengan opini, dan fakta tidak bisa dipatahkan hanya dengan mengkritik balik atau melakukan klarifikasi di ruang publik.
Ketika sampah tetap menumpuk, ketika pengangkutan terlambat, ketika masyarakat terus mengeluh, maka semua bentuk pembelaan menjadi kehilangan makna. Yang dibutuhkan bukan retorika tentang prosedur, tetapi hasil konkret yang bisa dilihat dan dirasakan.
Lebih jauh, kami menerima informasi bahwa beberapa kelurahan diwajibkan mengalokasikan sekitar 70 persen anggaran untuk pengelolaan sampah. Jika angka ini benar, maka kegagalan yang terlihat hari ini menjadi semakin serius.
Bagaimana mungkin alokasi anggaran sebesar itu tidak berbanding lurus dengan perubahan di lapangan?, mengapa frekuensi pengangkutan tidak meningkat signifikan? Mengapa TPS tetap penuh dan meluber?, mengapa masyarakat masih harus hidup berdampingan dengan bau yang menyengat setiap hari?.
Ini bukan lagi soal teknis semata, tetapi soal tata kelola. Jika anggaran sudah difokuskan namun sistem tetap tidak efektif, maka yang bermasalah adalah manajemen, koordinasi, dan pengawasan.
Pemerintah kota dan dinas teknis tidak boleh menjadikan kritik sebagai ancaman, apalagi membalasnya dengan serangan balik atau pembenaran normatif. Kritik adalah cermin. Dan hari ini, cermin itu memantulkan persoalan serius yang belum diselesaikan.
Kami melihat adanya ketidaktegasan dalam memastikan ritase armada berjalan optimal, kurangnya transparansi data pengangkutan, serta lemahnya respons cepat ketika terjadi penumpukan di titik-titik padat.
Masyarakat sudah menjalankan kewajiban mereka, membayar retribusi dan mengikuti aturan. Namun pelayanan tidak menunjukkan peningkatan yang signifikan. Ketika keluhan terus muncul dan kondisi tak berubah, maka wajar jika publik mempertanyakan efektivitas kebijakan.
PTKP HMI Cabang Gorontalo melalui saya, Syawal Hamjati, menegaskan, persoalan ini tidak bisa lagi diperdebatkan di ruang narasi.
Fakta lapangan tidak membutuhkan klarifikasi, ia membutuhkan tindakan. Pemerintah harus berani membuka data secara transparan, mengevaluasi total sistem pengangkutan, dan menghadirkan langkah konkret yang terukur. Jika tidak, maka pembelaan hanya akan terdengar seperti upaya menyelamatkan citra, bukan menyelesaikan masalah.
Sampah yang menumpuk adalah simbol kegagalan membaca realitas. Dan kami tidak akan berhenti menyuarakan ini. Karena bagi kami, membela masyarakat jauh lebih penting daripada membela argumentasi.
Kota ini tidak membutuhkan pemimpin yang lihai berkelit, tetapi pemerintahan yang bekerja. Jika kerja nyata tidak segera ditunjukkan, maka polemik ini akan terus berulang, dan sampah akan tetap menjadi wajah buram tata kelola Kota Gorontalo.
Tuan Jubir, berhentilah menata kata di media, mulailah menata sampah di lapangan; karena bau busuk di hidung rakyat tidak akan hilang hanya dengan klarifikasi yang wangi.
Catatan Redaksi: Redaksi menerima tulisan opini ini sebagai bagian dari ruang publik dan kontrol sosial. Seluruh isi, data, dan opini yang terkandung dalam artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi HIMPUN.ID senantiasa menjunjung tinggi UU Pers No. 40 Tahun 1999 dan Kode Etik Jurnalistik, serta memberikan ruang Hak Jawab maupun Hak Koreksi bagi pihak yang merasa keberatan dengan isi tulisan ini.















Mantap