Penulis Puisi: Jhojo Rumampuk (Selasa 19 Agustus 2025)
Merdeka, katamu,
delapan puluh tahun bendera itu berkibar,
tapi di jalan-jalan yang retak,
aku merasa seperti orang asing di tanah yang kusebut rumah.
Aku jadi turis di negeri sendiri,
membayar tiket untuk masuk hutan yang dulu nenekku jaga,
membeli air dari mata air yang pernah jadi hak bersama,
dan menyewa pantai yang katanya milik rakyat.
Inikah merdeka?
Ketika sawah berubah jadi tambang,
gunung digunduli demi investasi,
dan laut dijual dengan izin resmi?
Sedang rakyat kecil,
duduk di tepi jalan,
menatap negeri yang makin jauh dari genggamannya.
Aku melangkah di kota,
gedung-gedung menjulang seakan mengejek,
jalan tol panjang, tapi harga pangan mencekik,
sementara para pemimpin sibuk menghitung dividen.
Merdeka?
Ya, mungkin hanya di buku sejarah.
Sebab hari ini,
kita hanya turis yang tersesat,
di negeri yang katanya merdeka,
tapi tak lagi milik kita sepenuhnya.*














