HIMPUN.ID – Belum lama ini, Wali Kota Gorontalo, Adhan Dambea, secara tegas melarang waria tampil di kegiatan publik termasuk dalam perayaan Hari Kemerdekaan 17 Agustus 2025.
Pernyataan ini mendapat dukungan penuh dari Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Gorontalo, Totok Bachtiar, yang menilai tindakan tersebut sebagai langkah untuk menjaga adat istiadat dan nilai-nilai agama di Gorontalo.
Totok Bachtiar menyatakan dukungannya.
“Saya selaku anggota DPRD Kota Gorontalo, saya mendukung apa yang menjadi pernyataan dari Wali Kota bahwa melarang waria untuk tampil dalam kegiatan 17 Agustus,” ucap Totok saat diwawancarai di Aula I, Senin 4 Agustus 2025.
Totok menjelaskan, larangan ini juga sejalan dengan ajaran agama.
“Memang di dalam agama juga dilarang, sudah jelas. Contohnya kaum sodom di zaman Nabi Luth,” tambahnya.
Totok Bachtiar tidak hanya sekadar mendukung, tetapi juga mendesak Wali Kota Gorontalo untuk bertindak tegas.
Totok meminta agar larangan ini disosialisasikan hingga ke tingkat kelurahan, Rukun Tetangga (RT), dan Rukun Warga (RW).
“Kalau misalnya pemerintah membolehkan, ini kan sangat naif. Sehingga saya justru meminta kepada pemerintah untuk tegas sampai ke lurah-lurah, ke tingkat RT/RW untuk melarang,” pinta Totok.
Totok bahkan mengusulkan agar lurah yang membiarkan waria tampil di acara 17 Agustus dicopot dari jabatannya.
Selain melarang waria, Totok juga menyarankan agar kebijakan ini diperluas untuk melarang laki-laki mengenakan pakaian wanita, seperti daster, meskipun tujuannya hanya untuk memeriahkan acara.
“Dilarang juga laki-laki menggunakan daster. Harus pakai pakaian yang sesuai kodratnya. Jangan laki-laki pakai daster atau sebaliknya,” tegasnya.
Totok Bachtiar menekankan pentingnya menjaga falsafah Gorontalo, yaitu “Adat Bersendikan Syara’ dan Syara’ bersendikan Kitabullah”.
Totok mengingatkan, Kota Gorontalo sedang dicanangkan sebagai Kota Religi, sehingga kebijakan ini dianggap relevan untuk memperkuat identitas kota tersebut.
“Harus menjaga falsafah Gorontalo. ‘Adat bersendikan syara’ dan syara’ bersendikan Kitabullah’. Kita ini menuju kota yang religi,” pungkas Totok.(Adv)
Reporter: Fadli Sukriani Melu














