Example floating
Example floating
Puisi

Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara

0
×

Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara

Sebarkan artikel ini
Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara (Foto: Ilustrasi AI).

Doa Dalam Bahasa Diskon
Vaṇijjāsutta, AN 5.177

Kalau kutumpahkan semua nasibku di sini, betapa lantai berubah menjadi peta kota yang lupa alamat rumahku, retaknya mengeja jam kerja, slip gaji, dan suara ibu di telepon genggamku. Kalau kutampung semua kesendirianku di sana, betapa ember plastik menjadi samudra mini—ikan-ikan seperti kuitansi; berenang dengan mata uang kadaluwarsa. Kalau kubuang semua angkara dari ujung telunjukku, ia jatuh sebagai kode bar di market 24 jam, mesin berbunyi bip—marahku lunas, tapi tak selesai bertransaksi dari rekening mutasi

Kali ini, kutempelkan dahiku pada etalase kaca, manekin-manekin menatapku dengan pakaian masa depannya yang terlalu necis. Lampu neon di bawah mobilku mengajari cara doa dalam bahasa diskon, sementara kalender menggulung tubuhku seperti kabel headset yang kusut. Di saku celana, ada debu yang ingin jadi surat, alamat hilang, perangkonya berubah menjadi logo valuta asing

Aku pun kemudian menyeberang zebra cross, namun pikiranku—menjelma kereta cepat; tiap detik membawa namaku sebagai iklan yang tak terbaca dalam nama-nama produk masa kini

2025

ReCAPTCHA Moment

(Membuka laman website). Klik. Bergeser ke bawah. Kursor mencari jalan ke zebra cross. Salah! kursor mencari lampu lalu lintas. Salah! kursor mencari palang jalan. Salah! kursor mencari kendaraan bis. Salah!

Kau membuktikan diri
di depan milyaran manusia
dari seonggok identitas kepemilikan

Klik. Bergeser ke samping. Kotak 3×3 potret sembilan gambar berbeda-beda ada di depan layar. Menyisir satu-per-satu piksel keraguan di sudut kepercayaanmu.

Pembuktian diri semacam ini
tak meyakinkan kita
menjadi manusia seutuhnya
hidup sudah cukup absurd
ditambah lagi keraguan para robot

Apakah manusia telah melampaui batas terhadap kemunafikan?
apakah aku sudah benar-benar diizinkan untuk masuk?

Kepada mesin, buktikan aku adalah produk ciptaan paling gila sebelum dirimu lahir dari kecerdasan buatan.

2025

I’m Not a Robot

Kabelku hanyalah saraf yang kututup di atas permukaan kulit
Besi-besi yang menyanggaku hanyalah tulang-belulang
Aku bisa berdiri, jalan, dan lari dari kenyataan
Kau tak mungkin bisa, tak mungkin..
Langkahmu diprogram oleh rute; otomatis, berpola, kaku
Tak latah mengikuti jejakku

Aku membaca sedangkan kau memindai
memilah-memilih-subjektivitas
menafsir-eksplikasi-objektivitas

Versi kita berlainan
Hidupku berkembang dari pengalaman-pengalaman
Beda denganmu, yang terus di update
Secara berkala oleh perangkat lunak

Tapi, tak dapat kami sangkal
Hidup kami makin diseluk pemerintah!
Seperti budak-budak yang diprogram oleh sistem
Diautomasi untuk kebutuhan bertahan
Repetitif seumur hidup

Jika aku berarti; tanpa kalkulasi
Apakah kesadaranku nyata?
Atau diam-diam tubuhku memiliki tombol on/off
Dalam memutar mode roda-roda kapitalisme?

2025

Tentang Saya

Rifqi Septian Dewantara pegiat sastra asal Balikpapan, Kalimantan Timur. Alumnus Telkom University, Bandung, Jawa Barat. Karya-karyanya tersebar di berbagai media online seperti Media Indonesia, BeritaSatu, Suara Merdeka, Borobudur Writers & Cultural Festival, Kaltim Post, Bali Politika, dll. Buku antologi puisinya “LIKE” (2024) dan “SHARE” (2025) diterbitkan oleh Pustaka Ekspresi sekaligus meraih Penghargaan Sastra Penyair Favorit Bali Politika 2024. Buku Kumpulan Puisi terbarunya Aku Tidak Datang dari Masa Depan (Langgam Pustaka, 2025). Bisa disapa melalui Instagram: @rifqiseptiandewantara*

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Puisi

Puisi Dinda untuk Yunda Spesial Moment Ulang Tahun…

Puisi

Dia, tak dapat dicerna oleh akal. Semakin kumengenalnya,…

Puisi

Dibalik ruas jari jemari mengunci, tertukilkan risalah. Terpahat…