Example floating
Example floating
CerpenSASTRA

Skema Langit, Bagian 7: Piring Kosong dan Dinding Bambu yang Menangis Setelah Ayah Igo Wafat

0
×

Skema Langit, Bagian 7: Piring Kosong dan Dinding Bambu yang Menangis Setelah Ayah Igo Wafat

Sebarkan artikel ini

HIMPUN.ID – Rabu 8 Januari 2003 bukan hanya menjadi saksi bisu kepergian sang Ayah, tetapi juga menjadi gerbang menuju labirin penderitaan yang seakan tak berujung.

Di rumah itu, keheningan bukan lagi tanda kedamaian, melainkan tanda dari perut yang melilit dan harapan yang kian menipis.

Meja makan adalah saksi bisu kemiskinan yang paling jujur. Igo, dengan pundak kecilnya yang kian legam oleh matahari pasar, hanya mampu membawa pulang satu liter beras. Satu liter untuk enam nyawa.

Ibu, dengan tangan yang gemetar karena lapar dan duka, mengolah beras itu menjadi bubur yang cair, bukan karena selera, tapi agar setiap piring anak-anaknya terisi meski hanya dengan “air” nasi.

Bertahun-tahun, lidah mereka hanya akrab dengan rasa asin garam atau pedasnya sisa rica (cabai).

Ikan adalah kemewahan yang datang seperti tamu jauh, hanya sekali atau dua kali dalam sebulan. Di sisa hari lainnya, mereka mengunyah kesabaran dalam setiap suapan nasi putih tanpa lauk.

Pitate yang Rapuh dan Kerinduan yang Menyayat

Rumah mereka tidak lagi menjadi pelindung. Dinding bambu yang disebut pitate itu sudah lapuk, miring, dan seolah ingin roboh, mewakili pertahanan keluarga yang kian rapuh tanpa sosok lelaki dewasa.

Di sela-sela lubang bambu itu, angin malam masuk menusuk tulang, membawa aroma tanah makam yang masih basah dalam ingatan Ibu.

Setiap malam, rumah itu tidak pernah benar-benar tidur. Dalam kegelapan, terdengar isak yang tertahan. Ibu selalu terbangun dalam igauan yang pedih.

“Eyi… Eyi…” (Suamiku… Suamiku…)

Suara itu pecah bersama air mata yang membasahi bantal kusamnya. Ibu mendapati dirinya sendiri dalam mimpi, namun mendapati ketiadaan saat terbangun.

Ia menangisi nasib anak-anaknya yang harus tumbuh dalam bayang-bayang kelaparan, tanpa pelindung yang dulu selalu menjamin mereka aman.

Pengorbanan Sang Pahlawan Kecil

Di tengah badai itu, Igo berdiri dengan kedewasaan yang melampaui usianya. Suatu sore, melihat mata ibunya yang sembab dan punggung kakak-kakaknya yang letih, Igo berbisik dengan suara serak yang sanggup merobek hati siapa pun yang mendengar:

“Mama… biar nanti Ti Nunu yang tidak usah sekolah. Biar Ti Nunu yang mencari uang di pasar setiap hari. Yang penting Ti Tata dan Ade tetap sekolah.”

Kalimat itu bukan sekadar kata-kata, tapi penyerahan diri seorang anak berusia sebelas tahun yang rela membunuh cita-citanya demi kelangsungan hidup saudara-saudaranya.

Namun, Ibu, dengan sisa kekuatan yang ia miliki, memeluk Igo erat. Di antara tangisnya, ia menolak. Baginya, pendidikan anak-anaknya adalah satu-satunya “jembatan” untuk keluar dari neraka kemiskinan ini.

Cahaya di Balik Lumpur

Maka, dimulailah perjuangan yang mustahil itu. Dengan kaki yang bengkak dan perut yang seringkali hanya berisi air putih, mereka terus melangkah. Keajaiban dari ketulusan mulai menampakkan tunasnya.

Igo berhasil menyelesaikan SD dan melangkah ke SMP dengan harga diri yang tegak meski berbaju kusam. Kakak sulungnya, dengan segala keterbatasan, akhirnya meraih gelar Pendidikan Islam, sebuah kemenangan besar di atas piring-piring bubur mereka. Saudari keduanya lulus Madrasah Aliyah, dan saudari ketiganya berhasil masuk SMK.

Di bawah langit Skema Langit yang masih terasa perih, mereka membuktikan bahwa meski dinding bambu mereka roboh, meski ikan adalah mimpi yang jarang menjadi nyata, impian mereka tidak akan pernah bisa diruntuhkan oleh kemiskinan sehebat apa pun.*

Penulis: Usman Anapia

Baca juga: Baca juga Skema Langit, Bagian 1: Menabur Harapan di Tanah Kering

Baca juga Skema Langit, Bagian 2: Mengapa Ayah Memilih Lapar?

Skema Langit, Bagian 3: Langkah Kaki Ibu, Jantung Ayah yang Tetap Berdetak

Skema Langit, Bagian 4: Air Mata Ibu yang Jatuh ke Lumpur Sawah

Skema Langit, Bagian 5: Cinta Sejati Ibu dan Ayah Igo

Skema Langit, Bagian 6: Wafatnya Ayah Igo, Obat Balaicai yang Terlambat dan Mendapati Ketiadaan

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Cerpen

Oleh: Yulputra Noprizal Di kedai Supiak, Nagari (Desa)…