Example floating
Example floating
PuisiSASTRA

6 Puisi Terbaru Heri Isnaini, Nomor 2 ‘Hari Terakhir Bersamamu’

0
×

6 Puisi Terbaru Heri Isnaini, Nomor 2 ‘Hari Terakhir Bersamamu’

Sebarkan artikel ini
6 Puisi Terbaru Heri Isnaini (Foto ilustrasi AI)

Batu Nilam Berwarna Jingga

Kau menemukanku, batu nilam berwarna jingga
di dalam tumpukan kenangan sosok kakek berjubah putih
aku mengenalnya. Ya, dia adalah Hidir
yang mengajari Musa akan hakikat dan makrifat

batu nilam itu seperti senja
melihatku di ujung hari
tanpa banyak kata
hanya seulas senyum kakek

aku seakan melihatnya berlayar bersama seorang murid
melubangi perahu, merobohkan rumah, dan menghilangkan senyum anak kecil
jubahnya sama persis dengan kakek itu

Kakek berjubah putih,
semoga Tuhan mempertemukan kita
Amin.

2025

Hari Terakhir Bersamamu

dua puluh tahun sudah mengabdi
menggores tinta sepanjang kalender
mencium semua wewangian di empat penjuru
aku menganga.

kau mungkin akan bertanya
mengapa kau tinggalkan dia yang sudah membesarkanmu?
Tidak. Aku tidak meninggalkannya
mungkin kau akan menjawab, “Dia Sang waktu”.

ah, terkadang kau harus pergi juga
tanpa jemputan atau ucapan terima kasih
dan jangan berharap ucapan “Selamat tinggal”.

kau hanya ingin pergi saja, kan?
terbang ke dunia luas
berenang di laut lepas
kau ikan di laut yang dalam
ini hanya danau, apakah kau lupa?
sepuluh tahun banyak yang telah kau lewatkan

kembalilah berenang di lautan
menantang ombak, bergelut dengan badai
kau ikan di laut, sadarlah…
cukuplah dua puluh tahun
membuatmu jadi tawar
kembalilah jadi asin di hari terakhir ini.

2025

Homeostasis

duduk bersimpuh di hadapan wajahmu
menggetarkan gelombang cinta: harapan

konsep ruang itu abstrak
ranah hati yang tampak
konversikan dosaku dalam noda
nirwana telah jauh: mati

keseimbangan adalah motif yang jauh

Taman Sari, 2025

Kesan Mendalam

doa yang tidak henti
deras masuk ke setiap aliran darah
ada ataupun tiada dirimu
aku tetap mendoakanmu

sadar dari mimpi yang tak pasti
kenangan
menjadi kesan

2025

Malam Yang Malam

adalah malam yang menunjuk cahaya gemintang
sempurna: bulan tidak malu menerang
awan telah menggantungkan baju gemelapnya
suasana seindah kota firdausNya

adalah aku yang menjadi: indah
berpacu dengan teori dan analisis:
mencahaya bisu; gagu; dan tuli

engkau adalah ironi malam:
kadang menyenangkan atau menyakitkan
metafora yang menyejukkan juga memanaskan

aku adalah malam yang malammu
kamu adalah malam yang malamku

kita berdua melebur menjadi malam:
malam yang selalu malam

Bandung, Januari 2025

Putri Malam

I
jika itu yang pernah kau pakai dalam diammu:
lanjutkanlah!
hidup terlalu singkat untuk kau tinggalkan
aku adalah penggemar malam-malammu
seperti juga ketika kita hendak bercumbu
di bawah rintikan hujan dan hembusan angin malam
saat lampu lalu lintas berwarna merah

II
hujan telah terlanjur turun
tidak ada kemungkinan akan reda
sementara perjalanan harus tetap berlangsung
apapun yang terjadi

jangan pernah menyerah!
aku adalah penjaga malam-malammu yang kelam

2025

Biodata Penulis

Heri Isnaini lahir di Subang, Jawa Barat, pada tanggal 17 Juni. Heri sangat menyukai puisi-puisi Sapardi Djoko Damono. Pernah mengikuti acara “Temu Penyair Asia Tenggara 2018” di Padang Panjang, Sumatera Barat, mengikuti Festival Seni Multatuli 6-9 September 2018 di Rangkasbitung, Lebak, Banten. Puisi-puisinya juga pernah dimuat pada Jurnal Aksara, Deakin University, Australia.

Antologi puisinya, Ritus Hujan (2016); Singlar Rajah Asihan: Kumpulan Sajak (2018); Ah, Mungkin Kau Lupa Aku Begitu Merindumu (2019); Manunggaling Kawula Gusti: Kumpulan Sajak (2020); Montase: Sepilihan Sajak (2022). Cerpennya pernah dimuat pada koran Radar Banyuwangi, Radar Kediri, dan Harian Rakyat Sultra. Beberapa media daring di Indonesia seperti Radar Utara, Restorasi News Siber Indonesia, Tebu Ireng Online, Bali Politika, Berita Jabar News, Sip Publishing juga pernah memuat karya-karyanya.

Kegiatan sehari-hari Heri adalah Dosen Sastra IKIP Siliwangi Kota Cimahi. Selain itu, Heri juga banyak beraktivitas sebagai editor dan reviewer di berbagai jurnal ilmiah di dalam dan luar negeri.*

Catatan : Tulisan ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis

(Info: himpun.id menerima kontribusi tulisan dengan berbagai tema. Rubrik tulisan yang dapat di kirim yakni Opini, Resensi, Cerpen, Puisi, Tips, Edukasi, Khazanah, dan lain sebagainya, selagi bermanfaat)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Puisi

Puisi Dinda untuk Yunda Spesial Moment Ulang Tahun…

Puisi

Dia, tak dapat dicerna oleh akal. Semakin kumengenalnya,…

Puisi

Dibalik ruas jari jemari mengunci, tertukilkan risalah. Terpahat…